Kisah Apoteker di Apotek (1)

Seperti biasa, setiap akhir pekan mendapat giliran menjaga dan melayani konsumen di apotek. Pekerjaan yang menjadi ajang indikator sejauh mana profesi Apoteker dikenal dan dihargai di masyarakat. Hampir selalu didapati cerita-cerita riil yang tidak dapat ditemukan di dunia teori/perkuliahan.

Akhir pekan kemarin terdapat seorang bapak datang ke apotek mau beli asam mefenamat, dengan mantapnya saya ambilkan asam mefenamat yang ada di etalase (stok yang ada produksi I**of*r*a). Ketika saya sodorkan asam mefenamat tersebut, si Bapak langsung bertanya…biasanya bukan yang ini, tapi yang bentuknya kayak kapsul (si Bapak menjelaskan salah satu produk asam mefenamat yang mengarah pada produksi B**no*a**a)…

Terjadilah dialog…setelah dijelaskan bahwa yang berbeda hanya pabrik pembuatnya, tapi isi dan nama obatnya sama, si Bapak bertanya lagi, apakah ini asam mefenamat yang digunakan untuk mengobati sakit persendian? Saya mencoba menjelaskan bahwa indikasi utama asam mefenamat adalah antiperadangan, untuk mengilangkan rasa sakit, dan rasa ngilu. Eh si Bapak masih ngotot bertanya apakah asam mefenamat ini yang bisa digunakan untuk mengobati sakit sendi…saya jawab bisa Pak, tapi sebenarnya untuk sakit sendi ada obat lain yang lebih tepat…dan si Bapak pun memutuskan untuk pergi dari apotek tanpa membeli asam mefenamat yang saya sodorkan.

Cerita Bapak (calon pembeli) dengan asam mefenamat ini mengingatkan saya terhadap pernyataan salah satu dosen saya, seorang Prof. Dr lulusan Prancis yang mengatakan bahwa orang Indonesia tergolong “sakti-sakti”…karena menderita sakit tertentu diobati dengan obat yang kurang tepat indikasi, eh hasilnya tetap sembuh sehingga terjadi justifikasi-justifikasi yang kurang tepat dalam hal penggunaan obat.

Namun demikian, terlepas “sakti-saktinya” orang Indonesia, salah satu point besar yang patut menjadi perhatian dunia kesehatan kita adalah tentang edukasi penggunaan obat…dalam hal ini dituntut kontribusi dan peranan Apoteker yang maksimal. Kontribusi dan peran apoteker ini dapat dimulai dengan kehadiran apoteker yang intensif di apotek sehingga paradigma apoteker hanya numpang nama di apotek dapat tereliminasi…sehingga pelayanan apotek dapat “terstandarisasi” dengan pelayanan langsung oleh apoteker.

Menurut hasil benchmarking pendidikan farmasi di UK, di bidang farmasi masyarakat, apoteker bertanggung jawab pada penyediaan/pemenuhan resep obat, memberi penyuluhan kepada pasien dan memberi tanggapan terhadap gejala-gejala penyakit mereka, peningkatan kesehatan, dan pemeriksaan obat. Mereka memberikan pelayanan kefarmasian pada pemukiman dan rumah-rumah perawatan/jompo, dan mereka terlibat dalam upaya mengurangi bahaya penyalahgunaan obat dengan cara berpartisipasi dalam program pertukaran jarum dan pengawasan penggunaan obat. Pemakaian sistem komputer dalam peracikan menjamin agar interaksi obat, overdosis dan ketidaksesuaian dapat segera dideteksi sehingga memberi waktu lebih banyak bagi apoteker untuk memberi arahan kepada pasien serta petugas pelayanan kesehatan. Banyak apoteker yang langsung terlibatdalam memastikan supaya pasien memperolah resep yang paling tepat, dan supaya pasien termotivasi serta mengetahui cara menggunakan obat.

Referensi:
Anonim, Pharmacy Benchmarking, http://aptfi.or.id

One Response to Kisah Apoteker di Apotek (1)

  1. sri wijiati says:

    be inspired. thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: