Farmasi Pedesaan XII Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) “Ars Praeparandi” ITB

August 21, 2008

Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) “Ars Praeparandi” ITB, untuk yang ke 12 kalinya menyelenggarakan kegiatan Farmasi Pedesaan, tanggal 6 – 13 Agustus 2008 di di Desa Sindangsari, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Kegiatan Farmasi Pedesaan adalah kegiatan yang kontinyu dilaksanakan oleh Himpunan
Mahasiswa Farmasi “Ars Praeparandi” ITB semenjak tahun 1984 dengan waktu penyelenggaraan setiap 2 tahun sekali. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk bakti sosial kepada masyarakat desa di Jawa Barat dan bentuk usaha mahasiswa farmasi ITB untuk memberikan perubahan desa tersebut ke arah yang lebih baik. Farmasi Pedesaan sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di desa desa yang terletak di Purwakarta, Garut, dan Cianjur.Farmasi Pedesaan XI diselenggarakan di desa Cimaragang Kecamatan Cidaun, Cianjur pada 2-10 Agustus 2006.

Tujuan dilaksanakannya Farmasi pedesaan adalah:

Read the rest of this entry »


Jaringan Farmasi Inggris Berikan Layanan Khusus Selama Ramadhan

August 20, 2008
Suasana menyambut Ramadan sudah terasa di berbagai negara. Sebuah jaringan perusahaan farmasi terkenal di Inggris, Co-operative Pharmacy, akan memberikan layanan kesehatan khusus bagi warga Muslim selama bulan RamadanAdrian Price, manajer perusahaan itu mengatakan, selama bulan Ramadan banyak pasien yang mengubah jadwal minum obat mereka, bahkan mengubah dosis yang mereka minum setiap hari tanpa melakukan konsultasi terlebih dulu. Oleh sebab itu, Co-operative Pharmacy akan membantu para pasien untuk memberikan konsultasi gratis dengan bantuan para ahli farmasinya, tentang problem obat-obatan yang harus mereka minum serta membantu memberikan solusinya.

“Menghabiskan beberapa menit untuk berkonsultasi tentang persoalan-persoalan kesehatan yang mereka hadapi, itu lebih baik, ” kata Price.

Co-operative Pharmacy adalah jaringan farmasi terbesar ketiga di Inggris yang meniliki sekitar 800 cabang. “Kami mendorong para pelanggan kami untuk melakukan konsultasi tentang obat-obatan yang mereka minum, terutama mendekati bulan Ramadan, akan sangat bermanfaat bagi mereka yang akan berpuasa, ” sambung Price.

Untuk keperluan kegiatan ini, perusahaan tersebut memberikan pelatihan bagi para apotekernya di 40 cabangnya, terutama yang berada di kawasan yang populasi Muslimnya cukup besar. Para apoteker akan memberikan penjelasan bagaimana menjalankan ibadah puasa tanpa harus mengurangi efektivitas obat-obatan yang mereka minum dan memberikan penjelasan tentang bahayanya jika mereka mengubah jadwal minum obat, terutama obat-obatan dengan resep dokter, tanpa konsultasi terlebih dahulu.

Co-operative Pharmacy sudah menyebarluaskan kegiatannya itu melakukan situsnya dalam tiga bahasa; Inggris, Urdu dan Bengali. Karena di Inggris, mayoritas warga Muslimnya berasal dari Pakistan, India dan Bengali.

“Kami menghargai pentingnya memahami budaya dan sensivitasnya ketika bersentuhan dengan implikasi kesehatan seseorang terkait dengan keyakinan agama yang dianutnya, ” ujar Price tentang kegiatan sosial yang dilakukan perusahaannya selama Ramadan nanti. (ln/iol)

diambil dari www.eramuslim. com


Keren Banget…

August 19, 2008
Tesis Astrofisika Gitaris Queen Dibukukan
Dr Brian May CBE diangkat menjadi Rektor Liverpool John Moores University pada November 2007 setelah lulus S3 dalam bidang astrofisika.
Minggu, 3 Agustus 2008 | 09:54 WIB

JAKARTA, MINGGU – Bermain musik puluhan tahun ternyata tak menurunkan niat gitaris grup band legendaris Queen, Brian May, untuk menyelesaikan pendidikan S3-nya. Pendidikan doktoralnya dalam bidang astrofisika yang sempat berhenti akhirnya selesai tahun lalu dan tesisnya baru saja dibukukan.

“Saya telah menikmati hari-hari bermain gitar dan bermusik dengan Queen tetapi suatu kepuasan tersendiri dapat mempublikasikan tesis saya. Saya telah tertarik dengan dunia astronomi bertahun-tahun dan sangat bahagia akhirnya dapat meraih gelar Ph.D tahun lalu dan mempublikasikan studi saya tentang cahaya Zodiak dalam sebuah buku,” kata May.

Tesis yang sudah disusun lengkap tersebut dicetak dalam sebuah buku yang berjudul “A Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud” (Springer and Canopus Publishing Ltd., 2008). Dalam tesisnya, May menguji fenomena misterius yang dikenal dengan cahaya Zodiak (cahaya fajar) yakni cahaya yang berbentuk kerucut berpendar di langit sebelah barat setelah matahari tenggelam dan di sebelah timur sebelum matahari terbit.

Fenomena ini lebih mudah diamati di daerah rural karena langit yang gelap tanpa gangguan lampu penerangan. Cahaya zodiak ini sekitar 2-3 jam sebelum matahari terbit di sebelah timur. Munculnya cahaya tersebut dapat mengelabui orang karena dikira cahaya Matahari pada pagi hari ini. Seorang astronom Persia yang hidup sekitar abad ke-12 menunjukkan fenomena ini sebagai sinar fajar palsu dalam suatu puisi.

Tesis May tersebut memfokuskan pada suatu alat yang dapat merekam 250 hasil pemindaian terhadap cahaya Zodiak tersebut pada pagi dan petang hari antara 1971 dan 1972. Perekamannya menggunakan Spektrometer Fabry-Perot yang terletak di Observatorio del Teide di Izana,Tenerife, salah satu observatorium terbesar di Kepulauan Canary.

Brian May menerima gelar doktornya pada 24 Agustus 2007 dari Universitas Imperial, London. Ia juga akan ditunjuk menjadi rektor di Universitas John Moores Liverpool pada November di tahun yang sama. Dua prestasi itu menunjukkan kalau Brian May tak hanya maestro gitaris tapi juga unggul di bidang lain.


Kongres Ilmiah XVI ISFI di Jogjakarta

August 19, 2008

Sepekan yang lalu, tepatnya hari Senin-Selasa tanggal 11 dan 12 Agustus berlangsung hajatan besar ISFI di Hotel Inna Garuda Jogjakarta.

Hajatan besar tersebut berisikan kegiatan kongres ilmiah ISFI yang ke XVI, rapat anggota APTFI, dan pertemuan petinggi-petinggi SEARPHARM (Perkumpulan para Apoteker se-Asia Pasifik)

Pada acara kongres ilmiah, dipaparkan makalah-makalah hasil penelitian para Apoteker se-Indonesia. Terdapat lebih dari 200 makalah yang masuk ke meja panitia.

Pada rapat APTFI, Bapak Prof. Dr. Ibnu Ghalib Gandjar (ketua APTFI) kembali mengingatkan kepada seluruh anggota APTFI, terutama yang belum terakreditasi untuk segera melakukan akreditasi…karena bagaimana mungkin ijazah/sertifikat suatu lembaga (institusi pendidikan) dapat diterima/dihargai oleh stakeholder, kalau lembaga/institusi tersebut belum terakreditasi.

Pada hajatan tersebut juga digelar gala dinner, yang menghadirkan bintang tamu penari Didik Nini Thowok…hebat euy, ternyata para Apoteker kaya-kaya…:)


Carut Marut Dunia Kesehatan Indonesia

August 8, 2008

Belum lama ini dua tokoh di negara ini yaitu Dr Syahrir anggota Dewan Pertimbangan Kepresidenan dan Bapak Rachmad Halim pemilik pabrik rokok Gudang Garam meninggal dunia. Perlu diperhatikan di sini adalah kedua tokoh nasional itu meninggal di rumah sakit yang sama. Mount ELizabeth Hospital Singapura. Bukan di rumah sakit dalam negeri.

Pertanyaannya ada apa dengan rumah sakit di negeri ini?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa semakin banyak orang kaya Indonesia yang lebih memilih untuk berobat di luar negeri. Terutama di Singapura. Meski secara hitungan memakan biaya yang jauh lebih besar. Meski secara hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan harapan. Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Hak memilih rumah sakit memang ada di tangan pasien karena sudah menyangkut hidup dan mati seseorang. Tidak ada pemerintah suatu negara di dunia ini yang bisa mengharuskan warganya untuk memilih rumah sakit dalam negeri. Untuk itu pemerintah, khususnya Menteri Kesehatan, harus mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

Evaluasi harus dilakukan mulai dari proses pendidikan tenaga medis. Baik itu pendidikan dokter, perawat, analis, dan lain-lainnya. Semua orang sudah mengetahui bahwa dibandingkan tenaga medis yang lainnya modal yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan kedokteran jauh lebih mahal.

Mulai dari sini terbentuklah penggolongan. Para calon dokter adalah kaum elitis. Anggapan saya ini bisa saja dibantah. Tapi, lihat saja kenyataan di lapangan. Banyak sekali mahasiswa kedokteran yang  naik mobil bagus saat kuliah dengan jas putih (sengaja dipajang) di jok mobilnya.

Dengan modal yang besar itu wajar saja bila setelah lulus seorang dokter ingin agar segera balik modal. Dan, ini menjadi sasaran empuk bagi  perusahaan farmasi. Keinginan balik modal itu didukung dengan sikap elitis yang terbentuk selama masa kuliah menimbulkan budaya yang sangat tidak sehat.

Belum lagi bila kita bicara tentang manajemen sebuah rumah sakit. Kaidah orang yang tepat untuk posisi yang tepat sama sekali tidak dijalankan. Banyak di rumah sakit yang saya jumpai direktur keuangan ditempati oleh seorang dokter. Bukan dari orang yang mengerti tentang arus keluar masuknya uang. Manajer IT bukan ditempati oleh seorang yang sudah berpengalaman tentang masalah jaringan komputer. Tetapi, juga oleh seorang dokter.

Untuk mensiasati hal semacam ini ditunjuklah seorang asisten manajer yang mengatur semuanya. Atasan tinggal tanda tangan. Bisa dibayangkan rumitnya birokrasi di sebuah rumah sakit. Belum lagi adanya kemungkinan untuk melakukan tindakan kolusi.

Pernah istri saya harus masuk rumah sakit saat sedang liburan di Jakarta. Waktu itu hari Sabtu, dan saya hanya berencana untuk mendapatkan perawatan selama dua hari karena tiket pesawat saya untuk pulang ke Semarang sudah dijadwalkan hari Minggu sore. Saat saya mengurus administrasi kepulangan tercantum biaya kunjungan dokter sebanyak dua kali kunjungan. Padahal hanya satu kali. Itu pun tiga jam setelah istri saya masuk ruang perawatan.

Waktu itu saya berpikir daripada ribut toh hanya Rp 70,000 untuk sekali visit sehingga saya memilih membayar saja. Di sini timbul kesan kuat bahwa pasien diperlakukan sebagai obyek dan bukan sebagai subyek. Maka tidak mengherankan bila sekarang makin banyak orang Indonesia yang pergi ke Singapura untuk berobat. Karena di sana pasien ditempatkan sebagai subyek.

Hanya sedikit pasien di negeri ini yang menjadi subyek saat dirawat di rumah sakit. Salah satunya Almarhum Bapak Soeharto. Bayangkan saja, dokter-dokter spesialis yang merawat almarhum sampai bersedia mendorong kasur hingga lobby. Termasuk berteriak-teriak pada wartawan supaya tidak menghalangi jalan. Sebuah perlakuan yang tidak akan  mungkin didapatkan oleh rakyat biasa seperti saya.

Masih banyak permasalahan yang ada. Tetapi, tidak mungkin untuk menulis semuanya di sini. Bila ini diterus-teruskan bagaimana kualitas kesehatan bangsa ini?

Didik Sukarno Hadi – suaraPembaca (www.detik.com)