Biofarmasi, Salah Satu Jembatan Profesi Dokter dan Apoteker

June 7, 2009

Pada umumnya obat diberikan dalam bentuk sediaan seperti tablet, kapsul , suspensi dan lain-lain. Suatu bentuk sediaan obat terdiri dari bahan obat dan bahan-bahan pembantu yang tersusun dalam formula dan diikuti dengan petunjuk cara proses pembuatan. Kita mengetahui bahwa sangat banyak sediaan farmasi dengan obat, dosis dan bentuk sediaan yang sama, diproduksi oleh industri-industri farmasi dengan nama-nama yang berbeda.

Dengan berbagai alasan dari industri-industri, maka umumnya formula sediaan tersebut berbeda. Apakah perbedaan formula suatu sediaan obat dapat mempengaruhi kemanjuran obat dari sediaan tersebut?.

Pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an
bermunculan laporan, publikasi dan diskusi yang mengemukakan bahwa banyak obat-obat dengan kandungan, dosis dan bentuk sediaan yang sama dan dikeluarkan oleh industri farmasi yang berbeda memberikan
kemanjuran yang berbeda. Laporan-laporan dan publikasi-publikasi tersebut menyebabkan munculnya ilmu baru dalam bidang farmasi yaitu biofarmasi.

Riegelman, John Wagner dan Geihard Levy dikenal sebagai pelopor biofarmasi. Pada tahun 1961 dalam suatu artikel review di Journal of Pharmaceutical Sciences dikemukakan definisi biofarmasi sebagai berikut: “Biofarmasi adalah cabang ilmu farmasi yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisiko kimia dari bahan baku obat dan bentuk
sediaan dengan efek terapi sesudah pemberian obat tersebut kepada pasien”.
Perbedaan sifat fisiko kimia dari sediaan ditentukan oleh bentuk sediaan, formula dan cara pembuatan, sedangkan perbedaan sifat fisiko kimia bahan baku obat dapat berasal dari bentuk bahan baku (ester, garam, kompleks atau polimorfisme), dan ukuran partikel.

Menyadari akan perkembangan biofarmasi ini maka American College of Pharmacy Assosiation pada tahun 1968 memutuskan bahwa semua College/School of Pharmacy yang terakreditasi di Amerika harus mengadakan kuliah biofarmasi dan farmakokinetika dalam kurikulumnya.
Selanjutnya perkembangan ilmu biofarmasi, melihat bentuk
sediaan sebagai suatu “drug delivery system” yang menyangkut pelepasan obat berkhasiat dari sediaannya, absorpsi dari obat berkhasiat yang sudah dilepaskan, distribusi obat yang sudah diabsorpsi oleh cairan tubuh,
metabolisme obat dalam tubuh serta eliminasi obat dari tubuh. Proses yang disebutkan di atas dapat dilihat dari skema pemberian obat secara oral (misal tablet) berikut ini:

Kecepatan pelepasan obat dipengaruhi oleh bentuk sediaan, formula dan cara pembuatan sehingga bisa terjadi sebagian obat dilepas di saluran cerna dan sebagian lagi masih belum dilepas sehingga belum sempat diabsorpsi sudah keluar dari saluran cerna. Malah sekarang ini pelepasan obat dari sediaan bisa diatur atau dikontrol sehingga absorpsi bisa terjadi lama di saluran cerna, maka timbulah sediaan farmasi yang semula dipakai tiga kali sehari menjadi satu kali sehari. Umumnya obat yang sudah terlarut dalam cairan saluran cerna bisa diabsorpsi oleh dinding saluran cerna, tetapi di lain pihak obat yang sudah terlarut itu bisa terurai tergantung dari sifatnya, sehingga sudah berkurang obat yang diabsorpsi. Menyadari kenyataan ini maka munculah produk sediaan yang melalui kulit untuk tujuan pemakaian sistemik seperti untuk obat jantung, hormon, obat antimabuk, dan lain-lain. Tidak mungkin menempelkan obat di kulit berbulan-bulan,
apalagi bertahun-tahun, sehingga muncullah obat diimplantasi di bawah kulit seperti obat untuk keluarga berencana yang bisa bertahan sampai tiga tahun.

Sesudah obat didistribusikan dalam tubuh maka
konsentrasinya akan ditentukan oleh parameter farmakokinetikanya.Walaupun kita kontrol atau perlambat pelepasannya dari sediaan tetapi
kalau tidak memperhatikan parameter farmakokinetikanya bisa terjadi kadar obat di bawah MEC sehingga tidak memberikan kemanjuran. Biofarmasi dan farmakokinetika menjadi dasar utama dalam pekerjaan pengembangan
produk baru.

Suatu produk baru yang akan dikeluarkan oleh suatu industri haruslah diyakini kemanjurannya, sehingga perlu dilakukan uji kemanjuran. Ada beberapa uji produk yang dianggap memberikan gambaran terhadap kemanjuran sediaan tersebut yaitu uji secara in vitro, in situ dan in vivo
seperti ditunjukkan oleh bagan berikut ini:

Compendia seperti Farmakope hanya mensyaratkan uji in vitro terhadap produk obat seperti waktu hancur dan atau uji kecepatan disolusi obat dari sediaan untuk tablet/kapsul. Test in vitro ini tidak memberikan
jaminan terhadap kemanjuran produk tersebut. Uji farmakokinetika yang betul-betul memberikan jaminan. Tetapi untuk melakukan uji farmakokinetika suatu produk baru dari obat lama adalah terlalu lama, terlalu mahal dan hasilnya masih diperdebatkan. Cara yang terbaik adalah
melakukan uji bioavailabilitas yang merupakan ukuran kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi oleh tubuh. Uji bioavailabilitas ini haruslah uji bioavailabilitas komparatif terhadap produk innovator, yaitu suatu produk
yang sudah lama digunakan dan mendapat pengakuan pengalaman klinis dari para dokter.

FDA dari Amerika Serikat pada tahun 1975 telah menetapkan bahwa jika ada pabrik yang membuat sediaan yang telah dikeluarkan pertama oleh pabrik lain, maka pabrik yang ikut itu harus menunjukkan minimum sediaannya bioekivalen dengan produk inovatornya.

Fakultas kedokteran memperkenalkan Farmakokinetika lewat kuliah Farmakologi, sedang Biofarmasi belum dianjurkan. Hal ini teramati di industri-industri farmasi, yaitu produk-produk manager yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter, mereka mengakui tidak mengetahui tentang Biofarmasi. Sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan, kalau seorang dokter sudah memeriksa
penyakit seseorang dan menentukan obat berkhasiatnya, Siapa yang tepat untuk memilih produk obat mana yang akan dipakai? Sesuai aturan dan etik, resep dokter adalah
suatu permintaan dokter kepada farmasis untuk memberikan obat yang ditulis dalam resep.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik
Indonesia telah mensyaratkan data bioavailabilitas untuk obat baru yang akan dibuat oleh suatu pabrik farmasi terutama untuk obat jantung. Bioavailabilitas merupakan salah satu bahasan penting dalam bidang biofarmasi. BPOM
akan melaksanakan persyaratan bioavailabilitas ini secara bertahap karena terbatasnya laboratorium uji bioavailabilitas di Indonesia. Usaha BPOM ke arah kesempurnaan perlu didukung, karena pabrik Farmasi di Indonesia umumnya mengeluarkan “me too” produk (produk ikut-ikutan).

(disarikan dari makalah pidato purna tugas Prof.Dr. Fauzi Sjuib, Apt, Guru Besar Farmasi ITB)


Etika Obat Syrup Tanpa Label????

April 7, 2009

Beberapa waktu lalu, pas giliran jaga apotek saya kedatangan konsumen ingin membeli obat masuk angin. Seperti biasanya, saya tidak langsung mengambilkan obat yang konsumen inginkan –karena sang konsumen tidak menyebutkan merk obat tertentu–, saya bertanya dulu kepada konsumen tentang keluhan yang sedang dialami.

Kebetulan yang sedang menderita sakit adalah putri sang bapak –konsumen tersebut–, berumur 9 tahun. Sambil mendengarkan sang bapak bercerita, analisis saya mengarah bahwa putrinya tidak sedang mengalami masuk angin biasa.

Sang bapak bercerita, bahwa putrinya sudah mengalami keluhan tersebut –mual, BAB-nya agak encer, sedikit demam dengan interval waktu agak beraturan– selama lebih dari 2 hari. Sang bapak juga bercerita bahwa putrinya sudah dibawa ke praktek dokter terdekat (tentunya dispensing), dan sudah diberi obat, tapi selama 2 hari tersebut keluhannya belum hilang.

Saya bertanya kepada sang bapak, kira2 rumahnya jauh nggak dari apotek…beliau menjawab dekat kok…saya melanjutkan pertanyaan kepada sang bapak…kalo bapak tidak keberatan, boleh nggak saya tahu obat yang sudah diberikan oleh dokter…alhamdulillah sang bapak tidak keberatan.

Saya menanyakan obat yang sudah diberikan oleh dokter maksudnya adalah supaya tidak terjadi duplikasi obat dan bisa menentukan kira2 selanjutnya obat yang dapat diberikan kepada putri berusia 9 tahun tersebut tepat.

Tidak lama kemudian, sang bapak kembali ke apotek sambil membawa 2 botol syrup yang sudah tidak ada identitasnya, yang ada hanya label praktek dokter yang bersangkutan.

Akhirnya, saya hanya bisa mengidentifikasi dan berasumsi nama obat tersebut berdasarkan organoleptis aja…terus dikaitkan dengan keluhan dari konsumen. Kemudian saya putuskan nama obat yang bisa dibeli oleh sang bapak…tentunya saya berikan alternatif pilihan kepada sang bapak untuk memilih…Alhamdulillah, terjadi kesepakatan transaksi.

Yang menjadi pertanyaan besar saya adalah…sudah adakah aturan yang mengatur tentang pelepasan label resmi dari pabrik pembuat yang menempel pada botol syrup. Sebenarnya sudah sering saya menemukan kasus seperti ini di apotek saya…????

Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat tentang kesehatan, kalo profesi kesehatan malah menyembunyikan jati diri obat yang akan diberikan kepada pasien/konsumen…?????


Direktur UKM Center FEUI: Saatnya UKM Jangan Menjadi ‘Warga Kelas Dua’

March 17, 2009

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kini masih dianggap sebagai ‘warga kelas dua’. Dianggap kurang bergengsi dan masih dipandang sebelah mata oleh perbankan. Padahal di tangah UKM inilah perekonomian Indonesia bisa tahan banting menghadapi krisis.

Bagaimana sebenarnya perkembangan UKM di Indonesia dan prospeknya ke depan? Apa saja yang harus dilakukan oleh para pengusaha UKM?

Berikut wawancara detikFinance dengan Nining Soesilo, Direktur UKM Center FEUI di kediamannya, kawasan Panglima Polim, Jakarta, Senin (16/3/2009). Nining merupakan kakak dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang kini menjadi salah satu kandidat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Bisa ceritakan sedikit soal UKM Center FEUI?

UKM center UI ini umurnya paling muda di FEUI, yang paling tua kan LPEM. LPEM berdiri 1953 didirikan pak Soemitro Djojohadikusumo. Itu tempat berkumpulnya dosen-dosen ilmu ekonomi. Yang nomor dua tertua itu lembaga manajemen, kemudian nomor tiga lembaga demografi. UKM Center yang paling muda usianya baru 4 tahun, baru berdiri 2005.

Atas usulan siapa?

Dari usulan dekan. Sejarahnya UI kan fakultasnya duluan sebelum universitasnya. Dulu pertama kan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi, kalau Fakultas Teknik-nya kan di Bandung sekarang sudah jadi ITB, Fakultas Pertanian jadi IPB. Kemudian UI menjadi universitas, sejarah ini cukup membebani karena ada kesan multi fakultas bukan universitas.

Makanya dalam pemilihan dekan ini rektor kelihatannya ingin ada kesan universitas bukan multifakultas. Ini pasti ada gesekan karena mengubah sejarah yang sekian lama. Ini juga yang bikin pemilihan dekan agak berbeda. Sekarang jadi ada pasang iklan supaya dari luar ada yang mendaftar tidak hanya dari dalam FEUI saja. Mungkin Rektor pengen FEUI lebih transparan. Hari ini kandidat masukan formulir, nanti jumat ada prakualifikasi dan sabtu ada presentasi

Sudah ditentukan berapa calon?

