Obat Oplosan

March 29, 2010

Seorang pembeli datang ke apotek dengan keluhan sakit gigi dan berniat membeli obat. Kami menawarkan untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Pembeli menolak dengan alasan berniat membeli obat oplosan yang isinya 3 macam. Saya sudah mengira kalau obat oplosan ini terdiri dari antibiotic, penghilang rasa sakit dan antiinflamasi. Padahal yang dirasakan hanya sakit gigi tanpa gigi berlubang atau bengkak.

Dalam Standar Pengobatan, penggunaan obat untuk sakit gigi adalah sebagai berikut:

1. Analgetik atau penghilang rasa sakit, misal asam mefenamat, parasetamol atau antalgin

2. Antibiotik, diberikan apabila terjadi infeksi pada gigi, biasanya dalam kondisi gigi berlubang

3. Antiinflamasi, diberikan untuk mengurangi adanya inflamasi atau bengkak

Tetapi penggunaan obat di atas harus disesuaikan dengan kondisi penderita. Kalau hanya mengeluh sakit gigi tanpa ada infeksi tidak perlu menggunakan antibiotic dalam pengobatannya.

Kembali ke tema awal, obat oplosan. Ternyata masih ada yang menjual obat dalam bentuk oplosan, biasanya berupa bungkusan (plastik) kecil yang berisi beberapa butir tablet/kaplet atau kapsul yang tidak jelas identitasnya. Yang sering ditemui adalah obat sakit gigi dan pegal linu. Peracik mengemas kembali dengan merek baru atau tanpa merk (lepasan). Harganya juga sangat murah, berkisar antara Rp. 300,00 sampai Rp. 1000,00.

Masyarakat awam tidak mengetahui atau bahkan tidak peduli bahwa obat oplosan bisa membahayakan. Mengapa? Ada beberapa alasan, antara lain:

1. Obat oplosan tidak diketahui identitas masing-masing obatnya karena obat sudah dilepas dari kemasannya.

2. Obat oplosan tidak diketahui tanggal kadaluarsanya.

3. Obat oplosan sangat rentan terhadap kerusakan baik secara fisika maupun kimia karena kontak dengan udara langsung

4. Obat oplosan berisiko terkontaminasi yang bersumber dari udara, tangan pengemas atau dari obat lain.

Pernah seseorang bercerita, ketika membeli obat oplosan, obat yang dibeli sudah dalam kondisi lembek. Maka dari itu kita harus berhati-hati dalam memilih obat, usahakan membeli dan mengkonsumsi obat yang diperoleh dari tempat yang resmi (Apotek atau toko obat berijin), yang kemasannya masih utuh dan tanggal kadaluarsanya terlihat dengan jelas.

Advertisements

Beberapa kajian ilmiah tentang Jintan hitam (Nigella sativa Linn.)

March 24, 2010

Jintan hitam (Nigella sativa Linn.) sudah dikenal lama digunakan sebagai tanaman obat. Tanaman ini asli berasal dari Asia barat daya kemudian berkembang ke seluruh asia, timur tengah, dan afrika.

Para peneliti di luar negeri sudah banyak yang mengkaji keilmiahan khasiat tanaman ini, terbukti dengan banyaknya artikel penelitian yang bisa dijumpai di jurnal-jurnal penelitian luar negeri (internasional)

Tanaman ini secara empirik telah digunakan selama berabad-abad di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Secara tradisional, jintan hitam digunakan sebagai antiseptik, obat sakit kepala, rematik, penurun panas, obat maag, dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Beberapa penelitian melaporkan bahwa jintan hitam memiliki aktivitas sebagai antidiabetes (Khanam & Dewan, 2008), antiulcer, antitumor dan antikanker (Ivankovic et al., 2006; Mbarek et al., 2007; Medenica et al.,1997).

KANDUNGAN KIMIA JINTAN HITAM

Beberapa penelitian melaporkan bahwa kandungan kimia jintan hitam terdiri dari minyak atsiri, minyak lemak, asam lemak tak jenuh (omega 3 dan omega 6) d-limonena, simena, glukosida, saponin, zat pahit, jigelin, nigelon, dan timokuinon (Anonim, 2008).

Minyak jinten hitam mengandung asam lemak yang terdiri dari: asam linoleat 56%; asam oleat 24,6%; asam palmitat 12%; asam stearat 3%; asam eikosadienoat 2,5%; asam linolenat 0,7%, dan asam miristat 0,16% (Anonim, 2010).

AKTIVITAS BIOLOGIS DAN FARMAKOLOGIS

Hasil penelitian Kawther et al. (2008) menunjukkan bahwa jintan hitam (Nigella sativa Linn.) memiliki beberapa aktivitas biologis antara lain: antivirus, antikanker, anti-angiogenik, antioksidan, dan peroksidasi lipid. Jintan hitam memiliki aktivitas antivirus terhadap Infectious Laryngotracheitis virus (ILTV).

Jinten hitam yang diekstraksi dengan pelarut berbeda (air, etanol, dan kloroform) memiliki efek antimalaria terhadap tikus yang diberikan secara intraperitonial dan per oral (Abdulelah et al., 2007). Ekstrak kloroform dan etanol menunjukkan adanya penurunan parasitaemia dan peningkatan waktu hidup tikus yang terinfeksi malaria.

Thymoquinon merupakan salah satu komponen yang paling banyak ditemukan dalam jintan hitam, memiliki beberapa khasiat antara lain aktivitas antioksidatif dan anti-inflamasi (Ahmed et al., 2009).

AKTIVITAS ANTIKANKER

Beberapa penelitian in vitro dan in vivo telah dilakukan pada ekstrak  dan minyak jintan hitam. Pada tahun 1997, Medenica et al. melaporkan efek angiogenesis minyak jintan hitam pada sel kanker payudara, prostat, dan melanoma. Mbarek et. al. (2007) meneliti efek sitotoksik jintan hitam pada mastocytoma cell line (P815), sel vero (sel karsinoma dari monyet) dan sel karsinoma dari hati domba (ICOI). Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak (IC50 = 0.6% v/v) dan ekstrak etil asetat (IC50 = 0.75%) jintan hitam mempunyai aktivitas sitotoksik pada sel P815 lebih besar dibanding dengan ekstrak butanolnya(IC50= 2%).

Shoieb et. al. (2002) melaporkan bahwa minyak jintan hitam memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker tulang/sel COS31 (IC50 =7.7 μM), kanker ovarium/BG-1( IC50 = 39.65 μM), dan sel MDCK(IC50 =101 μM). Pada penelitian dengan hewan uji tikus yang dilakukan oleh Abdallah et al. (2008) menunjukkan bahwa jintan hitam memiliki efek protektif selama dilakukannya radioterapi.

AKTIVITAS ANTIDIABETES

Pemberian ekstrak pemberian ekstrak n-heksana jintan hitam atau jintan hitam mentah dapat menormalkan konsentrasi serum glukosa dan kolesterol yang tinggi pada tikus diabetes (Khanam & Dewan, 2008).

Jinten hitam memiliki memiliki efek menguntungkan pada glukosa darah puasa, kolesterol total, dan kolesterol LDL. Jinten hitam merupakan obat yang mungkin terbukti bermanfaat dalam pencegahan dan pengobatan sindrom resistensi insulin (Ahmad et al., 2008).

AKTIVITAS ANTIMIKROBA

Minyak jinten hitam memiliki aktivitas antimikroba, senyawa yang diidentifikasi mengandung efek antimikroba adalah thymohydroquinon yang terbukti aktif melawan bakteri Gram positif dan ragi (Mohamed et al., 1974)

Salman et al. (2008) meneliti tentang aktivitas antibakteri minyak jintan hitam terhadap beberapa isolate klinik bakteri yang resisten terhadap sejumlah antibiotic, dalam beberapa konsentrasi menggunakan teknik difusi agar. Hasilnya minyak yang tergantung dosis menunjukkan aktivtas antibakteri lebih tinggi terhadap bakteri Gram positif daripada bakteri Gram negative.

Referensi:

Anonim, 2008. Nigella sativa Linn., http://www.plantencyclopedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2009.

Anonim, 2010, Nigella sativa Healing Properties, http://nigella-sativa-research.com/?page_id=6. Diakses tanggal 21 Maret 2010.

Abdallah, N.M., Noaman, E.N.A., Eldesouky, H.M., and Mohamed, H.E., 2008, Freshly Crushed Black Seed Showed Good Protective Effect During Tumour Induction and Radiotherapy in JASMR: 3 (1): 1 – 9.

Ahmad Najmi, Mohammad Nasiruddin, Rahat Ali Khan, Shahzad F. Haque, 2008, Effect of Nigella sativa Oil on Various Clinical and Biochemical Parameters of Insulin Resistance Syndrome, Int. J. Diab. Dev. Ctries, January-March 2008 volume 28 issue 1

Ahmed Ragheb, Ahmed Attia, Wahid Shehab Eldin, Fawzy Elbarbry, Sana Gazarin, Ahmed Shoker, 2009, The Protective Effect of Thymoquinone, an Anti-oxidant and Anti-inflammatory Agent, against Renal Injury: A Review, Saudi J Kidney Dis Trasnpl 2009; 20(5):741-752

Abdulelah, H.A.A. and Zainal-Abidin, B.A.H., 2007, In Vivo Anti-malarial Tests of Nigella sativa (Black Seed) Different Extracts, American Journal of Pharmacology and Toxicology 2 (2): 46-50.

Ivankovic,S., Stojkovic, R., Jukic, M., Milos, M., Milos, M., Jurin, M., 2006, The Antitumor Activity of thyMoquinone and thyMohydroquinone in vitro and in vivo, Exp Oncol Journal, 28 (3) : 220–224.

Kawther S. Zaher, W.M. Ahmed and Sakina N. Zerizer, 2008, Observations on the Biological Effects of Black Cumin Seed (Nigella sativa) and Green Tea (Camellia sinensis), Global Veterinaria 2 (4): 198-204.

Khanam, M and Dewan, Z.F., 2008, Effects of The Crude and The n-hexane Extract of Nigella sativa Linn. (kalajira) upon Diabetic Rats, Bangladesh J Pharmacol, (4): 17-20.

Mbarek, L.A., Mouse, H.A., Elabbadi, N., Bensalah, M., Gamouh, A., Aboufatima, R., Benharref,  A., Chait, A., Kamal, M., 2007, Anti-tumor Properties of Blackseed (Nigella sativa L.) Extracts, Brazilian Journal of Medical and Biological Research 40: 839-847.

Medenica R., Janssen J, Tarasenko A, Lazovic G, 1997, Anti-angiogenic activity of Nigella sativa plant extract in cancer therapy. Proc Annu Meet Am Assoc Cancer Res. 38: A1337.

Mohamed A. Toama, Taha S. El-Alfy, and Hamed M. El-Fatatry, 1974, Antimicrobial Activity of the Volatile Oil of Nigella sativa Linn. Seeds, Antimicrobial Agents and Chemotherapy, Aug. 1974, p. 225-226.

Salman, Mohd Tariq; Khan, Rahat Ali and Shukla, Indu, 2008, Antimicrobial activity of Nigella sativa Linn. seed oil against multi-drug resistant bacteria from clinical isolates, Natural Product Radiance, 7 (1). Pp. 10-14.

Shoieb, A.M., Elgayyar, M., Dudrick, P.S., Bell, J.L., Tithof, P.K.,2003. In Vitro inhibiton on Growth and Induction of Apoptosis in Cancer Cell Lines by Thymoquinone. Int.J of Oncol. 22: 107-113.


Kesiapan Herbal Indonesia Menghadapi Herbal China???

March 19, 2010

Belakangan ini obat tradisional/herbal semakin nge-trend penggunaannya di masyarakat, terutama sebagai alternatif pengobatan penyakit kronis…mengingat semakin beragamnya penyakit akibat modernisasi & globalisasi.

Hal ini juga menyebabkan ‘menjamurnya’ industri obat tradisional berskala kecil. Sayangnya, produk yang dihasilkan cenderung sama sehingga yang terjadi adalah ‘pertempuran’ harga yang kurang sehat…kemungkinan besar yang dilihat oleh para “pemain” herbal tersebut adalah bisnis semata-mata yang kurang berpikir ke depan.

Produk-produk herbal yang diproduksi oleh para “pemain” Indonesia kebanyakan “me too” dari sisi formula, miskin dari sisi teknologi proses pembuatan…yang kelihatan hanya perang kemasan dan label. Sementara itu, riset dan pengembangan terhadap kualitas produk secara umum sangat minim dilakukan…hasilnya perlahan-lahan produk herbal kita “dikikis” oleh produk impor buatan China.

Produk herbal kita dari sisi khasiat, kebanyakan bersifat promotif dan preventif terhadap suatu penyakit. Sedangkan produk herbal China sudah banyak yang ditujukan untuk penyembuhan suatu penyakit yang benar-benar kronis (kuratif).

Produk herbal China sudah bisa kita dapatkan pada publikasi beberapa jurnal berbahasa Inggris…yang menunjukkan betapa produk herbal tersebut sudah disertai dengan riset ilmiah.

Kalau produk herbal Indonesia kondisinya masih seperti sekarang, kira-kira bagaimanakah nasib industri kecil obat tradisional (IKOT) ke depan…tentunya ketika ACFTA sudah mulai diberlakukan??? Mengingat pada era itu, pasar herbal Indonesia kemungkinan besar dibanjiri dengan produk herbal China…


Obat Sakit Gigi Menyebabkan Kantuk???

March 5, 2010

Sudah lama tidak meng-up load tulisan tentang serba-serbi apotek/apoteker, jadi pengen sharing lagi…seperti biasa, serba-serbi apotek/apoteker yang menarik diceritakan adalah bagaimana sampe sekarang pemahaman masyarakat tentang obat yang masih terkategorikan sangat rendah…

Cerita bermula ketika ada pembeli yang datang ke Apotek Samara dengan niatan mau membeli obat sakit gigi, berikut ini cuplikan percakapan yang terjadi:

Pembeli: “Bu, minta obat sakit giginya ya…tapi jangan yang menyebabkan kantuk…”
Apoteker: “Maksudnya gimana Pak..?”
Pembeli: “Kalo antalgin kan bisa menyebabkan kantuk? jadi minta yang bukan antalgin…”
Apoteker: “Pak, Antalgin tidak menyebabkan kantuk…Bla..bla….”
Akhirnya Bapak ini mendapatkan obat sakit gigi tanpa kuatir terserang kantuk…

Sang pembeli entah dapat info dari mana sehingga menyatakan kalau Antalgin dapat menyebabkan kantuk…seperti diketahui, efek samping Antalgin antara lain:

Infeksi lambung, hiperhidrosis; Retensi cairan dan garam; Reaksi alergi yang cukup sering terjadi: reaksi kulit dan edema angioneurotik; Efek samping yang berat: agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.

Berdasarkan percakapan di atas, menunjukkan untuk kesekian kalinya, betapa fungsi keberadaan Apoteker di apotek sungguh dibutuhkan masyarakat…supaya pemahaman masyarakat tentang obat semakin baik, supaya masyarakat semakin cerdas dalam melakukan pengobatan, supaya “kesalahan-kesalahan” informasi tentang obat di masayarakat bisa diluruskan, dan lain-lain.

Apoteker harus segera mengambil peran ini, peran yang sesuai dengan keilmuannya…bukankah selama 4 tahun kuliah sarjana dan 1 tahun kuliah profesi, Apoteker selalu di-suap-in dengan materi-materi terkait obat-obatan…akan sangat sayang kalau masa 5 tahun pembelajaran tersebut dibiarkan menguap begitu saja…


Interaksi Partikel yang Terlibat dalam Dispersi Aerosol Campuran Interaktif Terner

March 1, 2010

Pada artikel penelitian ini peneliti bertujuan untuk menguji deposisi obat in vitro dari campuran interaktif terner dan meneliti mekanisme aksi komponen terner dalam serbuk kering aerosol.

Dalam studi ini, campuran terner didefinisikan sebagai campuran interaktif yang mengandung partikel obat, pembawa laktosa kasar dan tambahan komponen eksipien. Meskipun laktosa telah dihadirkan sebagai pembawa kasar dalam campuran biner, penambahan laktosa termikronisasi dipertimbangkan untuk membuat campuran terner. Glukosa termikronisasi digunakan sebagai alternatif komponen terner. Faktor-faktor yang diuji termasuk tipe pembawa, tipe komponen terner, dan konsentrasi pembawa.

Campuran interaktif terner yang dibuat terdiri dari salbutamol sulfat (SS), pembawa laktosa kasar, dan laktosa mikronize (ML) atau glukosa mikronize (MG).

Mekanisme aksi komponen terner pada deposisi obat diteliti dengan pengujian interaksi partikel dalam formulasi serbuk menggunakan tiga metode. Pertama, urutan pencampuran komponen terner diuji. Kedua, penentuan bersamaan deposisi obat dan eksipien yang diaktifkan melalui pengujian interaksi partikel antara obat dan partikel eksipien halus (intrinsik atau secara eksternal ditambahkan dalam partikel terner). Deposisi obat dan eksipien aerosol diuji secara in vitro menggunakan suatu twin-stage impingier (TSI) pada kecepatan 60 L/menit dengan suatu unit peralatan Rotahaler. Ketiga, sifat adhesi permukaan pembawa laktosa ditentukan menggunakan teknik pemeriksaan koloid atomic force microscope (AFM)

Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Salbutamol sulfat termikronisasi (SS) (Glaxo Ellcome, Australia) sebagai model obat. Lima grade pembawa laktosa kasar yang digunakan: Superfine (SF), 100 Mesh (100 M) (New Zealand Milk Products Pty. Ltd., Australia); dan Pharmatose DCL 11 (DCL 11), Pharmatose 125 Mesh (125 M), dan Pharmatose 325 Mesh (325 M) (DMV International, Belanda). Komponen terner terdiri dari laktosa termikronisasi (ML) (Microfine, Borcula Whey Products Ltd., UK) atau glukosa termikronisasi (MG) (Ajax Chemicals, Australia) disiapkan dengan jetmilling (Chrispo jetmill 75P).

Emitted fraction (EF) didefinisikan sebagai sejumlah obat yang dihantarkan dari inhaler, dinyatakan sebagai persentase dosis perolehan kembali. Fine particle mass (FPM) didefinisikan sebagai sejumlah obat yang terdeposit dalam tahap 2. Fine particle fraction (FPF) didefinisikan sebagai sejumlah obat yang terdeposit dalam tahap 2, dinyatakan sebagai persentase dosis terpancarkan. Analisis statistik dilakukan menggunakan analisis variansi (Anova) satu arah. (Sigmastat, Jandel Scientific, CA) pada tingkat signifikansi 5%. Beberapa perbandingan dikerjakan menggunakan tes Tukey. Namun, randomisasi campuran serbuk tidak bisa diterapkan.

EF dari campuran terner tergantung pada jenis pembawa (p<0,05). EF yang lebih tinggi diperoleh dari campuran DCL 11, ini disebabkan ukuran pembawa yang lebih besar dan kebulatan pembawa meningkatkan fluidisation dan entrainment akibat sifat alir yang lebih baik. Tidak teramati adanya perbedaan EF antara campuran biner dan campuran terner. EF campuran terner tidak tergantung dari jenis komponen terner atau urutan pencampuran.

Partikel halus fraksi (FPF) dari campuran terner tergantung pada jenis pembawa (p<0,05), konsentrasi terner (p<0,05), dan jenis komponen terner (p <0,05). Campuran terner menghasilkan FPF lebih tinggi daripada campuran biner untuk semua pembawa, kecuali SF. Selain dari campuran SF, peningkatan konsentrasi terner meningkatkan FPF. FPF yang tinggi diperoleh dari campuran biner dan terner yang berisi pembawa SF, ini karena ukuran pembawa yang lebih kecil dan peningkatan proporsi partikel halus meningkatkan FPF. Nilai FPF lebih rendah diperoleh dari campuran DCL 11 karena ukuran pembawa yang lebih besar besar dan proporsi partikel halus yang lebih kecil. Menariknya, peningkatan konsentrasi terner umumnya meningkatkan FPF ke tingkat maksimal (sekitar 40%), mirip dengan yang diperoleh untuk campuran SF.

Efisiensi agregasi piranti inhaler menggambarkan FPF yang diperoleh. Penggunaan suatu piranti inhaler dengan efisiensi deagregasi yang lebih besar mungkin lebih meningkatkan FPF dari campuran terner.

FPF lebih tinggi diperoleh dengan menambahkan SS terhadap pra-blended kasar dan laktosa termikronisasi, ini disebabkan oleh pendudukan pembawa active sites oleh komponen terner.

Teknik pemeriksaan koloid AFM memungkinkan pengukuran langsung karakteristik adhesi pada permukaan pembawa sebelum dan sesudah penambahan partikel terner (ML atau MG). Partikel terner yang dicampur dengan SF dan pembawa 325 M menggunakan teknik pencampuran yang sama yang digunakan untuk campuran interaktif untuk studi aerosol, tanpa penambahan SS. Pengukuran langsung adhesi pada permukaan pembawa laktosa sebelum dan sesudah penambahan komponen terner oleh AFM menunjukkan adanya distribusi log-normal gaya adhesi.

Peningkatan kekuatan adhesi teramati pada permukaan pembawa setelah penambahan komponen terner adalah mungkin disebabkan oleh energi permukaan yang lebih tinggi dari lekatan partikel ML atau MG yang diproduksi oleh energi-tinggi penumbukan. Pelengkap partikel termikronisasi ini ke permukaan pembawa dapat menyediakan situs energi-tinggi adhesi, dengan adhesi yang lebih tinggi diamati sebagai konsentrasi dari partikel melekat yang meningkat.

Pengisian triboelectric mungkin terjadi selama proses pencampuran karena meningkatkan kontak partikel, mengakibatkan peningkatan kekuatan elektrostatik dan gaya adhesi lebih tinggi pada permukaan pembawa; namun, beberapa kehilangan pengisi kemungkinan telah terjadi sebelum pengukuran adhesi.

Peningkatan kekasaran permukaan yang disebabkan oleh partikel halus yang melekat pada permukaan pembawa dapat berkontribusi terhadap adhesi yang lebih tinggi, karena meningkatnya area kontak antara probe dan permukaan.

Studi sebelumnya menyarankan bahwa efek komponen terner pada peningkatan dispersi obat dapat dijelaskan oleh kejenuhan situs aktif pada permukaan pembawa oleh komponen terner, sehingga memungkinkan detasemen partikel obat lebih mudah. Namun, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menggunakan campuran interaktif yang berisi SS sebagai model obat pada konsentrasi lebih tinggi daripada formulasi komersial tidak sepenuhnya konsisten dengan mekanisme ini karena beberapa alasan berikut.

