Polemik Puyer: Maju Terus RCTI

Beberapa waktu lalu ketika RCTI awal-awal menanyangkan liputan khususnya yang bertajuk POLEMIK PUYER, saya agak sedikit geregetan…karena dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber, belum sekalipun ditampilkan sosok apoteker sebagai salah satu profesi kesehatan yang katanya paling tahu tentang obat.
Tetapi, beberapa hari ini hati saya berubah menjadi simpatik dan malah sekarang punya harapan baru terhadap RCTI. Ya, beberapa hari ini POLEMIK PUYER mengarah kepada posisi dan peran Apoteker di apotek…saya mendukung sekali langkah RCTI ini.
Selama ini ISFI sebagai satu-satunya organisasi profesi apoteker di Indonesia sudah menyuarakan dan meng-harus-kan anggotanya (apoteker) untuk melakukan pelayanan kefarmasian yang tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP)…tapi pelaksanaannya????:)
Semoga dengan tayangan RCTI beberapa hari ini dan ke depan dapat menggugah hati para rekan sejawat apoteker dan juga pengambil kebiijakan terkait masalah pelayanan apoteker di apotek.
Semoga dengan tayangan RCTI ini juga dapat meluruskan duduk masalah pelayanan kesehatan di Indonesia yang terurai bagai benang kusut, yang ruwet dan sulit diluruskan…semua profesi kesehatan punya alibi pembenaran praktek profesinya, padahal UU sudah dibuat sedemikian rupa.
Mudah-mudahan dengan tayangan RCTI ini, segenap profsesi kesehatan menjadi terbuka dan berbenah diri…terutama hubungan dokter dan apoteker…sehingga dokter dan apoteker dapat benar-benar menjadi mitra yang sejajar dalam memberikan pelayanannya kepada pasien/konsumen.
Mudah-mudah dengan tayangan RCTI ini masyarakat semakin cerdas dan terbuka bahwa dalam urusan kesehatan melibatkan beberapa komponen terkait, tidak hanya dokter…sehingga masyarakat bisa semakin sadar bahwa ada profesi apoteker yang banyak mendalami tentang obat-obatan, juga ada perawat yang jago dalam merawat pasien, dan lain-lain.
Buat teman-teman apotekerku tercinta, ayo berbenah diri…

13 Responses to Polemik Puyer: Maju Terus RCTI

  1. ier says:

    Tapi Dhang.. hiks… masa sih, tadi siang…
    (ini kata purwanti 2003 yang kebetulan nonton TV di apotek sementara saya sholat zhuhur)
    Di seputar indonesia siang, reporter yang mengunjungi beberapa apotek, memblacklist sebuah apotek yang ditunggui oleh apoteker pendamping!!!
    Meskipun ditunggui apoteker pendamping, oleh RCTI digolongkan sebagai apotek yang tidak ada apotekernya???
    ApP itu bilang “Apoteker pengelolanya sedang tidak ada, saya apoteker pendamping”..
    Kurang apa coba apotek tersebut?

  2. Nofa says:

    betul, salut buat RCTI yang menampilkan dan mengangkat topik ini secara seri. lesson learned : para sejawat Apoteker harus BERUBAH sekarang. Polemik ini tidak harus terjadi berlarut-larut dari tahun lalu bila para apoteker terlibat langsung dalam menerapkan cara pembuatan obat yang baik di apotek.

  3. Dhadhang says:

    Buat Teh Irma…
    Itulah Teh, “penyakit” apoteker ya dirinya sendiri. Waktu itu saya juga nonton sendiri Teh…terus apa gunanya Apoteker pendamping ya, kalo tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang sedang dihadapi apoteknya…sedih juga Teh!!!:(
    Terus dia jadi Apoteker pendamping buat apa ya????!!!!??

  4. ier says:

    saya sering berharap banyak pada pendidikan farmasi di Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikannya.
    Biar apoteker lebih pede dalam mengatasi masalah, karena berbasis pada ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.
    Sedih juga lihat fenomena bermunculannya pendidikan2 apoteker swasta yang kualitasnya masih dipertanyakan.

  5. Dhadhang says:

    iya Teh, saya pun berharap demikian…hal itu juga yang melatar belakangi saya untuk banting setir dari dunia industri menuju dunia pendidikan…biar ikut turut serta memperbaiki kondisi apoteker yang dari dulu sampe sekarang penuh “kebiasan”…jadi provokator buat mahasiswa gitu maksudnya…:)
    Semoga aja harapan itu terwujud…

  6. iponknacihuy says:

    sebenarnya…kalo bisa dibilang menurut saya,karena nila seti2k rusak su2 sebelanga… Karena saya melihat sendiri tidak semuanya kesalahan apotekernya, kalo menurut saya juga kondisi di negara kita untuk obat pediatrik belum sangat memadai shg itu juga yg melatarbelakanginya. mungkin ini sebagai alarm peringatan juga bwt para apoteker muda selanjutnya

    Mohon bimbinganya….pak

    Selamat malam

    • dhadhang says:

      Irfan…
      Sebenarnya polemik puyer ini sudah tuntas. Dokter dan apoteker sudah sepakat bahwa untuk kondisi di Indonesia sediaan puyer ini masih bisa diterima dan digunakan. Yang jadi masalah adalah apabila proses peresepannya dan pembuatannya tidak mengikuti kaidah dan prosedur yang benar.
      So, there isn’t wrong about puyer…the problem is Apoteker never stand by and give service directly to patients.
      Salam,
      DWK

  7. irfan yuniantoro says:

    Iya sich Pak,,, sebenarnya PP-PK (Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian) sudah disyahkan belum ya pak,,

    kalo saya tidak salah sich..masih terdengar bahwa masih ada nya ketidaksepakatan ditetapkannya PP-PK tsb, karena banyak apoteker yg justru keberatan dgn PP-PK, yang nantinya mereka harus berada di apotek selama apotek buka,,, mungkin itu pak penyebab kenapa good pharmacy practise sulit diterapkan, coz apotekerya juga belum terbangun dari tidur….heheheh

  8. Dhadhang says:

    yap…intinya masalah Apoteker ya Apoteker itu sendiri.
    PP-PK belum diresmikan…entah kapan diresmikannya.

  9. iponknacihuy says:

    kalo begitu,,apakah menurut bapak,kontribusi dari apoteker senior pada apoteker muda juga mempengaruhi pada pemebentukan apoteker ke depannya?
    karena yang saya lihat perkembangan saat ini tidak kuatnya uluran tangan dari apoteker tua ke apoteker yang muda,pak….

  10. Dhadhang says:

    Betul Fan…makanya kalo ada ungkapan tentang “potong satu generasi” mungkin juga relevan dengan kondisi apoteker sekarang…:D

  11. idhahendriyani says:

    setau Idha, beberapa rumah sakit di Semarang udah mengikutsertakan apotekernya dalam menangani pasien rawat inap. Ini kemajuan lo… Masalahnya sekarang, apakah kita sebagai apoteker bisa diandalkan untuk itu. Jadi, Idha setuju banget dng kita harus berbenah diri kalo mau dianggap sejajar dengan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk pasien.
    Bahkan RS swasta di Yogya sudah lebih hebat lagi, bukan AA yang diajak visite tapi apotekernya, meskipun itu hanya berlaku untuk ruang2 kelas tertentu. Untuk pemberian obat puyer juga sudah menyertakan nama zat aktif atau berasal dari obat apa saja puyer tsb…
    Kok saya denger dari atasan saya, PP PK sudah diresmikan?

  12. dhadhang says:

    Dear Bu Idha,
    kayaknya sampe sekarang belum ada tuh sosialisasi bahwa RPP PK udah diresmikan…bahkan beberapa waktu lalu saya dapat informasi dari teman yang kebetulan bekerja di Dirjen Yanfar yang ternyata RPP PK dikembalikan lagi oleh staf kepresidenan ke Depkes…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: