Etika Obat Syrup Tanpa Label????

Beberapa waktu lalu, pas giliran jaga apotek saya kedatangan konsumen ingin membeli obat masuk angin. Seperti biasanya, saya tidak langsung mengambilkan obat yang konsumen inginkan –karena sang konsumen tidak menyebutkan merk obat tertentu–, saya bertanya dulu kepada konsumen tentang keluhan yang sedang dialami.

Kebetulan yang sedang menderita sakit adalah putri sang bapak –konsumen tersebut–, berumur 9 tahun. Sambil mendengarkan sang bapak bercerita, analisis saya mengarah bahwa putrinya tidak sedang mengalami masuk angin biasa.

Sang bapak bercerita, bahwa putrinya sudah mengalami keluhan tersebut –mual, BAB-nya agak encer, sedikit demam dengan interval waktu agak beraturan– selama lebih dari 2 hari. Sang bapak juga bercerita bahwa putrinya sudah dibawa ke praktek dokter terdekat (tentunya dispensing), dan sudah diberi obat, tapi selama 2 hari tersebut keluhannya belum hilang.

Saya bertanya kepada sang bapak, kira2 rumahnya jauh nggak dari apotek…beliau menjawab dekat kok…saya melanjutkan pertanyaan kepada sang bapak…kalo bapak tidak keberatan, boleh nggak saya tahu obat yang sudah diberikan oleh dokter…alhamdulillah sang bapak tidak keberatan.

Saya menanyakan obat yang sudah diberikan oleh dokter maksudnya adalah supaya tidak terjadi duplikasi obat dan bisa menentukan kira2 selanjutnya obat yang dapat diberikan kepada putri berusia 9 tahun tersebut tepat.

Tidak lama kemudian, sang bapak kembali ke apotek sambil membawa 2 botol syrup yang sudah tidak ada identitasnya, yang ada hanya label praktek dokter yang bersangkutan.

Akhirnya, saya hanya bisa mengidentifikasi dan berasumsi nama obat tersebut berdasarkan organoleptis aja…terus dikaitkan dengan keluhan dari konsumen. Kemudian saya putuskan nama obat yang bisa dibeli oleh sang bapak…tentunya saya berikan alternatif pilihan kepada sang bapak untuk memilih…Alhamdulillah, terjadi kesepakatan transaksi.

Yang menjadi pertanyaan besar saya adalah…sudah adakah aturan yang mengatur tentang pelepasan label resmi dari pabrik pembuat yang menempel pada botol syrup. Sebenarnya sudah sering saya menemukan kasus seperti ini di apotek saya…????

Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat tentang kesehatan, kalo profesi kesehatan malah menyembunyikan jati diri obat yang akan diberikan kepada pasien/konsumen…?????

7 Responses to Etika Obat Syrup Tanpa Label????

  1. ier says:

    ini baru SAYA PIKIR yaa…
    pelepasan label obat maksudnya biar aturan pakai yang tertera pada label tersebut ‘diabaikan’, sehingga pasien hanya membaca aturan pakai dari apotek saja (berdasarkan resep dokter).
    Dan.. orang kita itu kan gak mau ribet. Dikhawatirkan kalo mereka tau obatnya.. langsung aja dibeli ketika mereka merasakan keluhan yang sama. Padahal yo belom tentu mesti pake obat itu lagi. Mungkin emang mereka mesti ke dokter lagi.
    Huhuhuu.. serba salah ya…

  2. Dhadhang says:

    terus, yang benar dan baik itu gimana ya Teh…?

  3. ndarualqaz says:

    ehm….. ‘masuk angin’ itu penyakit opo ya mas???

  4. Nofa says:

    Wah, ini jelas pelanggaran mengenai pengaburan informasi. Aturan industri farmasi khan jelas untuk memberikan etiket yg jelas di setiap kemasan obat. Kalu ada yg sengaja membuang itu jelas melanggar aturan tsb. Selain itu dari sisi UU konsumen jelas merugikan pasien, belum lagi kalau ada masalah samapi terjadi reaksi alergi dll, gimana tuh tahu apa obatnya dan pemberian terapi bila ada masalah.
    BTW, ‘masuk angin’ cuma istilah awam yg dalam bahasa kedokteran disebut ‘commond cold’…

  5. adi says:

    Sy juga heran knapa label/etiket di botol sirup sampai di lepas, krn etiket itulah sumber informasi bagi pasien.. Sy sbg seseorang yg kerja di industri farmasi sgt menyayangkan perbuatan apotek yg sampe tega melepas etiket pada botol sirup..
    Btw nice posting n salam kenal, kbetulan sy juga orang farmasi yg pnya blog, mau tukaran link? Link blog ini sdh sy pasang di blog sy. Tolong di link balik ya. Makasih..

    • dhadhang says:

      Mas Adi, kasus yang saya temui adalah bukan apotek yang melepas etiket pada botol sirup, melainkan dokter yang kebetulan berpraktik dispensing.
      OK, saya link juga blog sampeyan…

      Makasih

  6. agung says:

    dokter,perawat,bidan justru senang klau pasienya bodoh, bahkan selalu berusaha menghilangkan identitas obat, berharap agar pasien kembali lagi, bahkan hanya obat bebas pu mereka sering melakukan itu… entahlah mereka gak pernah berfikir selain keuntungan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: