Sedikit tentang Thiomer: Generasi Baru Polimer Mukoadhesif

April 26, 2010

Konsep mukoadhesi mulai dikenal pada tahun 1980-an, sejumlah percobaan dilakukan untuk meningkatkan sifat adhesif suatu polimer. Percobaan-percobaan ini antara lain dengan menggunakan poli (etilen glikol) yang linier sebagai
promotor adhesi untuk hidrogel, netralisasi polimer ionik, mukoadhesi dengan proses hidrasi yang disesuaikan, dan pengembangan konjugat polimer-adhesin yang membuat suatu ikatan spesifik terhadap epithel. Bagaimanapun, semua sistem ini didasarkan pada bentuk ikatan nonkovalen seperti ikatan hidrogen, gaya Van der Waal’s, dan interaksi ionik. Berdasarkan ikatan ini, mereka hanya menyediakan mukoadhesi yang relatif lemah, dalam beberapa kasus tidak mencukupi untuk menjamin lokalisasi sistem penghantaran obat pada tempat target yang diberikan. Oleh karena itu, polimer mukoadhesif dalam beberapa kasus tidak efektif sebagai lem farmasetik. Sebuah anggapan generasi baru polimer mukoadhesif adalah polimer ter-thio-lasi atau thiomer yang ditandai. Kontras dengan polimer mukoadhesif yang sudah mapan, polimer-polimer baru ini mampu membentuk ikatan kovalen.

Struktur jembatan yang umumnya banyak dihadapi dalam sistem biologi-ikatan disulfida telah ditemukan sebagai adhesi kovalen polimer terhadap lapisan gel mukosa.

Thiomer adalah basis polimer mukoadhesif, yang menunjukkan hubungan rantai samping thiol. Berdasarkan reaksi pertukaran thiol/disulfida dan/atau proses oksidasi sederhana, ikatan disulfida terbentuk antara beberapa polimer dan subdomain kaya-cistein dari mukus glikoprotein. Oleh karena itu, thiomer menyerupai mekanisme alami pelepasan mukus glikoprotein, yang juga terikat secara kovalen dalam lapisan mukus dengan pembentukan ikatan disulfida.

Bentuk sediaan berdasarkan thiomer:

  1. Mikropartikel dan nanopartikel. Mikropartikel dan nanopartikel memiliki ukuran partikel yang kecil, mereka menunjukkan waktu tinggal di gastrointestinal lebih lama meskipun tanpa beberapa sifat mukoadhesif dengan berdifusi ke dalam lapisan gel mukus.
  2. Tablet Matrix. Tablet matrix mukoadhesif berguna untuk intraoral, peroral, okular, dan vaginal-penghantaran lokal atau sistemik. Terkait dengan sifat cross-linking in situ thiomer, sifat kohesif dan juga stabilitas matrix pembawa yang mengembang dapat dijamin.
  3. Gel. Gel mukoadhesif berguna dalam kasus intraoral, vaginal, nasal, dan penghantaran okular. Lebih jauh, bagaimanapun, formulasi gel mukoadhesif tidak dapat tercapai maksimal, karena sifat adhesif sebagai sistem penghantaran yang sering tidak terpenuhi. Kentungan besar menggunakan thiomer dalam formulasi gel terlihat tidak hanya dalam mukoadhesif mereka tetapi juga dalam sifat gelling-in situ mereka.
  4. Formulasi Likuid. Thiomer menunjukkan stabil ketika disimpan dalam bentuk kering. Dalam larutan berair; bagaimanapun, mereka menunjukkan membentuk ikatan disulfida dalam suatu penanda tergantung-pH. Karena instabilitas dalam larutan berair, thiomer belum banyak digunakan dalam formulasi likuid.

Modifikasi kimia polimer mukoadhesif yang sudah mapan melalui derivatisasi dengan beberapa reagen yang berhubungan dengan fungsi sulfhydryl menyebabkan perbaikan yang dramatis dalam sifat polimer. Sifat mukoadhesif dan sifat kohesif menjadi lebih kuat. Lebih jauh, polimer ter-thio-lasi menunjukkan sifat gelling-in situ. Ke depan, efikasi generasi baru polimer mukoadhesif ini dapat didemonstrasikan dengan beberapa studi in vivo dalam spesies yang berbeda dalam mukosa gastrointestinal, nasal, dan okular.

Referensi:

MP Wagh, OU Joshi, JS Patel, and VR Jain, 2009, Thiomers: A New Generation of Mucoadhesive Polymers, Research J. Pharm. and Tech.2 (2): April-June.


Sedikit Sharing tentang Etika Bisnis Islam (2)

April 21, 2010

Lanjutan dari tulisan sebelumnya, berikut adalah penggalan tulisan Etika Bisnis Islam (yang disarikan dari beberapa tulisan di internet)…subhanalloh, ternyata yang namanya pemasaran juga ada etikanya dalam Islam.

Etika Pemasaran

Dalam konteks etika pemasaran yang bernuansa Islami, dapat dicari pertimbangan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan dua persyaratan dalam proses bisnis yakni persyaratan horizontal (kemanusiaan) dan persyaratan vertikal (spritual). Surat Al-Baqarah menyebutkan ”Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada yang diragukan didalamnya. Menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Ayat ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam etika marketing:

a)  Allah memberi jaminan terhadap kebenaran Al-Qur’an, sebagai reability product guarantee.

b)  Allah menjelaskan manfaat Al-Qur’an sebagai produk karyaNya, yakni menjadi hudan (petunjuk).

c)  Allah menjelaskan objek, sasaran, customer, sekaligus target penggunaan kitab suci tersebut, yakni orang-orang yang bertakwa.

Isyarat diatas sangat relevan dipedomani dalam melakukan proses marketing, sebab marketing merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi mesin suatu perusahaan.

Mengambil petunjuk dari kalimat ”jaminan” yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, maka dalam rangka penjualan itupun kita harus dapat memberikan jaminan bagi produk yang kita miliki. Jaminan tersebut mencakup dua aspek:

  • Aspek material, yakni mutu bahan, mutu pengobatan, dan mutu penyajian.
  • Aspek non material, mencakup; ke-Halalan, ke-Thaharahan (Higienis), dan ke-Islaman dalam penyajian.

Bahwa jaminan terhadap kebaikan makanan itu baru sebagian dari jaminan yang perlu diberikan, disamping ke-Islaman sebagai proses pengolahan dan penyajian, serta ke-Halalan, ke-Thaharahan. Jadi totalitas dari keseluruhan pekerjaan dan semua bidang kerja yang ditangani di dalam dan di luar perusahaan merupakan integritas dari ”jaminan”.

Urutan kedua yang dijelaskan Allah adalah manfaat dari apa yang dipasarkan. Jika ini dijadikan dasar dalam upaya marketing, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan penjelasan mengenai manfaat produk (ingridients) atau manfaat proses produksi dijalankan. Adapun metode yang dapat digunakan petunjuk Allah: ”Beritahukanlah kepadaku (berdasarkan pengetahuan) jika kamu memang orang-orang yang benar”(QS:Al-An’am;143). Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk meyakinkan seseorang terhadap kebaikan yang kita jelaskan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan, data dan fakta. Jadi dalam menjelaskan manfaat produk, nampaknya peranan data dan fakta sangat penting, bahkan seringkali data dan fakta jauh lebih berpengaruh dibanding penjelasan. Sebagaimana orang yang sedang dalam program diet sering kali memperhatikan komposisi informasi gizi yang terkandung dalam kemasan makanan yang akan dibelinya.

Ketiga adalah penjelasan mengenai sasaran atau customer dari produk yang kita miliki. Dalam hal ini kita dapat menjelaskan bahwa makanan yang halal dan baik (halalan thoyyiban), yang akan menjadi darah dan daging manusia, akan membuat kita menjadi taat kepada Allah, sebab konsumsi yang dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan harus memenuhi tiga unsur :

  • Materi yang halal
  • Proses pengolahan yang bersih (Higienis)
  • Penyajian yang Islami

Dalam proses pemasaran promosi merupakan bagian penting, promosi adalah upaya menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana seseorang sebaiknya mempromosikan barang dagangannya? Selain sebagai Nabi Rasulullah memberikan teknik sales promotion yang jitu kepada seorang pedagang. Dalam suatu kesempatan beliau mendapati seseorang sedang menawarkan barang dagangannya. Dilihatnya ada yang janggal pada diri orang tersebut. Beliau kemudian memberikan advis kepadanya: ”Rasulullah lewat di depan sesorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang tersebut jangkung sedang baju yang ditawarkan pendek. Kemudian Rasululllah berkata: ”Duduklah! Sesungguhnya kamu menawarkan dengan duduk itu lebih mudah mendatangkan rezeki.” (Hadits).

Dengan demikian promosi harus dilakukan dengan cara yang tepat, sehingga menarik minat calon pembeli. Faktor tempat dan cara penyajian serta teknik untuk menawarkan produk dilakukan dengan cara yang menarik. Faktor tempat meliputi desain interior yang serasi yang serasi, letak barang yang mudah dilihat, teratur, rapi dan sebagainya.

Memperhatikan hadits Rasulullah diatas sikap seorang penjual juga merupakan faktor yang harus diperhatikan bagi keberhasilan penjualan. Selain faktor tempat, desain interior, letak barang dan lain-lain.

Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam Islam posisi pebisnis pada dasarnya adalah profesi yang terpuji dan mendapat posisi yang tinggi sepanjang ia mengikuti koridor syari’ah. Muamalah dalam bentuk apapun diperbolehkan sepanjang ia tidak melanggar dalil syar’i. Islam melarang seorang Muslim melakukan hal yang merugikan dan mengakibatkan kerusakan bagi orang lain sebagaimana disebutkan dalam haditsnya. Rasululllah bersabda: ”La dlaraara wala dliraara” (HR. Ibnu Abbas).


Sedikit Sharing tentang Etika Bisnis Islam (1)

April 21, 2010

Tulisan ini saya sarikan dari beberapa tulisan di internet, mengingat saya seorang farmasis yang juga senang ber-enterpreneurship. Yang saya up-load di sini sebenarnya penggalan, tulisan lengkapnya lumayan banyak…diperuntukkan memenuhi “tugas”…

Islam Sumber Nilai dan Etika

Islam merupakan sumber nilai dan etika dalam segala aspek kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk wacana bisnis. Islam memiliki wawasan yang komprehensif tentang etika bisnis. Mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok kerusakan dalam perdagangan, faktor-faktor produksi, tenaga kerja, modal organisasi, distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada etika sosio ekonomik menyangkut hak milik dan hubungan sosial.

Aktivitas bisnis merupakan bagian integral dari wacana ekonomi. Sistem ekonomi Islam berangkat dari kesadaran tentang etika, sedangkan sistem ekonomi lain, seperti kapitalisme dan sosialisme, cenderung mengabaikan etika sehingga aspek nilai tidak begitu tampak dalam bangunan kedua sistem ekonomi tersebut. Keringnya kedua sistem itu dari wacana moralitas, karena keduanya memang tidak berangkat dari etika, tetapi dari kepentingan (interest). Kapitalisme berangkat dari kepentingan individu sedangkan sosialisme berangkat dari kepentingan kolektif. Namun, kini mulai muncul era baru etika bisnis di pusat-pusat kapitalisme.

Suatu perkembangan baru yang menggembirakan. Al-Qur’an sangat banyak mendorong manusia untuk melakukan bisnis. (Qs. 62:10,). Al-Qur’an memberi pentunjuk agar dalam bisnis tercipta hubungan yang harmonis, saling ridho, tidak ada unsur eksploitasi (QS. 4:29) dan bebas dari kecurigaan atau penipuan, seperti keharusan membuat administrasi transaksi kredit (QS. 2: 282).

Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang bereputasi international yang mendasarkan bangunan bisnisnya kepada nilai-nilai ilahi (transenden). Dengan dasar itu Nabi membangun sistem ekonomi Islam yang tercerahkan. Prinsip-prinsip bisnis yang ideal ternyata pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Realitas ini menjadi bukti bagi banyak orang, bahwa tata ekonomi yang berkeadilan, sebenarnya pernah terjadi, meski dalam lingkup nasional, Negara Madinah. Nilai, spirit dan ajaran yang dibawa Nabi itu, berguna untuk membangun tata ekonomi baru, yang akhirnya terwujud dalam tata ekonomi dunia yang berkeadilan.

Syed Nawab Haidar Naqvi, dalam buku “Etika dan Ilmu Ekonomi: Suatu Sistesis Islami”, memaparkan empat aksioma etika ekonomi, yaitu tauhid, keseimbangan (keadilan), kebebasan, dan tanggung jawab.

Tauhid, merupakan wacana teologis yang mendasari segala aktivitas manusia, termasuk kegiatan bisnis. Tauhid menyadarkan manusia sebagai makhluk ilahiyah, sosok makhluk yang bertuhan. Dengan demikian, kegiatan bisnis manusia tidak terlepas dari pengawasan Tuhan, dan dalam rangka melaksanakan titah Tuhan. (QS. 62:10).

Keseimbangan dan keadilan, berarti bahwa perilaku bisnis harus seimbang dan adil. Keseimbangan berarti tidak berlebihan (ekstrim) dalam mengejar keuntungan ekonomi (QS.7:31). Kepemilikan individu yang tak terbatas, sebagaimana dalam sistem kapitalis, tidak dibenarkan. Dalam Islam, Harta mempunyai fungsi sosial yang kental (QS. 51:19).

Kebebasan, berarti, bahwa manusia sebagai individu dan kolektivitas, punya kebebasan penuh untuk melakukan aktivitas bisnis. Dalam ekonomi, manusia bebas mengimplementasikan kaedah-kaedah Islam. Karena masalah ekonomi, termasuk kepada aspek mu’amalah, bukan ibadah, maka berlaku padanya kaedah umum, “Semua boleh kecuali yang dilarang”. Yang tidak boleh dalam Islam adalah ketidakadilan dan riba. Dalam tataran ini kebebasan manusia sesungguhnya tidak mutlak, tetapi merupakan kebebasan yang bertanggung jawab dan berkeadilan.

Pertanggungjawaban, berarti, bahwa manusia sebagai pelaku bisnis, mempunyai tanggung jawab moral kepada Tuhan atas perilaku bisnis. Harta sebagai komoditas bisnis dalam Islam, adalah amanah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Etika Bisnis Islami

Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980-an dan menjadi fenomena global di tahun 1990-an jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat, akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolak kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya.

Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Qur’an terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) “Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. Dawam Rahardjo justru mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai tanggungjawab manusia terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam.

Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak.

Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran (QS: Al Ahzab;70-71). Sebagian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha senantiasa terbuka dan transparan dalam jual belinya ”Tetapkanlah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga” (Hadits). Akhlak yang lain adalah amanah, Islam menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsure yang melampaui batas atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ”Tidak ada iman bagi orang yang tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji”, ”pedagang yang jujur dan amanah (tempatnya di surga) bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada”(Hadits). Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan, mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ”Allah mengasihi orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang” (Hadits).

Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu ”Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” (QS: Al- Maidah;1), ”Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah ”Tanda-tanda munafik itu tiga perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia khianat” (Hadits).


Sekilas tentang Self-assembling Nanopartikel Chitosan/Poly-γ-Glutamic Acid untuk Penghantaran Obat Tertarget

April 13, 2010

Nanopartikel self-assembling dibuat dengan proses gelasi ionotropik antara γ-PGA terfolat dan chitosan rantai lurus yang dilabeli secara fluoresensi.  Sejumlah cairan γ-PGA-FA (0.3 mg/mL, pH 9.0) ditambahkan (1 ml/5 s) ke dalam larutan CS-FITC (0.3 mg/mL, pH 4.0) pada kondisi pengadukan secara kontinu, terbentuklah sebuah sistem koloid (transmitan 75% pada λ 500 nm, pH 7.4), yang tetap stabil pada temperatur ruang selama beberapa pekan pada pH fisiologis.

Untuk menilai kesesuaian nanosystem Chitosan/Poly-γ-Glutamic Acid untuk penghantaran obat, kita perlu menggabungkan komponen tambahan untuk dapat menuju target sel kanker-spesifik dan deteksi uptake seluler. Sebagai bagian target, dipilih vitamin FA (folic acid), yang memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor folat yang diekspresikan secara berlebih dalam sejumlah sel epithel dan sel kanker myeloid.

Transmission electron microscope (TEM) A JEOL2000 FX-II digunakan untuk mengkarakterisasi ukuran dan morfologi nanopartikel kering. Sampel untuk analisis TEM diperoleh dengan penetesan dispersi koloid yang mengandung nanopartikel ke dalam kisi tembaga yang disalut karbon. Nanopartikel ini kering pada temperatur ruang. Diameter rata-rata dan distribusi ukuran diperoleh menggunakan program SPSS 11.0.

Sampel untuk atomic force microcopy (AFM) dibuat dengan penuangan suspensi nanopartikel (0.1 mg/mL) pada sebuah kaca; lalu kering di bawah kondisi vakum. Nanopartikel dianalisis pada perangkat WITec alpha300 A/R menggunakan mode pengetapan.

Diameter hidrodinamis nanopartikel (0.1–1 mg/mL) diukur menggunakan fotometer BI-200SM Brookhaven Research laser  light scattering yang dilengkapi dengan suatu laser Nd/YAG solid-state yang dioperasikan pada panjang gelombang λ0=532 nm. Pengukuran ukuran rata-rata nanopartikel ditentukan pada 25°C dengan sudut deteksi 90° dalam kuvet kuarsa silinder yang homogen secara optis. Setiap sampel diukur triplo, dan dihitung data rata-ratanya.

Mobilitas elektrokinetik nanopartikel diukur pada 25°C dengan alat Malvern Nanosizer Nano-ZS. Sampel diukur tiga kali dan dihitung data rata-ratanya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nanosystem CS-FITC/γ-PGA-FA terdiri dari partikel sferis dengan permukaan yang halus, baik dalam lingkungan berair maupun dalam kondisi kering. Mikrograf TEM menunjukkan rentang ukuran 30–160 nm dengan nilai rata-rata 67.8 nm.

Kesimpulannya, hasil pengujian toksisitas in vivo dan in vitro menunjukkan bahwa kedua tipe nanopartikel (CS-FITC/γ-PGA dan CS-FITC/γ-PGAFA) adalah nontoxic, sehingga sistem CS/γ-PGA dapat digunakan untuk pemberian sistemik. Toksisitas nanosystem CS/γ-PGA ditentukan pada cultured cells dan pada beberapa hewan.
Dua jenis nanopartikel chitosan/poly-γ-glutamic acid yang dilabel secara fluoresensi diuji mengikuti:
(a) kontrol “nontargeted”, CS-FITC/γ-PGA γ-PGA tidak dikonjugasi dengan folat) dan (b) “targeted” partikel CS-FITC/ γ-PGA-FA (γ-PGA dikonjugasi dengan folat).

Data kuantitatif yang diperoleh menunjukkan bahwa partikel “targeted” yang diinternalisasikan ke dalam sel lebih cepat secara signifikan dan akumulasi total partikel-partikel ini secara substansi lebih tinggi dalam sel kanker jika dibandingkan dengan partikel “nontargeted”.

Referensi:

Zsolt Keresztessy, Magdolna Bodnár, Elizabeth Ber, István Hajdu, Min Zhang, John F. Hartmann, Tamara Minko, and János Borbély, 2009, Self-assembling chitosan/poly-γ-glutamic acid nanoparticles for targeted drug delivery, Colloid Polym Sci (2009) 287:759–765


Sekelumit tentang Toksisitas Polimer terkait dengan Masa Depan Terapi Polimer

April 6, 2010

Penggunaan polimer dalam dunia medis merupakan bukan sesuatu yang baru. Pada abad ke-21 kita mulai menyaksikan pergeseran paradigma dalam praktek medis. Penggunaan  bahan polimer biomedis (misalnya prostesis, peralatan medis,  lensa kontak, bahan gigi, dan eksipien farmasi) cukup eksis pada abad terakhir, polimer-based medicines sintesis mulai memasuki penelitian klinis secara rutin selama dua dekade terakhir.

Apalagi terkait dengan penerapan nanoteknologi ke depan dalam pengobatan, yang sering dikenal dengan istilah “nanomedicine”, peranana polimer sangat signifikan. Bahkan, belakangan mulai dirintis riset tentang penggunaan polimer sebagai salah satu pendekatan terapi pengobatan, yang kemudian dikenal dengan “terapi polimer”

Ketika memulai desain konjugat polimer-obat baru pada tahun 1970, Duncan dan timnya melibatkan suatu pendekatan sistematis untuk:
1. Seleksi pembawa polimerik yang sesuai untuk digunakan
2. Membantu mengoptimiskan desain konjugat yang sesuai untuk percobaan klinik awal.
Pendekatan yang sama digunakan untuk mengevaluasi polimer-polimer baru lain sebagai pembawa potensial, sebagai contoh alginat, chitosan, dan famili dendrimer.

Beberapa pembawa polimerik baru yang diajukan untuk pemberian secara parenteral harus non-toxic dan non-imunogenik. Lebih dari itu, pembawa polimerik tersebut haru menunjukkan suatu distribusi yang merata dalam tubuh yang sesuai dengan jaringan target, baik untuk tempat terapetik yang diinginkan dan jauh dari tempat toxisitasnya. Polimer seharusnya biodegradable.

Hasil yang diperoleh dari pengujian in vitro seharusnya digunakan sebagai penuntun apakah evaluasi in vivo preliminer untuk polimer dibenarkan secara etika. Hal ini seharusnya ditekankan bahwa hasil yang diperoleh dalam beberapa pengujian in vitro dipengaruhi sangat kuat oleh:
– berat molekul polimer (dan polidispersitas)
– tipe-sel yang digunakan, jangka-waktu inkubasi, dan pengujian
– kondisi yang digunakan (seperti media±serum, kontrol-pH media dll)
– ketidakmurnian dalam sampel polimer (misal residu pelarut)

Penting untuk diperhatikan bahwa polimer-polimer yang digunakan untuk konjugasi bioaktif obat dan protein menunjukkan bioaktivitas yang minim. Polimer seperti dextrin, PVP, dan kopolimer HPMA menunjukkan sitotoksisitas yang kecil.

Ketika mengembangkan metodologi skrining preklinis inovatif untuk polimer-polimer baru (atau konjugat terapetik mereka) baik sebagai pengujian biomarker, atau sebagai  teknik profiling metabolisme/farmakokinetik baru, hal ini penting untuk memahami secara penuh apakah ditemukan korelasi in vitro-in vivo-clinical yang bermakna atau tidak.

Referensi:

Rogério Gaspar and Ruth Duncan, 2009, Polymeric carriers: Preclinical safety and the regulatory implications for design and development of polymer therapeutics, Advanced Drug Delivery Reviews 61 (2009) 1220–1231.