Hati-hati dengan Obat Tradisional Bernomer Registrasi Fiktif

May 25, 2010

Trend gerakan ke alam (back to nature) hampir memasuki seluruh aspek kehidupan. Tidak ketinggalan dengan dunia obat-obatan. Memasuki abad milenium pengobatan menggunakan bahan baku dari alam semakin banyak digunakan. Bahkan sekarang industri-industri farmasi besar Indonesia juga sudah memproduksi beberapa obat-obatan yang berbasis herbal (bahan alam).

Ketika saya membuka web site Badan POM, ternyata banyak sekali produk berkategorikan Obat Tradisional yang sudah beredar di pasar Indonesia, yang mencakup Obat Tradisional lokal (produksi industri dalam negeri) dan Obat Tradisional impor (produksi industri luar negeri). Pabrikannya pun cukup beragam, mulai dari industri yang benar-benar sudah menerapkan cGMP (current Good Manufacturing Practice) sampai dengan industri kecil obat tradisional yang CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik)-nya asal-asalan.

Namun demikian, di balik banyaknya obat tradisional yang beredar tersebut, ternyata banyak juga dijumpai obat tradisional fiktif. Disebut obat tradisional fiktif karena dalam kemasannya tertulis obat tradisional, tetapi nomer registrasinya fiktif. Nomer registrasi fiktif ini dapat berarti:

  • Pabrikan obat tradisional menulis asal nomer registrasi, tanpa melalui registrasi resmi kepada Badan POM
  • Obat tradisional sempat diregistrasikan ke Badan POM, tetapi pasca launching terjadi penyalahgunaan. Misal diregistrasikan sebagi obat luar, tapi digunakan sebagai tetes mata. Sehingga dalam web site Badan POM juga tercantum daftar produk dengan nomer registrasi yang dibatalkan.

Masyarakat harus hati-hati terhadap hal ini, karena menyangkut nyawa dan kesehatan masyarakat itu sendiri. Karena bisa jadi obat tradisional yang sedang digunakan sekarang memiliki efek yang manjur, tetapi ternyata di kemudian hari menyebabkan efek negatif yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Untuk mengantisipasi hal ini, masyarakat dapat mengkonsultasikan keberadaan obat tradisional dengan nomer registrasi yang meragukan kepada Apoteker. Karena hal-hal yang mengurusi kebertanggungjawaban obat tradisional, mulai dari produksi sampai penggunaan di masayarakat adalah profesi Apoteker ini.

Untuk para Apoteker, tidak perlu panik ketika ada konsumen yang datang kepada Anda menanyakan tentang kebenaran nomer registrasi suatu obat tradisional. Alhamdulillah, Badan POM dengan web site-nya sekarang bisa dibilang cukup memfasilitasi untuk mengetahui kebenaran nomer registrasi suatu obat tradisional.

Untuk pengusaha obat tradisional, mari kita pikirkan juga nasib orang lain (baca: keselamatan dan kesehatan pengguna obat tradisional). Jangan hanya memikirkan diri sendiri dengan hanya mencari untung keduniaan semata.


Kisah Apoteker di Apotek (1)

May 4, 2010

Seperti biasa, setiap akhir pekan mendapat giliran menjaga dan melayani konsumen di apotek. Pekerjaan yang menjadi ajang indikator sejauh mana profesi Apoteker dikenal dan dihargai di masyarakat. Hampir selalu didapati cerita-cerita riil yang tidak dapat ditemukan di dunia teori/perkuliahan.

Akhir pekan kemarin terdapat seorang bapak datang ke apotek mau beli asam mefenamat, dengan mantapnya saya ambilkan asam mefenamat yang ada di etalase (stok yang ada produksi I**of*r*a). Ketika saya sodorkan asam mefenamat tersebut, si Bapak langsung bertanya…biasanya bukan yang ini, tapi yang bentuknya kayak kapsul (si Bapak menjelaskan salah satu produk asam mefenamat yang mengarah pada produksi B**no*a**a)…

Terjadilah dialog…setelah dijelaskan bahwa yang berbeda hanya pabrik pembuatnya, tapi isi dan nama obatnya sama, si Bapak bertanya lagi, apakah ini asam mefenamat yang digunakan untuk mengobati sakit persendian? Saya mencoba menjelaskan bahwa indikasi utama asam mefenamat adalah antiperadangan, untuk mengilangkan rasa sakit, dan rasa ngilu. Eh si Bapak masih ngotot bertanya apakah asam mefenamat ini yang bisa digunakan untuk mengobati sakit sendi…saya jawab bisa Pak, tapi sebenarnya untuk sakit sendi ada obat lain yang lebih tepat…dan si Bapak pun memutuskan untuk pergi dari apotek tanpa membeli asam mefenamat yang saya sodorkan.

Cerita Bapak (calon pembeli) dengan asam mefenamat ini mengingatkan saya terhadap pernyataan salah satu dosen saya, seorang Prof. Dr lulusan Prancis yang mengatakan bahwa orang Indonesia tergolong “sakti-sakti”…karena menderita sakit tertentu diobati dengan obat yang kurang tepat indikasi, eh hasilnya tetap sembuh sehingga terjadi justifikasi-justifikasi yang kurang tepat dalam hal penggunaan obat.

Namun demikian, terlepas “sakti-saktinya” orang Indonesia, salah satu point besar yang patut menjadi perhatian dunia kesehatan kita adalah tentang edukasi penggunaan obat…dalam hal ini dituntut kontribusi dan peranan Apoteker yang maksimal. Kontribusi dan peran apoteker ini dapat dimulai dengan kehadiran apoteker yang intensif di apotek sehingga paradigma apoteker hanya numpang nama di apotek dapat tereliminasi…sehingga pelayanan apotek dapat “terstandarisasi” dengan pelayanan langsung oleh apoteker.

Menurut hasil benchmarking pendidikan farmasi di UK, di bidang farmasi masyarakat, apoteker bertanggung jawab pada penyediaan/pemenuhan resep obat, memberi penyuluhan kepada pasien dan memberi tanggapan terhadap gejala-gejala penyakit mereka, peningkatan kesehatan, dan pemeriksaan obat. Mereka memberikan pelayanan kefarmasian pada pemukiman dan rumah-rumah perawatan/jompo, dan mereka terlibat dalam upaya mengurangi bahaya penyalahgunaan obat dengan cara berpartisipasi dalam program pertukaran jarum dan pengawasan penggunaan obat. Pemakaian sistem komputer dalam peracikan menjamin agar interaksi obat, overdosis dan ketidaksesuaian dapat segera dideteksi sehingga memberi waktu lebih banyak bagi apoteker untuk memberi arahan kepada pasien serta petugas pelayanan kesehatan. Banyak apoteker yang langsung terlibatdalam memastikan supaya pasien memperolah resep yang paling tepat, dan supaya pasien termotivasi serta mengetahui cara menggunakan obat.

Referensi:
Anonim, Pharmacy Benchmarking, http://aptfi.or.id