Neuromec

June 26, 2008

Untuk menjawab pertanyaan mahasiswa Keperawatan Unsoed tersebut, berikut ini saya tuliskan monografi NEUROMEC, suatu sediaan kaplet salut selaput produksi Mecosin (bukan bermaksud promosi pabrik, karena tidak punya kepentingan sama sekali). Sebenarnya terdapat banyak sediaan sejenis yang ada di pasaran Indonesia.

 

NEUROMEC

Kaplet salut selaput

 

Komposisi

Tiap kaplet mengandung:

Metampiron                              500 mg

Vitamin B1                                 50 mg

Vitamin B6                                 10 mg

Vitamin B12                               10 mg

 

Cara kerja Obat

NEUROMEC kaplet adalah analgetik-antipiretik yang mengandung vitamin-vitamin yang berguna untuk menghilangkan rasa nyeri dan/atau linu yang neurogenik

 

Indikasi

NEUROMEC diindikasikan untuk menghilangkan:

         sakit kepala

         sakit gigi

         neuralgia

         lumbago

         rheumatisme

         kolik pada ginjal dan kantung empedu

         nyeri pada otot atau persendian

 

Dosis

– Dewasa                                 : sehari 3 – 4 kali, 1 – 2 kaplet

– Anak usia di atas 5 tahun        : sehari 3 – 4 kali, ½ – 1 kaplet

 

Kontraindikasi

         Penderita hipersensitif terhadap metampiron

         Wanita hamil, terutama pada 3 bulan pertama dan 6 minggu terakhir

         Bayi usia 3 bulan pertama atau dengan berat badan di bawah 5 kg

         Penderita dengan tekanan darah kurang dari 100 mmHg

 

Peringatan dan perhatian

         Walaupun jarang menimbulkan agranulositosis, tetapi dapat berakibat fatal, oleh karena itu sebaiknya tidak digunakan terus menerus dalam jangka panjang

         Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami gangguan/kelainan pembentukan darah

 

Efek samping

         reaksi hipersensitif

         reaksi pada kulit

         agranulositosis

 

Advertisements

Asam urat, hipertensi, pegel-pegel…

June 26, 2008

Kemarin, 25 Juni ada pertanyaan ke apotek kami tentang pemberian allopurinol, captopril, dan neuromec (produksi Mecosin) untuk pasien yang mempunyai keluhan asam urat, hipertensi, dan pegel-pegel…penyakit yang sering dialami oleh masyarakat di kampung.

Kebetulan yang bertanya waktu itu adalah mahasiswa S1 Keperawatan Unsoed. Yang ditanyakan waktu itu apakah ketiga obat tersebut aman jika dikonsumsi bersamaan?

Yang menarik di sini, mahasiswa tersebut udah cukup berani memberikan terapi kepada masyarakat…mahasiswa tersebut sekarang ini tercatat sebagai mahasiswa semester 6 dan tidak punya background akper atau SPK sebelumnya.

Mahasiswa tersebut “hanya” bermodalkan keberanian diri untuk memfasilitasi keluhan-keluhan tetangga di sekitar rumahnya…dia dianggap layaknya “dokter” oleh masyarakat di sekitarnya…

Saya salut dengan mahasiswa ini, ketika ada persoalan tentang obat yang dia belum mengetahui dia langsung nelpon/nanya ke apotek kami –apotek SAMARA–…juga beli obatnya di apotek kami juga…:)

Waktu saya mengajar saya sampaikan kepada mahasiswa Farmasi Unsoed tentang mahasiswa Keperawatan ini, yang notabene adalah tetangga kami di Unsoed. Tapi, saya belum melihat juga gereget dari mahasiswa Farmasi untuk berani belajar ‘menghadapi’ kondisi riil masyarakat…

Pertanyaan saya, apakah ada yang kurang beres dengan kurikulum/pembelajaran di pendidikan tinggi Farmasi di Indonesia sehingga mahasiswa/lulusannya…dalam hal ini Apoteker tidak berani terjun langsung ‘bertemu’ dengan masyarakat menularkan ilmunya tentang obat…memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang penggunaan obat yang benar…sehingga masyarakat umum atau profesi kesehatan yang lain juga mengakui eksistensi kita sebagai AHLI OBAT

Wallahu a’lam


Kontroversi Jamu

June 25, 2008

Belakangan ini semarak kembali tentang ‘pembredelan’ jamu-jamu yang diindikasikan mengandung BKO..hal ini disikapi beragam oleh elemen masyarakat. Ada yang menyikapi dengan biasa, ada yang malah pengen tahu, bahkan ada yang semakin curiga…apriori dan semakin tidak berani mengkonsumsi jamu.

Apoteker yang oleh pemerintah sah NKRI dipercaya menjadi pengelola dan penanggung jawab produksi jamu kembali menjadi sorotan…tentunya buat Apoteker yang masih punya hati nurani.

 


Apoteker Sahabat Masyarakat

June 25, 2008

Kebetulan, tanggal 12 Juni lalu, di Jerman diperingati “Hari Apotek
(Der Tag der Apotheke)”. Sebulan sebelum peringatan Hari Apotek itu,
Institut für Demoskopie Allensbach (The Allensbach Foundation for
Public Opinion Research), mengumumkan hasil jajak pendapat yang
dilakukan pada bulan April 2008. Institut Allensbach itu menyigi
pendapat masyarakat Jerman tentang institusi layanan umum (Apotek,
rumah sakit, Pos, Kereta Api, telkom dll).

Menurut hasil jajak pendapat di atas, layanan Apotek di Jerman dinilai
baik oleh 87% responden, dan menduduki urutan pertama, sama dengan
hasil jajak pendapat enam tahun lalu, pada 2002. Claudia Schiffer,
salah satu fotomodel papan atas dunia kelahiran Duesseldorf yang
sekarang tinggal di London, saat diwawancara koran Welt am Sonntag dan
ditanya “apa yang dirasakan hilang ketika tinggal di tempat barunya”,
mantan tunangan David Copperfield itu menjawab, “layanan Apotek Jerman!”

Bahkan, sebuah studi bertajuk “Zukunft der Apotheke (Masa Depan
Apotek” yang diadakan Marktforschungsinst ituts psychonomics AG
menyatakan bahwa saat ini, dua pertiga penduduk Jerman lebih memilih
mendatangi apotek untuk berkonsultasi perihal keluhan-keluhan ringan
berkaitan dengan kesehatannya dibandingkan pergi ke dokter. Studi yang
sama di tahun 2003, melaporkan baru sekitar 56% penduduk yang
melakukan hal yang sama. Sebuah koran lokal (Duesseldorfer Express,
Jumat 13 Juni 2008), saat memberitakan hasil studi itu, menulis judul
yang cukup provokatif: “Apotheke Statt Arzt-Besuch (Apotek pengganti
kunjungan ke Dokter)”