Sekelumit tentang Toksisitas Polimer terkait dengan Masa Depan Terapi Polimer

Penggunaan polimer dalam dunia medis merupakan bukan sesuatu yang baru. Pada abad ke-21 kita mulai menyaksikan pergeseran paradigma dalam praktek medis. Penggunaan  bahan polimer biomedis (misalnya prostesis, peralatan medis,  lensa kontak, bahan gigi, dan eksipien farmasi) cukup eksis pada abad terakhir, polimer-based medicines sintesis mulai memasuki penelitian klinis secara rutin selama dua dekade terakhir.

Apalagi terkait dengan penerapan nanoteknologi ke depan dalam pengobatan, yang sering dikenal dengan istilah “nanomedicine”, peranana polimer sangat signifikan. Bahkan, belakangan mulai dirintis riset tentang penggunaan polimer sebagai salah satu pendekatan terapi pengobatan, yang kemudian dikenal dengan “terapi polimer”

Ketika memulai desain konjugat polimer-obat baru pada tahun 1970, Duncan dan timnya melibatkan suatu pendekatan sistematis untuk:
1. Seleksi pembawa polimerik yang sesuai untuk digunakan
2. Membantu mengoptimiskan desain konjugat yang sesuai untuk percobaan klinik awal.
Pendekatan yang sama digunakan untuk mengevaluasi polimer-polimer baru lain sebagai pembawa potensial, sebagai contoh alginat, chitosan, dan famili dendrimer.

Beberapa pembawa polimerik baru yang diajukan untuk pemberian secara parenteral harus non-toxic dan non-imunogenik. Lebih dari itu, pembawa polimerik tersebut haru menunjukkan suatu distribusi yang merata dalam tubuh yang sesuai dengan jaringan target, baik untuk tempat terapetik yang diinginkan dan jauh dari tempat toxisitasnya. Polimer seharusnya biodegradable.

Hasil yang diperoleh dari pengujian in vitro seharusnya digunakan sebagai penuntun apakah evaluasi in vivo preliminer untuk polimer dibenarkan secara etika. Hal ini seharusnya ditekankan bahwa hasil yang diperoleh dalam beberapa pengujian in vitro dipengaruhi sangat kuat oleh:
– berat molekul polimer (dan polidispersitas)
– tipe-sel yang digunakan, jangka-waktu inkubasi, dan pengujian
– kondisi yang digunakan (seperti media±serum, kontrol-pH media dll)
– ketidakmurnian dalam sampel polimer (misal residu pelarut)

Penting untuk diperhatikan bahwa polimer-polimer yang digunakan untuk konjugasi bioaktif obat dan protein menunjukkan bioaktivitas yang minim. Polimer seperti dextrin, PVP, dan kopolimer HPMA menunjukkan sitotoksisitas yang kecil.

Ketika mengembangkan metodologi skrining preklinis inovatif untuk polimer-polimer baru (atau konjugat terapetik mereka) baik sebagai pengujian biomarker, atau sebagai  teknik profiling metabolisme/farmakokinetik baru, hal ini penting untuk memahami secara penuh apakah ditemukan korelasi in vitro-in vivo-clinical yang bermakna atau tidak.

Referensi:

Rogério Gaspar and Ruth Duncan, 2009, Polymeric carriers: Preclinical safety and the regulatory implications for design and development of polymer therapeutics, Advanced Drug Delivery Reviews 61 (2009) 1220–1231.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: