July 19, 2008
Seorang teman datang ke Apotek. Dia mengeluh, punggung tangannya gatal, setelah dikasih obat kulitnya jadi menghitam dan gatalnya tidak hilang. Ketika saya tanya, dikasih obat apa? Ternyata obat yang dipakai adalah merk X, obat untuk penyakit jamur. Padahal ketika saya lihat, gatalnya itu bukan karena jamur tetapi radang atau lebih dikenal dengan istilah dermatitis. Kemudian saya sarankan untuk memakai krim yang isinya anti radang (betametason, hidrokortison, desoksimetason, dll). Setelah satu minggu berselang teman saya itu kembali ke Apotek, ternyata gatalnya berkurang dan berniat membeli lagi krim tersebut.
Penyakit gatal di kulit biasanya disebabkan beberapa hal, bisa karena jamur (panu, kadas, kurap, kutu air), bisa radang karena alergi, radang yang disertai infeksi, infeksi tunggal, ruam, dan masih banyak lagi. Penyakit yang saya sebutkan diatas tentunya berbeda-beda penanganannya.
Obat X yang digunakan untuk gatal karena jamur, tidak bisa digunakan untuk gatal yang disebabkan radang, malah kadang jadi memperparah kondisi. Dengan menggunakan obat yang tepat, gatal di kulit akan sembuh dan dana yang kita keluarkan bisa lebih ringan.
Saran saya, ketika anda akan memilih obat gatal, datang ke Apotek (tentunya yang Apotekernya stand-by J) atau ke dokter, kemudian ceritakan kondisi anda, nanti Apoteker atau Dokter akan menyarankan obat apa yang dipakai.
Salam,
4 Comments |
konsultasi obat |
Permalink
Posted by dhadhang
July 1, 2008
Melihat perilaku/pengetahuan masyarakat tentang obat-obatan sangat menarik dan kadang-kadang “menyedihkan”…terutama yang berkaitan dengan keberadaan Apoteker sebagai seseorang yang dianggap paling tahu tentang obat…sesuai apa yang dipelajarinya selama kuliah 5 tahun (sarjana + profesi)
Masih banyak masyarakat pengguna obat yang menggunakan obat berdasarkan sugesti dari info-info yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang mau mengkonsumsi obat dengan kemasan tertentu, beda kemasan tidak mau, padahal isi obatnya sama dan reputasi pabrik pembuatnya tidak jauh berbeda.
Sering kejadian di apotek, konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…:(
1 Comment |
Informasi Obat |
Permalink
Posted by dhadhang
July 1, 2008
Kalo melihat cashflow quadrant-nya Robert T. Kiyosaki, profesi farmasis merupakan salah satu profesi kesehatan yang dapat menempati ke-4 kuadran tersebut. Tapi, sayangnya kebanyakan dari farmasis tersebut masih banyak yang berada di kuadran kiri (employee & shelf employee).
Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah teori-teori selama kuliah sudah cukup untuk membekali farmasis/calon farmasis untuk berlomba-lomba melompat ke kuadran kanan?
Yang lebih ironi, apotek K-24 yang notabene sebagai apotek franchise pertama di Indonesia yang punya adalah seorang dokter…kemanakah farmasis-farmasis tersebut?
5 Comments |
Enterpreneurship |
Permalink
Posted by dhadhang