Hari ini yang masuk 8 orang. Nanti akan dipilih 3 terbaik. Dipilih oleh 11 orang, terdiri dari 9 internal FEUI.

Ada perubahan yang diharapkan di FEUI?

Ya tentu saja, salah satunya mengenai kewirausahaan. Kalau kita lihat, selama ini kewirausahaan di FEUI kebanyakan teorinya dan dianggap sebegai residual. Tidak dianggap dari awal hanya menjadi faktor pengikut. Itu cara pandang di jurusan ekonomi. Karena banyak orang bilang kalau mau jadi pengusaha tidak usah sekolah juga bisa. Padahal negara kita mengalami kendala karena struktur usahanya enggak bagus. Apalagi di saat krisis, banyak orang PHK. Sudah bisa menjadi solusi kalau penduduk Indonesia bisa berwirausaha.

Tugas pemerintah sudah berat untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Seharusnya seperti di negara maju, peran Pemerintah tidak besar, komponen investasi swasta yang lebih banyak. Kalau di Indonesia komponen perekonomian nasional itu 60 persen dari konsumsi, bukan suatu tanda yang baik.

Seharusnya wirausaha yang tinggi?

Ya karena itu kan konsumsinya itu pasti akan tergerus komponen investasi yang tinggi, dan investasi yang tinggi itu digerakan oleh kewirausahaan. Kan biasanya rumus pertumbuhan ekonomi dari konsumsi ditambahin investasi ditambah pengeluaran pemerintah ditambah ekspor dikurangi impor. Memang negara kita senangnya mengkonsumsi, kurang mau berusaha. Karena capek dan repot. Kita enggak suka sebagai supplier tapi lebih sebagai intermediatornya karena cepat dan gampang. Kita memang bukan negara produsen.

Kalau emang mau nyalahin penjajah, dulu orang pribumi dipetakan jadi dua yaitu pegawai negeri dan petani. Sebagai penggerak ekonomi disimpan bangsa Tionghoa, karena memang mereka lebih pintar disitu. Jadi kalau orang Indonesia masuk ke dalam lingkaran orang Tionghoa itu merasa enggak nyaman, ibaratnya kolam dia akan akan merasa asing karena bukan di dalam kolamnya. Itu masih dianggap kelas dua oleh bangsa kita. Kita baru bisa bangga jika sudah bekerja di orang lain. Ini diharapkan bisa berubah dari bangsa kita, kalau tidak sekarang kapan lagi. Makanya kami di UKM center melakukan bedah UKM setiap bulan dan beberapa lomba UKM.

Bagaimana kondisi UKM saat ini di Indonesia?

UKM itu yang bertahan yang memasok kebutuhan primer, yaitu makanan, minuman dan pakaian. Consumer goods. Kedua, dia yang tidak terlalu terekspose dalam kegiatan international. UKM kan lokalitasnya tinggi, jadi sebetulnya tidak terlalu terpengaruh krisis. Dari krisis tahun lalu pun tidak terlalu terpengaruh. Dia bakal terpengaruh kalau memiliki komponen impor yang cukup tinggi, misalnya tahu dan tempe kan komponen kedelainya masih impor. Dia bisa bertahan kalau banyak menggunakan komponen lokal.

Jadi yang bisa bertahan contohnya UKM sektor mana?

Yang pasti yang lokalitasnya tinggi. Sektor industri kreatif, sangat menjanjikan. Potensinya sangat luar biasa karena orang Indonesia tergolong kreatif. Cuma masih main di perencanaan dan ide, begitu masuk ke detail kita masih harus banyak belajar karena kan memang kewirausahaan itu menuntut sesuatu yang terus-menerus. Kita masih banyak manja di saat terjungkal tidak mau bangkit kembali. Padahal itu bisa membuat makin pintar.

Sektor UKM yang rentan terhadap krisis?

Selain tahu dan tempe tadi mungkin yang menggunakan bahan dasar terigu, seperti roti, karena terigu masih impor dan harga gandum sangat terpengaruh nilai tukar. Ada yang mulai beralih menggunakan tepung singkong pengganti terigu, salah satunya yang ikut lomba kami. Memang rasanya enak sekali, tapi dia tidak bisa bermain di skala yang lebih besar, karena komponen lain seperti mentega dan coklat masih impor juga. Kalau ada alternatif mungkin minyak kelapa atau minyak bunga matahari untuk mengganti mentega dia bisa menghemat. Saat ini saat yang paling baik untuk kita mencintai produk kita sendiri. Jangan terlalu melihat semua yang dari luar itu lebih bagus.

Tapi di Indonesia rata-rata pola pikirnya seperti itu?

Ya itu karena kita mental dijajahnya masih ada. Belanda sudah enggak ada, tapi di hati kita, mental dijajah itu masih ada. Contohnya, bintang film Indonesia saja banyak yang berbau bule kalau mau dibilang cantik kan.

Apa yang harus dilakukan sektor UKM di tengah krisis seperti sekarang ini?

Kalau UKM harus mengembangkan dengan tekun apa yang ada di bumi Indonesia. Karena banyak negara lain mengalami guncangan karena resource-nya enggak banyak. Sebenarnya kita masih disayang sama Tuhan dengan banyaknya sumber daya alam, tanpa melakukan ekspor pun sebenarnya perdagangan domestik bisa tetap jalan. Kondisi negara kita secara finansial masih belum berkembang, kita juga beruntung disitu karena masih mengandalkan sektor riil. Dan UKM sebenarnya tidak perlu risau, karena PHK banyaknya di pabrik besar. Karena UKM sifatnya kecil jadi bisa bertahan. Yang menarik di negara kita, UKM masih mengandalkan bank untuk pinjaman modal.

Tapi kalau tidak ada bank, suntikannya darimana?

Di negara kita ini masih belum begitu mengenal dengan konsep modal ventura. Ini kan bukan UKM meminjam, tapi dapat dari sebuah lembaga ventura yang seperti memiliki modal di UKM itu atau kepemilikan saham. Jadi mereka tumbuh bersama. Seperti Starbucks kan itu UKM dari Venture Capital, Microsoft juga meminjam uang bukan dari bank. Nah di Indonesia memang ada lembaga ventura tapi prakteknya masih seperti bank memberi pinjaman bukan penyertaan modal.

Itu dirasa lebih menguntungkan UKM?

Iya, karena selain berbagi hasil juga berbagi risiko. Tapi memang orang yang akan menyertakan modal pasti pilih-pilih. Kira-kira UKM ini akan mati atau hidup terus. Memang dibutuhkan monitoring yang ketat dan transparansi. Kembali ke kejujuran UKM tersebut dan harus ada penempatan orang ventura di dalamnya. Tapi juga lembaga ventura di Indonesia itu kekurangan orang karena saking banyaknya UKM yang diurus.

Kebijakan pemerintah untuk sektor UKM saat ini bagaimana?

Kami sedang melakukan penelitian untuk KUR, mungkin tanggal 9 April sudah ada kesimpulannya. Kesimpulan sementaranya, KUR ini konsepnya kredit dengan penjaminan. Ini berbeda dengan kredit usaha tani yang dulu. Kredit dengan penjaminan ini dinilai lebih baik secara konsep karena dibarengi oleh kehati-hatian bank. Kalau KUR kan keputusan di bank, kalau kredit usaha tani di kementerian, jadi ada moral hazzard. Kalau bank kan lebih hati-hati, secara konsep sudah bagus.

Dalam pelaksanaannya kan dilibatkan enam bank, BRI, Mandiri, Mandiri Syariah, Bukopin, BNI dan BTN. Nah, dari enam itu yang memiliki armada terdepan dengan UKM hanya BRI. Disitulah kita melihat ada kendala, karena bank lain selain BRI ini kekurangan orang atau human resources di sektor UMK. Memang dana pihak ketiga besar, dan dipaksa pemerintah untuk menyalurkan ke UKM. Budaya lima bank itu juga belum terlalu kuat di retail, terutama Mandiri yang kuat di korporat. Ini kasihan juga ke UKM-nya, karena bank itu pasti menyalurkan lewat usaha kredit mikro seperti koperasi. Dengan begitu suku bunganya jadi lebih tinggi. Jadi rantai kegiatannya cukup panjang.

Juga undang-undang UKM yang baru keluar kemarin itu belum jelas. Sampai hari ini derivasi dari undang-undang itu belum ada karena belum bisa, peraturan pemerintahnya belum ada. Antara UU yang lama dan yang baru berbeda jauh sekali, mungkin karena memperhitungkan inflasi dan lain sebagainya sehingga komponen di UU No 5 sebelumnya itu tidak cocok dengan yang baru. Jadi ada kebingungan.

Kira-kira dalam 5 tahun ke depan UKM Indonesia akan seperti apa?

Saya kira akan lebih maju ya. Pertama, sekarang keberpihakan pemerintah kepada UKM melalui kebijakan-kebijakannya di kredit usaha seperti cluster satu dan cluster dua. Cluster satu kan bantuan langsung tunai itu ya, cluster dua itu pemerintah sudah mulai mengharapkan monitoring pemakaian dana. Diharapkan penyaluran dana ke UKM lebih transparan jadi yang dapat dana itu benar-benar UKM. Sudah banyak kebijakan pro UKM dari pemerintah, juga menumpukkan harapannya kepada UKM. CSR perusahaan juga itu sekarang banyak ke UKM.

Ada tips untuk yang mau memulai UKM?

Yang jelas dari para pemenang lomba kami dan pengalaman saya sendiri, tips-nya itu ya jalani saja. Jadi artinya ada sesuatu yang sifatnya just do it. Jalani, begitu jatuh bangkit lagi. Justru kalau orang kebanyakan teori malah justru takut duluan. Terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah enggak mulai melangkah.

Itu pertama, yang kedua adalah begitu kita terjun semakin dalam maka semakin banyak risiko. Dengan banyaknya risiko, pendidikan itu menjadi semakin perlu. Kalau kita lihat orang bisa sukses tanpa pendidikan berarti orang itu jenius dalm hal itu. Nah, orang jenius di dunia kan cuma beberapa, sisanya orang rata-rata. Orang rata-rata inilah yang memerlukan pendidikan. Bagaimanapun juga kita membutuhkan logika berpikir.

Kemudian, perlu juga komunitas untuk sharing. Saya menganjurkan sekali bagi mereka yang berwirausaha untuk membentuk komunitas, karena begini, kami sering menerima UKM yang kena musibah, apa itu ketipu lah atau bangkrut lah. Mereka itu sangat menderita sekali, ketika bertemu dengan kita jadi bisa sharing dan mengetahui letak kesalahannya. Komunitas ini bisa memberikan semacam advise kepadanya sehingga dia yang tadinya enggak kepikiran jadi bisa dilakukan. Dan dalam komunitas itu mereka bisa belajar dari mereka yang berhasil. Komunitas itu juga bisa berupa asosiasi sehingga menjadikan UKM lebih kuat. Selama ini ada beberapa UKM yang hancur, seperti baru bisa ekspor lalu ditipu negara lain, itu bisa ditanggulangi dengan adanya asosiasi. Asosiasi juga bisa berkomunikasi dengan Departemen Perdagangan, atau bahkan Departemen Luar Negeri supaya mendapat lebih banyak informasi.

Bisa ceritakan sedikit background pendidikan?

Saya tamat ITB tahun 1982, arsitektur. Masuknya tahun 1976. Tahun 1982 langsung masuk University of Iowa, kebetulan menikah dengan suami saya dia langsung sekolah ke Amerika jadi saya ikut. Beasiswanya saya dapat disana karena kebetulan nilai saya bagus di awal. Dulu saya ambil jurusan Urban Regional Planning. Disana saya punya anak pertama, di tengah jalan anak saya baru 1 tahun saya sudah hamil lagi, jadi saya pikir enggak bakal selesai cepat. Disitulah saya pindah major ke geografi, saya selesai tahun 1986.

Tahun berikutnya kembali ke Indonesia dan gabung dengan LPEM FEUI. Saya mulai mengajar di FEUI secara enggak sengaja. Saya kan bekerja sebagai peneliti disana dan penelitian saya dilirik oleh ketua jurusan sehingga akhirnya dipaksa untuk mengajar, padahal saya tidak punya background ekonomi. Lalu saya mulai belajar sendiri, baca buku dan segala macam, sampai akhirnya malah bikin buku sendiri. Bisa dibilang mulai aktif mengajar sekitar tahun 1994 sampai sekarang.

Mulai jadi Direktur UKM Center FEUI sejak kapan?

Sejak berdiri tahun 2005. Jabatan lain saya juga komisaris BPUI dari Desember tahun lalu. Kemudian saya juga jadi komisaris BPR Bakti Sejahtera, ini sejak tahun lalu tapi lebih awal. Saya juga wakil ketua di Pusat Inovasi UMKM. Saya juga aktif di Komite Nasional Pemberdayaan Usaha Mikro, dan Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan.(ang/qom)

disalin dari www.detikfinance.com


Polemik Puyer: Maju Terus RCTI

February 24, 2009

Beberapa waktu lalu ketika RCTI awal-awal menanyangkan liputan khususnya yang bertajuk POLEMIK PUYER, saya agak sedikit geregetan…karena dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber, belum sekalipun ditampilkan sosok apoteker sebagai salah satu profesi kesehatan yang katanya paling tahu tentang obat.
Tetapi, beberapa hari ini hati saya berubah menjadi simpatik dan malah sekarang punya harapan baru terhadap RCTI. Ya, beberapa hari ini POLEMIK PUYER mengarah kepada posisi dan peran Apoteker di apotek…saya mendukung sekali langkah RCTI ini.
Selama ini ISFI sebagai satu-satunya organisasi profesi apoteker di Indonesia sudah menyuarakan dan meng-harus-kan anggotanya (apoteker) untuk melakukan pelayanan kefarmasian yang tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP)…tapi pelaksanaannya????:)
Semoga dengan tayangan RCTI beberapa hari ini dan ke depan dapat menggugah hati para rekan sejawat apoteker dan juga pengambil kebiijakan terkait masalah pelayanan apoteker di apotek.
Semoga dengan tayangan RCTI ini juga dapat meluruskan duduk masalah pelayanan kesehatan di Indonesia yang terurai bagai benang kusut, yang ruwet dan sulit diluruskan…semua profesi kesehatan punya alibi pembenaran praktek profesinya, padahal UU sudah dibuat sedemikian rupa.
Mudah-mudahan dengan tayangan RCTI ini, segenap profsesi kesehatan menjadi terbuka dan berbenah diri…terutama hubungan dokter dan apoteker…sehingga dokter dan apoteker dapat benar-benar menjadi mitra yang sejajar dalam memberikan pelayanannya kepada pasien/konsumen.
Mudah-mudah dengan tayangan RCTI ini masyarakat semakin cerdas dan terbuka bahwa dalam urusan kesehatan melibatkan beberapa komponen terkait, tidak hanya dokter…sehingga masyarakat bisa semakin sadar bahwa ada profesi apoteker yang banyak mendalami tentang obat-obatan, juga ada perawat yang jago dalam merawat pasien, dan lain-lain.
Buat teman-teman apotekerku tercinta, ayo berbenah diri…


Nilai Akhir Kewirausahaan II

January 19, 2009

Berikut ini saya beri tahukan nilai akhir mata kuliah Kewirausahaan II. Semoga bermanfaat…

MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN II
DOSEN DHADHANG WAHYU KURNIAWAN
NO NIM NAMA Nilai
Akhir
1 O1A005001 TRIYADI HENDRA WIJAYA A
2 O1A005002 PUTRI PRASETYANING DWIWARDANI B
3 O1A005003 EVI DWI SUSANTI B
4 O1A005005 KUNTHI AYUNINGSIH DAMAYANTI B
5 O1A005007 NYOMAN ALIT SEDANA YOGA B
6 O1A005008 ALFIANI AZIZAH B
7 O1A005009 HASTRIANNA DWI SEPTIADE B
8 O1A005010 VERA FATMAWATI B
9 O1A005011 DIELLA ASSYANTI PRIMASARI B
10 O1A005012 TITI YULIANTI B
11 O1A005013 KURNIAWAN ADHI WIJAYA B
12 O1A005014 YENY KURNIA PRIHANDINI A
13 O1A005015 DYAH PAMUNGKAS JATI B
14 O1A005016 ROSA FONDARIZKI B
15 O1A005018 NUR MARIFAH AZZUMAR B
16 O1A005019 LEVANA RISMAYANTI B
17 O1A005020 RENDANI DEBBY KARLIANA B
18 O1A005021 PUSPITA PRATIWI B
19 O1A005022 DELLA RATNA LISTYARINI B
20 O1A005023 ERZA GENATRIKA A
21 O1A005024 SEPTIAN ADI WICAKSONO B
22 O1A005025 KUKUH RETNO PRABOWO B
23 O1A005026 YULIARFI DWI PUTRANTI A
24 O1A005027 NUNUNG KUSMAWATI A
25 O1A005029 MIRA PARADIGMA B
26 O1A005031 ANNISA SARASWATI B
27 O1A005032 GALIH PANDHUATMAJA B
28 O1A005033 WAHYU SETYO PRABOWO B
29 O1A005034 APRILLIA DWI NURKANCANA B
30 O1A005035 RIVKI MUSLIM B
31 O1A005036 DWI ENDAH PRATIWI B
32 O1A005037 NUR AMINAH FEBRIANI B
33 O1A005039 ENDAH WINARNI B
34 O1A005041 EKA AGUSTINA WIJAYANTI B
35 O1A005042 PUJI NEGARI SOPANDI A
36 O1A005043 DEWANTO B
37 O1A005045 AGNES MERASARI B
38 O1A005048 DIDIK SATRIADIN B
39 O1A005049 GUNATRI B
40 O1A005050 EKA PUSPITA B
41 O1A005051 PUTRI AGISTRIAN MURJANI A
42 O1A005052 YURIHANAMI B
43

O1A005054

EDAWATI LASMADITA B
44 O1A005055 DWI CAHYO KUSUMO A
45 O1A005056 WIDIANA TIARA PERMATASARI B
46 O1A005057 LILING FERRY KOSENDA B
47 O1A005058 TRI WAHYUNI ASIANI B
48 O1A005059 TELY YUNITA A
49 O1A005060 GARLINA WIDIYATI A
50 O1A005061 DEA INRIASARI B
51 O1A005062 OKTA ROSMALIATINI B
52 O1A005063 GALIH KURNIANTO B
53 O1A005064 FEBRIANA CORI DA VEGA B
54 O1A005065 YAN HERMANA B
55 O1A005067 MEGA HUSTANI NUR B
56 O1A005068 JAJA JAELANI B
57 O1A005070 IKE NUR FITRI ASTUTI B
58 O1A005071 YUNI ASTUTI B
59 O1A005072 PUTRI RAHMAWATI A
60 O1A005073 REZA PERDANA PUTRA B
61 O1A005074 ZAOZA FARADHILA AYU AKHSANTI B
62 O1A005075 SITI NURJANAH A
63 O1A005077 MUCH. SATJANI IKHSAN B
64 O1A005078 ANGGI OKTAVIYANTI AGUSTA B
65 O1A005079 GINA GUSINDRA PUTRI B
66 O1A005080 DIDI PERMANA B
67 O1A005081 ASFI HANI A
68 O1A005082 ZACKY KARNAIN B
69 O1A005083 DANY KURNIAWAN B
70 O1A005084 HENRY BUDIAWAN PRASETYA B
71 O1A005085 NUR HIDAYAH B
72 O1A005086 USWATUN HASANAH B
73 O1A005087 LUTFI AULIA B
74 O1A005088 FATMA NUR MUFIDA B
75 O1A005089 ROFI ANGGANI B
76 O1A005090 FIRDA ASTRILIA IKAPRIYANTI B
Keterangan:
Nilai A : > 80
Nilai B : 66,00 – 79,99
Nilai C : 56,00 – 65,99
Nilai D : 46,00 – 55,99
Nilai E < 46