Pertama, agar saturasi active sites terjadi, beberapa partikel laktosa dan glukosa terner diperlukan untuk menempati sites adhesi energi-tinggi ini pada permukaan pembawa di tempat partikel obat. Dengan demikian, urutan pencampuran seharusnya mempengaruhi FPF karena baik partikel halus laktosa/glukosa atau partikel obat akan terikat pada situs energi-tinggi pada permukaan pembawa laktosa yang tergantung pada fraksi yang dicampur pertama. Namun, dalam studi ini, FPF diperoleh untuk campuran terner 5% SS-5% ML-325 M adalah tidak tergantung urutan pencampuran.

Kedua, saturasi active sites pada pembawa laktosa oleh komponen terner diusulkan untuk meninggalkan lowadhesion/passive sites  untuk adhesi obat; namun studi AFM menunjukkan bahwa energi permukaan situs adhesi lebih tinggi pada permukaan pembawa setelah penambahan laktosa terner halus dan partikel glukosa. Karakteristik adhesi permukaan meningkat dengan peningkatan konsentrasi partikel halus laktosa dan glukosa dan peningkatan karakteristik adhesi permukaan kemungkinan besar dikaitkan dengan kehadiran partikel halus terner. Partikel SS akan mungkin terkait dengan energi tinggi, partikel halus terner daripada situs energi yang rendah pada permukaan pembawa.

Ketiga, kehadiran SS dalam campuran biner diamati meningkat dalam FPM laktosa dibandingkan dengan pembawa laktosa saja. FPM laktosa meningkat dari 370 sampai 460 ug dan 70-120 ug untuk SF dan pembawa 325 M, masing-masing. Kehadiran SS karena itu mengusir laktosa halus intrinsik dari pembawa mungkin dengan menduduki situs adhesi pembawa yang lebih disukai atau oleh beberapa interaksi antara laktosa halus dan partikel SS. Pengamatan ini tidak konsisten dengan saturasi situs aktif karena laktosa halus intrinsik akan diharapkan untuk menduduki situs aktif permukaan pembawa, meninggalkan passive sites untuk adhesi SS.

Kepastian mekanisme yang mana penambahan partikel pembawa halus meningkatkan FPF obat dalam formulasi serbuk kering ini tidak meyakinkan. Beberapa pengamatan dari penelitian ini tidak konsisten dengan kejenuhan active sites. Hasil studi ini belum mampu mendefinisikan secara jelas di mana komponen terner meningkatkan dispersi obat, sehingga diajukan hipotesis yang melibatkan adhesi kompetitif dan multilayer.

Adhesi kompetitif dan proses redistribusi, yang sebelumnya ditampilkan untuk mempengaruhi homogenitas dan segregasi obat dalam campuran interaktif terner, dapat memberikan penjelasan untuk pengamatan dalam studi ini dan studi sebelumnya. Adhesi kompetitif menggunakan konsep distribusi konstan untuk menentukan interaksi material dengan bahan lain yang ada dalam campuran serbuk. SS dapat didistribusikan antara partikel pembawa besar dan partikel eksipien halus untuk menghasilkan sebuah campuran kesetimbangan dimana SS berhubungan dengan sites pada permukaan pembawa besar dan dengan sites pada partikel eksipien halus. Selain itu, tingkat saturasi permukaan dapat mempengaruhi proses dispersi. Pada konsentrasi obat tinggi dan eksipien halus, kemungkinan bahwa sites adhesi permukaan jenuh dan proses adhesi mungkin lebih kompleks, melibatkan agregasi dan pembentukan multilayer. Pada kenyataannya, SEM dalam studi ini secara jelas menunjukkan jaringan partikel multilayer pada permukaan partikel pembawa besar. Keterkaitan dengan multilayer, mungkin terdiri dari obat dan partikel eksipien halus, yang memungkinkan obat yang lebih besar lepas dari permukaan pembawa karena peningkatan massa detachment. Namun demikian, hipotesis ini membutuhkan pengujian lebih lanjut.

 Referensi: Margaret D. Louey and Peter J. Stewart, 2002, Particle Interactions Involved in Aerosol Dispersion of Ternary Interactive Mixtures, Pharmaceutical Research, Vol. 19, No. 10, October 2002