Ramadhan Pertama di Enschede

June 21, 2016

Ramadhan 1437 H merupakan Ramadhan pertama kami di negeri rantau, di salah satu negeri di benua Eropa yang memiliki 4 musim dan cuacanya dikenal cukup fluktuatif. Di negeri van Oranje ini pula kami merasakan betapa bumi Allah memang bundar dan betapa Allah sangat luar biasa dalam menciptakan makhluk-makhluknya.

Suasana Ramadhan di sini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana Ramadhan di tanah air tercinta, Indonesia. Tidak ada suara-suara orang-orang yang membangunkan jamaah tatkala waktu sahur, tidak ada gelombang manusia yang mendatangi masjid, mushola, langgar, dan surau untuk melaksanakan sholat tarawih, tidak ada kumpulan jamaah di masjid yang dengan sabar menunggu datangnya waktu berbuka. Tidak ada pasar kaget yang sering muncul menjelang berbuka.

Di kota ini hanya ada dua masjid, itu pun yang satu tidak terlalu besar dan orang sering menyebutnya sebagai Masjid komunitas Turki. Yang satunya lagi masjidnya lumayan besar, orang menyebutnya Masjid komunitas Maroko. Suasana Ramadhan agak bisa kita jumpai di Masjid komunitas Maroko ini, yang paling khas bagi orang Indonesia dengan suasana Ramadhan di masjid ini adalah ketika berbuka puasa (ifthar jama’i). Suasana ifthar jama’i di sini sangat terbuka bagi siapa saja jamaah yang berminat, terdiri dari kakek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa, mahasiswi, dan anak-anak. Jamaahnya sangat multinasional, ada yang berasal dari Maroko, Libanon, Indonesia, Pakistan, Somalia, Ethiopia, Suriah, dan lain-lain. Menu berbukanya juga sangat khas buat orang Indonesia, terutama masakan dan makanannya yang sangat kental suasana Arab-nya, yang terkadang rasanya agak terasa asing buat lidah orang Indonesia.

1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2016, yang masuk dalam musim panas, musim di mana di negeri ini memiliki waktu siang lebih panjang dibandingkan waktu malamnya. Konsekuensinya waktu untuk menjalani ibadah puasa akan lebih dari 12 jam, jam normal jika 24 jam dibagi dua, siang dan malam. Untuk daerah kami, Enschede, yang terletak di bagian timur Belanda waktu maghrib selama bulan Ramadhan 1437 H ini pada kisaran jam 21.50 hingga 22.00 dan waktu shubuh pada kisaran jam 03.15 hingga 03.25. Durasi total puasa sekitar 19 jam ini merupakan tantangan tersendiri buat kami. Selain harus mampu menahan lapar dan dahaga di siang hari, pada malam harinya kami harus pintar membagi waktu antara berbuka, sholat maghrib, sholat isya, sholat tarawih, sahur, dan sholat shubuh. Bagaimanapun kami tidak ingin momentum dan keberkahan bulan Ramadhan tahun ini berlalu begitu saja.

Selama hari kerja, Senin-Jumat jam 9.00 – 17.00 kami tetap beraktivitas seperti biasa di kampus, sepulang dari kampus, biasanya setelah sholat ashar kami sempatkan untuk tidur terlebih dahulu hingga menjelang berbuka. Setelah berbuka, kami lanjutkan dengan sholat maghrib, sambil menunggu waktu isya (jam 23.30) kami istirahat sejenak. Setelah sholat isya kami tidur dulu sampai sekitar jam 01.45, kami lanjutkan sholat tarawih, sahur, dan sholat shubuh pada jam 03.30. Sesudah menjalankan sholat shubuh dan tilawah kami lanjutkan dengan tidur hingga jam 7.00 supaya kami tetap bugar beraktivitas pada siang hari.

Selain lamanya waktu berpuasa, tantangan lain kami menjalankan ibadah puasa di Enschede (Belanda) pada tahun ini adalah kondisi cuaca yang relatif sangat fluktuatif. Dalam satu hari, kita bisa mengalami pergantian cuaca selama 4 kali, yaitu panas, hujan, sejuk, dan dingin. Terkadang dalam satu hari memiliki rentang suhu sangat lebar, yaitu antara 7 hingga 27°C. Alhamdulillah hingga tulisan ini dibuat, suhu belum pernah mencapai lebih dari 30°C.

Untuk dapat menikmati dan mendapatkan suasana Ramadhan seperti di tanah air, kami yang menghimpun diri dalam IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) mengadakan kegiatan buka bersama setiap pekan satu kali, biasanya diadakan pada hari Sabtu. Pada acara ini, diisi dengan pembacaan Al-Quran, ceramah singkat, buka bersama, dan sholat maghrib berjamaah.

Mesikpun demikian, Allah tidak akan membebani makhluk-Nya di luar batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah ayat 286) dan setiap perintah Allah pasti bermanfaat dan memiliki banyak kebaikan buat hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah ayat 183). Kita sebagai umat Islam harus dan selalu bersyukur disediakan satu bulan khusus buat kita (Ramadhan) untuk mengasah dan memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, karena sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat ayat 13).

DSC08801

Buka bersama IMEA

IMG_20160610_222739

Buka bersama di Masjid Maroko


Integrin, Myofibroblas, dan Organ Fibrosis

April 13, 2016

Myofibroblas adalah sumber utama komponen matriks ekstraseluler yang terakumulasi selama fibrosis jaringan, dan hepatic stellate cells (HSC) dipercaya menjadi sumber utama myofibroblas di dalam liver. Sampai saat ini, sistem yang kuat untuk memanipulasi sel-sel ini secara genetik belum dikembangkan. Dilaporkan bahwa Cre di bawah kontrol promoter Pdgfrb (Pdgfrb-Cre) menginaktivasi gen loxP-flanked di dalam tikus HSC dengan efisiensi tinggi. Digunakan sistem untuk menghapus gene yang meng-encoding integrin subunit αv karena beberapa integring yang mengandung αv disarankan sebagai mediator sentral fibrosis dalam banyak organ. Seperti tikus yang dilindungi dari deplesi dari fibrosis hati CCl4-induced, sedangkan kehilangan global integrin β3, β5, atau β6 atau kehilangan kondisional integrin β8 dalam HSC tidak. Juga ditemukan bahwa Pdgfrb-Cre efektif menjadi target myofibroblas dalam beberapa organ, dan deplesi integrin subunit αv menggunakan sistem ini adalah pelindung dalam model lain fibrosis organ, termasuk fibrosis pulmonari (paru-paru) dan renal (ginjal). Blokade farmakologi integrin yang mengandung αv oleh suatu molekul kecil (CWHM 12) melemahkan fibrosis liver dan lung (paru-paru), termasuk dalam suatu cara terapi. Data-data ini mengidentifikasi suatu jalur inti yang meregulasi fibrosis dan memungkinkan target farmakologi seluruh integrin αv mempunyai utilitas klinis dalam treatmen pasien dengan suatu penyakit fibrosis yang berspektrum luas.

Di dalam beberapa organ, integrin dapat mengendalikan pelepasan dan aktivasi sitokin profibrogenik penting transforming growth factor beta (TGF-β). Hal ini penting, efek regulatori integrin ini pada aktivitas TGF-β terlihat terutama untuk melibatkan integrin yang mengandung αv. Jaringan myofibroblas, yang sel-sel efektornya dominan selama fibrosis dalam beberapa organ, mengekspresikan banyak integrin yang mengandung αv. Oleh karena itu, temuan ini menyarankan bahwa integrin αv itu sendiri bisa menjadi esensial untuk pengembangan fibrosis, tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan subunit β.

Aspek yang paling menarik dalam penelitian ini adalah integrin αv penting dalam survival dan/atau fungsi myofibroblas liver. Delesi yang ditargetkan oleh integrin αv dalam myofibroblas dilindungi terhadap organ fibrosis secara in vivo dan in vitro. Fungsi integrin hanya sebagai heterodimer obligat, dengan subunit α dan β yang diperlukan untuk fungsinya; menariknya, pengaturan heterodimer ini terjaga meskipun dalam organisme primitif.

Referensi:

Henderson N.C., Arnold T.D., Katamura Y., Giacomini M.M., Rodriguez J.D., McCarty J.H, et al. Targeting of αv integrin identities a core molecular pathway that regulates fibrosis in several organs. Nat. Med. 2013; 19: 1617-1624.


Heterogenitas Makrofag dalam Luka Liver dan Fibrosis

April 7, 2016

Makrofag hati adalah sentral dalam patogenesis luka liver kronis dan sudah diusulkan sebagai target yang potensial dalam menangani fibrosis. Studi eksperimental terkini dalam model hewan uji mengungkapkan bahwa makrofag hati merupakan suatu populasi heterogen dari sel imun yg benar-benar ada yang memenuhi fungsi berbeda dalam homeostasis, progesi penyakit, dan pemulihan dari luka. Rentangnya dari klirens/pembersihan patogen atau debris seluler  dan perawatan toleransi imunologi dalam kondisi steady state (tunak); berperan utama dalam inisiasi dan melanggengkan inflamasi dalam respon terhadap luka; promoting liver fibrosis melalui aktivasi hepatic stellate cells (HSC) dalam kerusakan liver kronis; dan, terakhir, resolusi inflamasi dan fibrosis melalui degradasi matriks ekstraseluler (ECM) dan melepaskan sitokin anti-inflamasi. Heterogenitas seluler di dalam liver dijelaskan sebagian melalui asal makrofag. Makrofag hati dapat muncul dari monosit yang bersirkulasi, yang direkrut dari liver yang terluka melalui sinyal kemokin, atau dari self-renewing embryo-derived makrofag lokal, yang dikenal dengan sel Kupfer. Sel Kupfer penting untuk mengenali luka jaringan dan menginisiasi respon inflamatori, sementara infiltrasi Ly-6C+ monocyte-derived makrofag terhubungkan dengan inflamasi kronis dan fibrogenesis. Selain itu, proliferasi lokal makrofag lokal atau yang direkrut memungkinkan lebih lanjut berkontribusi terhadap akumulasi mereka di dalam liver yang terluka. Selama pemulihan fibrosis, sel monocyte-derived berdiferensiasi menjadi Ly-6C (Ly6C, Gr1) makrofag ‘restorative’ yang berekspresi rendah dan menyebabkan resolusi dari luka.

Heterogenitas makrofag diekspresikan oleh suatu diversitas tinggi dalam pelepasan sitokin, marker-marker permukaan sel, dan profil transkripsional. Supaya mengakomodasi spektrum luas dari fungsi dan fenotip makrofag, sel-sel ini diklasifikasikan menjadi makrofag M1 ‘pro-inflamatori’ atau M2 ‘immunoregulatori’, meskipun nomenklatur dikotomi sederhana ini tidak merefleksikan sepenuhnya biologi kompleks dari subset makrofag. Konsekuensinya, makrofag M2 sekarang dikategorikan lebih lanjut menjadi beberapa subtipe yang dapat menyembuhkan luka atau anti-inflamasi tetapi dapat juga menyebabkan inflamasi dalam beberapa keadaan. Makrofag M1 terkait erat dengan Th1 utamanya sel T CD4, di mana makrofag M2 saling mengikutsertakan dengan sel T Th2 CD4.

Selama inflamasi, kelompok makrofag hati berkembang, dan debat ilmiah yang menakjubkan berlangsung terus menerus terkait asal dan mekanisme pokok pengkayaan makrofag. Pada fase awal setelah inside berbahaya, makrofag hati yang immobile secara cepat mengeluarkan sitokin pro-inflamatori dan kemokin seperti IL-1β, TNF, CCL2, dan CCL5, yang mengaktivasi perlindungan parakrin atau jalur sinyal apoptosis dari hepatosit dan rekruitmen sel imun tambahan yang mendorong luka hati. Selain itu, tidak hanya stimuli inflamatori, tetapi sinyal metabolik juga memungkinkan memodulasi aktivasi makrofag hati, sebagai bukti  untuk overload lipid dan turunan kolesterol tertentu dalam sel Kupfer di dalam model penyakit hati berlemak dan steatohepatitis.

Hambatan utama pengembangan terapi baru untuk liver fibrosis bertarget makrofag adalah kekurangan data fungsional yang signifikan dalam manusia. Populasi makrofag berbeda dapat juga ditemukan dalam liver manusia, termasuk monosit/makrofag CD14++CD16- ‘klasikal’ dan CD14+CD16+ ‘non-klasikal’ sebaik sel CD16++ yang meliputi makrofag atypical (tidak khas) dan sel dendritik. Progresi penyakit liver kronik dari hepatitis ke fibrosis dan akhirnya ke sirosis berkaitan erat dengan suatu pengkayaan makrofag monocyte-derived CD14+CD16+ ‘non-klasikal’ di dalam pasien liver dengan etiologi penyakit yang bervariasi. Akumulasi sel-sel ini mungkin didasarkan pada dua mekanisme: memfasilitasi rekruitmen melintasi endotelium sinusoidal yang meradang dan transdiferensiasi lokal dari sel-sel prekursor CD14++CD16-, mengingatkan maturasi makrofag murin Ly-6C+ ke Ly-6Clo dalam eksperimental luka liver marmut.

Hambatan lain dalam temuan (penelitian) translating (penerjemahan) dari model tikus ke penyakit manusia adalah spektrum yang luas dari gangguan liver kronis dalam manusia. Ini sangat mungkin bahwa fungsionalitas subset makrofag hati dipengaruhi oleh sifat pokok penyakit hati (misalnya, overload lipid dalam penyakit liver berlemak; respon antigen-specific dalam hepatitis autoimun; dampak asam empedu dalam cholangiopati). Studi terkini fokus pada tahap progresi penyakit (fibrosis, sirosis) daripada sifat pokok luka. Oleh karena itu, penelitian translational selanjutnya dijamin mengarah ke karakteristik penyakit-specific monosit hati dan heterogenitas makrofag.

Referensi:

Frank Tacke and Henning W. Zimmermann. Macrophage heterogeneity in liver injury and fibrosis. Journal of Hepatology 2014 vol. 60: 1090-1096.


Terapi Tertarget Integrin

April 6, 2016

Integrin merupakan heterodimer, reseptor transmembran yang berfungsi sebagai mekanosensor, molekul pengikat (adhesi) dan platform transduksi sinyal dalam berbagai macam proses biologi. Integrin merupakan sentral bagi etiologi dan patologi beberapa kondisi penyakit. Oleh karena itu, inhibisi farmakologi integrin menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk treatmen dan pencegahan penyakit. Dalam dua dekade terakhir ini beberapa obat integrin-targeted telah dibuat dan digunakan secara klinis, beberapa yang lain sedang dalam uji klinis dan masih menunjukkan harapan untuk dikembangkan melalui pengembangan praklinik.

Integrin adalah reseptor permukaan sel heterodimer yang ditemukan dalam hampir semua jenis sel metazoan, terdiri dari subunit-subunit α dan β yang terikat secara non-kovalen. Di dalam mamalia, telah diidentifikasi sebanyak 18 subunit α dan 8 subunit β. Dari kelompok ini, 24 kombinasi heterodimer yang berbeda telah diteliti secara in vivo yang memberikan spesifitas sel-ke-sel dan sel-ke-ligan yang relevan terhadap sel host dan lingkungannya sebagaimana fungsinya. Interaksi integrin-mediated dengan extracellular matrix (ECM) diperlukan untuk penempelan, organisasi sitoskeletal, mekanosensing, migrasi, proliferasi, diferensiasi, dan daya tahan hidup sel di dalam konteks proses biologi yang beragam termasuk fertilisasi, implantasi dan pengembangan embrionik, respon imun, resorpsi tulang dan agregasi platelet. Integrin juga berfungsi dalam proses patologi seperti inflamasi, penyembuhan luka, angiogenesis, dan metastasis tumor. Selain itu, ikatan integrin telah diidentifikasi sebagai alat virus untuk masuk ke sel.

Adhesi seluler yang dimediasi integrin merupakan proses yg dinamis yang diindikasikan dan dipengaruhi oleh status sel. Integrin tidak aktif berdiri sendiri tapi lebih eksis dalam kondisi aktivasi beragam di mana stabilitas ikatan ligan terkait dengan status aktivasi reseptor. Sifat dinamis integrin dimediasi sinyal dari isyarat ekstra dan intraseluler untuk meregulasi aktivasi. Faktor ekstraseluler yang mempengaruhi aktivasi integrin adalah ikatan ligan, konsentrasi kation divalen, sinyal kemokin, dan tekanan mekanik. Sinyal intraseluler yang bertemu sitoplasma bagian ekor integrin juga dapat mengaktivasi kondisi afinitas tinggi. Sinyal intraseluler yang menghasilkan aktivasi integrin dikenal sebagai peristiwa sinyaling “inside-out”.

Proses ligasi integrin melalui cel-ke-sel dan sel-ke-matriks yang kontak dengan transduksi sinyal intraseluler dikenal dengan sinyaling “outside-in”. Ekor integrin tidak mempunyai aktivitas kinase intrinsik melainkan menyediakan suatu tempat untuk docking berbagai kinase dan protein adaptor terkait yang meliputi adhesi fokal. Ekor β merupakan tempat docking utama di dalam pembentukan adhesi fokal, tetapi ekor α dalam beberapa kasus juga menyediakan tempat sinyal untuk peristiwa sinyaling yang bergantung kalsium. Sinyal yang memancar dari adhesi fokal menunjukkan untuk kelangsungan hidup, diferensiasi, dan proliferasi. Jika ligasi integrin tidak ada, proses-proses ini tidak akan terjadi, oleh karena itu inhibisi farmakologi dari ligasi integrin merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk terapi beberapa penyakit yang diakibatkan oleh penyimpangan sinyal yang dimediasi integrin.

Dengan mengintegrasikan dan mentransduksi informasi tentang into dan out dari sel, integrin memediasi lokalisasi sel, bentuk, persebaran dan motilitas serta penentu kritis terkait kesehatan dan penyakit. Integrin memiliki implikasi dalam patogenesis penyakit inflamatori, agregasi platelet, progresi tumor sebaik osteoporosis dan degenerasi makular. Peran integrin dalam kondisi patologi ditambah dengan ‘druggabilitas’ mereka yang menyediakan aksesibilitas permukaan sel membuat mereka menjadi target farmakologi yang menarik.

Targeting tempat mengikat ligan telah dicapai melalui penggunaan antibodi, peptida siklik, disintegrin, peptidomimetik dan antagonis molekul kecil. Senyawa-senyawa ini dimaksudkan untuk mengikat integrin tertarget dalam suatu cara yang mirip ligan endogen sehingga menggantikannya dan mencegah ligasi integrin. Metode antagonis ini telah luas digunakan untuk beberapa alasan. Kekurangan data terstruktur yang informatif terkait integrin memunculkan desain antagonis rasional berdasarkan ligan-ligan yang diketahui.

Terapi tertarget integrin datang dalam beberapa bentuk, masing-masing jenis mempunyai kelebihan dan batasan masing-masing yang inheren. Selain itu, pendekatan terhadap desain obat spesifik integrin bergantung pada beberapa faktor termasuk aplikasi klinik yang diharapkan dan ketersediaan informasi terstruktur yang handal. Terdapat tiga jenis terapi integrin, yaitu antibodi tertarget, obat peptide-based dan molekul kecil, peptidomimetik.

Berdasarkan statusnya dalam aplikasi klinik terkini, terapi antibodi adalah yang paling banyak digunakan dalam obat-obat yang bertarget integrin. Terapi antibodi integrin-targeted yang terkini berada dalam pengembangan preklinik dan evaluasi klinik untuk treatmen kanker, multiple sklerosis, penyakit Crohn’s, psoriasis, rheumatoid arthritis dan sindrom koroner akut. Antibodi menguntungkan karena memiliki target spesifitas dan afinitas yang sangat tinggi, toksisitas yang terbatas terkait efek ‘off-target’. Dari aspek desain obat, antibodi lebih mudah dikembangkan karena tidak diperlukan data terstruktur high-resolution untuk pengembangan terapi. Sekali fungsi-bloking antibodi diketahui dapat dimodifikasi untuk meningkatkan spesifitas dan afinitas ikatannya serta menurunkan imunogenisitas. Antibodi dapat mempunyai sirkulasi masa berlaku yang panjang jika dibandingkan terhadap molekul kecil dan obat-obatan peptide-based sehingga meningkatkan durasi terapi, yang bergantung pada aplikasi yang diinginkan menguntungkan apa tidak menguntungkan. Kekurangan terkait terapi antibodi adalah produksinya berbiaya tinggi, perlu diberikan secara intravena dalam uji klinik, dan kecenderungan untuk imunogenisitas host dan reaksi infusi.

Obat-obatan peptide-based mewakili golongan obat lain yang didesain untuk target integrin. Obat-obatan ini menginkorporasi urutan peptida yang mirip terhadap urutan ligan yang diketahui di dalam ligan integrin endogen dan selanjutnya berkompetisi untuk tempat ikatan ligan di dalam integrin. Obat jenis ini menguntungkan untuk desain obat karena kebanyakan ligan endogen dan urutan pengakuan mereka telah ditentukan untuk masing-masing pasangan integrin.

 

Referensi:

Melissa Millard, Srinivas Odde, Nouri Neamati. Integrin Targeted Therapeutics. Theranostics 2011; 1:154-188.

 


Pendidikan Farmasi di Belanda

March 24, 2016

Terdapat dua sekolah farmasi di Belanda, yang satu di Utrecht (University of Utrecht), yang terletak di bagian selatan Amsterdam, dan satunya di Groningen (University of Groningen), di bagian utara negeri ini.

Sistem pendidikan farmasi di Belanda dibagi menjadi dua bagian utama. Empat tahun pertama, sangat ditekankan pada ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu kefarmasian. Dua tahun terakhir, ditekankan pada skill praktek kefarmasian. Setelah empat tahun pertama, mahasiswa bisa mengambil suatu ujian sementara (interim), setelah sukses melalui tahap ini dapat mengambil program master, meskipun level master juga dapat diperoleh setelah tahun keenam. Selain itu, mahasiswa pada akhir tahun keempat dapat memutuskan untuk tidak melengkapi program farmasinya dan memilih program riset. Namun, mahasiswa kebanyakan menyelesaikan program enam tahunnya dan menjadi farmasis, mendapatkan gelar diploma, yang mirip seperti kualifikasi PharmD di Amerika Serikat.

Yang dapat diterima menjadi mahasiswa program pendidikan farmasi adalah lulusan-lulusan SMA yang harus sudah mengambil ilmu-ilmu kimia, fisika, biologi, matematika, dan Bahasa Inggris (diharapkan). Pada akhir SMA, siswa-siswi mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh sekolah dan negara, dan mereka harus lulus untuk mendapatkan ijazah yang akan mengizinkan mereka untuk masuk universitas. Untuk sekolah farmasi, tidak ada persyaratan tertentu yang diperlukan, walaupun hal ini tidak berlaku untuk kuliah seperti kedokteran dan kedokteran gigi.

Jumlah mahasiswa farmasi semakin ke sini semakin meningkat. Farmasi adalah profesi yang terkenal karena memiliki gaji yang cukup bagus dan lapangan pekerjaannya cukup luas. Proporsi mahasiswa farmasi biasanya lebih banyak yang perempuan daripada yang laki-laki (55% dari total mahasiswa farmasi). Sekolah farmasi di Belanda memiliki hubungan yang dekat dengan sekolah kedokteran dan sekolah kedokteran gigi.

Pendidikan farmasi dibagi menjadi pembelajaran blok yang berlainan, yang terdapat sekitar 15 blok dalam satu tahun akademik. Tidak ada term dan tidak ada semester. Tahun akademik terdiri dari 42 pekan kuliah dengan liburan dua pekan pada Natal, liburan delapan pekan pada musim panas (summer). Liburan bank juga ditambahkan pada liburan ini. Pada akhir setiap blok kuliah, yang pada dua hingga tiga pekan terakhir, mahasiswa melakukan suatu ujian. Salah satu yang menjadi masalah dalam pendekatan ini adalah selama blok kuliah, mahasiswa fokus pada hanya satu subyek, mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari dan lulus ujian, namun integrasi dan aplikasi pembelajaran ini sangat sulit dan mahasiswa sering berjuang dengan cara ini.

Enam bulan pengalaman praktek dalam tahun keenam harus dibagi antara 3 farmasi, dua farmasi komunitas dan satu farmasi rumah sakit. Meskipun mahasiswa memenuhi kualifikasi sebagai farmasis/apoteker pada akhir periode ini, mereka dapat menjadi penanggung jawab farmasi setelah beberapa tahun lagi. Untuk menjadi penanggung jawab farmasi rumah sakit, farmasi harus secara formal mengikuti on-the-job training selama 3 tahun setelah lulus menjadi PharmD. Untuk menjadi penanggung jawab di farmasis komunitas dapat secara legal setelah kualifikasi, namun ini masih relatif lemah dan menjadi penuh setelah dua tahun menjadi asisten farmasis/apoteker.

Sekolah farmasi, asosiasi farmasi, dan industri berkolaborasi dalam memberikan pendidikan berkelanjutan dan lifelong learning untuk para farmasis.

 

Referensi:

Pamela Mason. Pharmacy education in the Netherlands. The Pharmaceutical Journal vol 265 no. 7118, p. 566-567, Oktober 14, 2000.

 


IAI Banyumas Layak Menjadi Percontohan di Indonesia

March 19, 2016

11204474_10208949120309711_815703642069734112_nKemarin, saya dikirimi beberapa foto dan video singkat oleh seorang kolega, foto dan video singkat tersebut berisi tentang pelepasan istriku oleh pengurus Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) cabang Banyumas. Sehari sebelumnya, istri sempat memberitahu bahwa setelah sholat Jumat akan makan-makan dalam rangka pamitan.

Yang membuat saya terharu ketika melihat beberapa foto dan video singkat tersebut adalah sambutan dan apresiasi yang sangat hangat dari para pengurus IAI cabang Banyumas. Hampir seluruh pengurus hadir dalam acara pelepasan istri tersebut, segenap tokoh-tokoh Apoteker Banyumas hadir di dalam acara tersebut.

Sejak sekitar tahun 2010, istri menjadi salah satu pengurus di IAI Banyumas, aktivitas yang penuh pengabdian, karena tidak ada istilah gaji dalam kepengurusan IAI Banyumas. Tetapi istri terlihat enjoy, karena istri dan teman-teman pengurus IAI Banyumas memiliki visi yang sama, yaitu ingin menciptakan dan menghadirkan Apoteker yang mampu memberikan pelayanan kefarmasian/kesehatan yang paripurna kepada masyarakat. Istri dan teman-teman pengurus IAI Banyumas menempatkan komunitas mereka ibarat keluarga kedua bagi mereka.

Sebelum berinteraksi dengan IAI Banyumas, saya pernah berinteraksi dengan IAI Bandung dan IAI Jakarta, yang menurut saya IAI Banyumas yang paling berbeda. IAI Banyumas sangat mendukung upaya apoteker-apoteker yang ingin memiliki apotek sendiri, sehingga “beban” modal untuk apotek agak terkikis. IAI Banyumas sangat memegang prinsip dan implementasi bahwa apotek itu adalah lahan praktek dan usaha bagi apoteker, sehingga tidak heran jika sampai saat ini jumlah apotek yang pemiliknya adalah juga apoteker lebih dari 75%.

Pengurus IAI Banyumas juga mengadakan pertemuan rutin anggota, yang agak jarang ditemukan di pengurus IAI-IAI lain yang ada di Indonesia. Pertemuan ini diadakan sambil makan siang bersama. Pertemuan rutin seluruh anggota IAI Banyumas diadakan minimal setiap 3 bulan sekali. Pertemuan rutin seluruh anggota korwil (koordinator wilayah) diadakan setiap sebulan sekali, yang biasanya dibuat dalam model arisan anggota. Hal ini yang membuat ikatan apoteker yang tergabung dalam IAI Banyumas ini cukup kuat. Pertemuan internal pengurus frekuensinya tidak tentu, setiap butuh koordinasi, para pengurus akan mengadakan pertemuan. Dalam sebulan minimal sekali ada satu kali pertemuan internal pengurus.

Seiring bertambah banyaknya jumlah apoteker di Banyumas, pengurus IAI Banyumas berinisiatif membuat apotek bersama, yaitu apotek yang modalnya dari para apoteker yang bersedia berinvestasi (dalam bentuk saham) dan pengelolanya dari apoteker-apoteker muda yang senang dengan tantangan. Jadi apotek bersama ini dari, oleh, dan untuk apoteker-apoteker yang ada di Banyumas. Sampai sekarang jumlah apotek seperti ini ada dua di Banyumas, yang kemudian dalam pengelolaan usahanya, para apoteker yang di bawah naungan IAI Banyumas tersebut menghimpun diri dalam suatu koperasi.

Semoga IAI Banyumas istiqomah dengan nilai-nilainya (komitmen, integritas, kekeluargaan, dll) sehingga mimpi menghadirkan apoteker yang kompeten, berintegritas, dan paripurna segera menjadi kenyataan.


Paradigma aktivasi makrofag M1 dan M2: waktu untuk reassessment.. Masih edisi belajar tentang makrofag

March 19, 2016

Konsep aktivasi klasik dan alternatif, yang juga diistilahkan dengan M1 dan M2 menyerupai nomenklatur sel Th, menjadi meningkat luas dan overinterpretasi, menghalangi pemahaman patogenesis dan kemungkinan manipulasi. Meskipun terdapat bukti bahwa banyak kombinasi stimulasi yang menentukan fenotip makrofag, pandangan kita terhadap proses yang kompleks ini menjadi terlalu bipolar.

Makrofag yang terlibat dalam organisme multiseluler sederhana membentuk fagositis membersihkan sel-sel yang mati selama perkembangan dan pendewasaan hidupnya, dan melindungi host-nya melalui imunitas alami (innate immunity), baik sebagai makrofag jaringan asal dan monosit-derived yang didapatkan sel selama inflamasi.

Pengembangan imunitas yang diperoleh dengan interaksi timbal balik antara makrofag dan limfosit B dan T teraktivasi memberikan tingkat regulasi yang baru dan mengakuisisi peningkatan resistensi antimikroba. Peranan Th1-derived interferon-gamma (IFN-ɣ) di dalam cell-mediated imunitas terhadap infeksi intraseluler dan interleukin-4 (IL-4) (Th2) di dalam infeksi parasit extracellular memberikan peningkatan terhadap konsep analog makrofag M1 dan M2, yang sekarang diperpanjang menjadi rentang yang lebih luas dari agen-agen imunomodulator dan fungsi trofik.

Makrofag adalah modulator kunci dan sel efektor dalam respons imun, aktivasi mereka mempengaruhi dan merespon terhadap bagian lain dari sistem imun. Pada tahun 1986, Mosmann, Coffman, dan koleganya mengajukan hipotesis bahwa dua subset sel T helper dapat dibedakan oleh sitokin yang disekresikan setelah aktivasi limfosit T, memediasi regulasi dan fungsi efektor yang berbeda. Coffman menceritakan bahwa hipotesis tersebut  diturunkan dari studi terpisah untuk menjawab pertanyaan berikut: “adakah analog sel T helper untuk mengklasifikasikan antibodi yang dibuat oleh sel B?” dan “bagaimana respon alergi, terutama golongan antibodi imunoglobulin E (IgE), diregulasi?”. Pertanyaan-pertanyaan ini secara implisit relevan untuk penyakit infeksi, yang mana patogen intraseluler dan ekstraseluler menginduksi masing-masing respon IgG vs IgE, dan makrofag yang berurusan dengan infeksi, tetapi juga dalam penyakit imun tipe 1 dan tipe 2 yang mana makrofag berkontribusi terhadap kerusakan jaringan dan patologi.

Istilah aktivasi makrofag (aktivasi klasikal) dikenalkan oleh Mackaness pada tahun 1960 dalam suatu konteks infeksi yang menggambarkan antigen-dependen, tetapi non-specific enhanced, aktivitas mikrobisida makrofag terhadap BCG (Bacillus Calmette-Guerin) dan Listeria pada pemaparan skunder terhadap patogen. Peningkatan selanjutnya dikaitkan dengan respon Th-1 dan produksi IFN-ɣ oleh sel imun antigen-activated dan diperpanjang pada sifat sitotoksik dan antitumor. Pada waktu itu, efek pada makrofag bagian imunitas Th2 mengarah pada IgE dan perlindungan parasit ekstraseluler dan respon alergi tetap belum jelas. Penemuan bahwa reseptor mannosa secara selektif diperkuat oleh Th2 IL-4 and IL-13 di dalam makrofag murine, dan menginduksi pembersihan ligan mannosilat endosit yang tinggi, meningkatkan major histocompatibility complex (MHC) ekspresi antigen kelas II, dan mengurangi sekresi sitokin pro-inflamasi, led Stein, Doyle, dan koleganya mengajukan bahwa IL-4 dan IL-13 menginduksi fenotip aktivasi alternatif, suatu keadaan yang sama sekali berbeda dari aktivasi IFN-γ tetapi jauh dari deaktivasi.

Sementara investigasi faktor-faktor yang mengatur metabolisme makrofag arginin, Mills dan kolega menemukan bahwa makrofag diaktivasi di dalam galur tikus dengan latar belakang Th1 dan Th2 yang secara kualitatif berbeda dalam kemampuan mereka merespon terhadap stimulasi klasik IFN-ɣ atau lipopolisakarida (LPS) atau keduanya dan mendefinisikan suatu perbedaan metabolik penting di dalam jalurnya: makrofag M1 membuat toksik nitrit oksida (NO), di mana makrofag M2 membuat poliamina trofik. Mereka mengajukan tesis bahwa istilah respon makrofag M1 dan M2, meskipun model ini ditangani lebih dengan predisposisi makrofag untuk membangun fenotip spesifik, itu bergantung pada transforming growth factor-beta (TGF-β)-mediated inhibisi inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan tidak tergantung pada sel T dan B.

Bukti yang dapat dipercaya aktivasi alternatif makrofag in vivo, ekivalen dengan observasi Mackaness untuk patogen intraseluler, datang dari pekerjaan yang dilakukan oleh Allen, de Baetselier, Brombacher, dan kolega di dalam infeksi parasit, yang mena mendapati suatu respon IgE dan Th2 yang kuat; suatu review terkini memberikan perspektif fungsional yang lebih komprehensif yang mengungkapkan heterogenitas dalam respon, tergantung pada nematoda, jaringan, dan tipe makrofag.

Sampai sini, pertanyaan-pertanyaan selaras dengan konteks Th1 dan Th2. Bagaimanapun, faktor-faktor dan sitokin yang lain, seperti IL-10, TGF-β (saat ini diakui produk T regulator [Treg], dan glukokortikoid tidak sesuai secara jelas di dalam konteks respon Th1 Th2 dan walaupun demikian terlihat mengeluarkan fenotip yang mirip di dalam makrofag, dengan laporan yang menunjukkan upregulasi reseptor mannosa, induksi IL-10, dan terlihat antagonis terhadap stimulasi klasik dengan downregulasi inflamasi sitokin dan mengurangi mekanisme membunuh intermediat nitrogen reaktif dan intermediat oksigen reaktif. Untuk mengintegrasikan kemiripan dan perbedaan fenotip, Mantovani dan kolega mengumpulkan stimulasi dalam suatu rangkaian kesatuan antara dua kondisi terpolarisasi secara fungsional, berdasarkan efek mereka pada marker makrofag terseleksi, istilah M1 (IFN-ɣ dikombinasikan dengan LPS atau tumor necrosis factor [TNF]) dan M2 (IL-4 [M2a], IL-10, dan GCs [M2c]); aktivasi diinduksi oleh reseptor Fc dan immune-complexes, dideskripsikan oleh Mosser, diistilahkan M2b. Kategorisasi hati-hati ini juga membuat jarak antara grup M2, seperti “aktivasi produk Th2”, “aktivasi pro-Th2”, dan “imunoregulasi”. Selanjutnya, penemuan mengenai efek-efek granulocyte macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) dan macrophage colony-stimulating factor (M-CSF) di dalam makrofag menyebabkan inklusi independen ini seperti stimulasi M1 dan M2, masing-masing.

Klasifikasi terkini aktivasi imun makrofag adalah tantangan karena memperhatikan dua aspek yang sangat berbeda: efek-efek in vitro ligan immune-related terseleksi pada fenotip makrofag dan bukti in vivo untuk subset makrofag yang berbeda di dalam penyakit, dapat dibandingkan dengan respon sel T dan B- terpolarisasi. Batasan utama pandangan terkini adalah, pertama, hal ini mengabaikan sumber dan konteks stimuli; kedua, stimuli M1 dan M2 tidak eksis sendiri di dalam jaringan; dan, ketiga, makrofag mungkin tidak membentuk aktivasi clear-cut subset atau memperluas secara klonal. Setelah ini, kita mendiskusikan hal-hal ini dan aspek-aspek lain paradigma aktivasi makrofag berdasarkan bukti yang sudah dipublikasikan.

Pengelompokan stimuli M1 dan M2: kebutuhan untuk kontekstualisasi imunologi

Definisi makrofag M1 dan M2 terpolarisasikan sejak dari era pre-genomik, ketika sedikit marker dianggap menentukan perbedaan dan kemiripan dalam respon makrofag terhadap stimuli. Definisi awalnya memperhitungkan kemungkinan konteks stimuli, tetapi saat ini pandangan secara umum mengurangi perspektif ini. Untuk selanjutnya, updating pengetahuan signaling sitokin, peranan sitokin dalam pengembangan sistem hematopoietik dan dalam model penyakit dengan tikus yang dimodifikasi secara genetis dan analisis transkriptomik dan proteomik mengungkapkan suatu gambaran yang lebih kompleks dan tantangan pengelompokan terkini. Dalam seksi yang akan datang, kita berdiskusi peranan stimuli yang berbeda diperhatikan dalam paradigma M1 dan M2 dan menyoroti jalur signaling dan keganjilan ekspresi gen antara stimuli M1 dan M2.

Sumber:

Fernando O. Martinez dan Siamon Gordon, The M1 and M2 paradigm of macrophage activation: time for reassessment, F1000Prime Reports 2014, 6:13.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.