Sekilas tentang University of Twente

February 26, 2016

2016-02-03 11.30.40

Ketika searching-searching di dunia maya untuk mencari profesor dan universitas yang ingin dituju untuk studi lanjut S3, sempat tertambat di web universitas ini, http://www.utwente.nl, dan di web terlihat ada bidang yang sesuai dengan kajian saya di Indonesia. Ketika ngecek di daftar universitas yang masuk database LPDP, universitas ini pun ada.

Sebelum ketemu dengan Prof. Gert Storm di Jakarta, universitas ini belum terlalu melekat di kepala, yang diingat dari universitas ini adalah gencarnya promosi kampus ini di internet. Dan ketika Prof. Gert Storm mengatakan bahwa beliau mempunyai lowongan mahasiswa Ph.D di University of Twente (UT) saya pun bilang “nggak masalah”.

Seiring berjalannya waktu saya pun bertanya-tanya dalam diri, sebenarnya UT itu universitas swasta apa universitas negeri sih, karena kok sepertinya promosinya gencar banget di internet. Cari-cari di internet belum nemu jawaban, akhirnya pertanyaan itu saya tanyakan kepada mahasiswa Belanda yang kebetulan sedang magang di program internasional FEB Unsoed. Dari Pieter, saya memperoleh jawaban, dia bilang bahwa University of Twente adalah universitas negeri, dia menambahkan hampir semua perguruan tinggi di Belanda adalah berstatus negeri (milik pemerintah).

Dapatlah jawaban pertama tentang status UT, masih ada pertanyaan lagi, jika statusnya negeri kenapa promosi UT sangat gencar di internet? Saya pun menemukan jawabannya setelah saya menjadi mahasiswa Ph.D di sini.
UT dengan salah satu tag line-nya “High Tech Human Touch” berusaha memadukan antara teknologi tinggi dan sentuhan kemanusiaan. UT memiliki fakultas/depatemen/program studi yang mencakup sains eksak, teknologi, dan sains sosial. Salah satunya adalah adanya program studi enterpreneurship (kewirausahaan). Dengan perpaduan enterpreneurship dan computer science, maka tidak heran jika promosi kampus ini di internet relatif sangat gencar.

Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan salah satu mahasiswa Ph.D di sini, dia bilang bahwa saat ini UT merupakan salah satu universitas yang cukup kaya di Belanda, makanya di tampilan webnya juga ada tulisan “The most enterpeneur university”.

Mahasiswa UT berasal dari hampir seluruh penjuru dunia, yang satu ruangan dengan saya dari Ukraina, Turki, dan Polandia. Yang satu grup riset di bidang Targeted Therapeutics ada yang dari Jerman, India, Belanda, Iran, dan Indonesia tentunya. Saya sempat satu apartemen dengan mahasiswa dari Rumania dan Prancis.
Pernah ngobrol dengan roommate yang dari Rumania, dia bilang bahwa UT merupakan salah satu top universitiy di dunia, untuk mencari nilai bagus di sini nggak mudah, bagaikan mimpi.. tapi dia pernah mendapatkan nilai 9. Jadi nggak salah, kalo UT masuk dalam database kampus dunia di LPDP.

UT terletak di Enschede, dinamakan University of Twente karena Twente merupakan suatu kawasan yang mencakup beberapa kota. Kawasan Twente meliputi beberapa kota antara lain Enschede, Hengelo, Almelo, Deventer, dll. Enschede dikenal sebagai kota di kawasan Twente yang paling ramai. Ibarat di Indonesia, di daerah Jawa Barat terdapat daerah yang dikenal masuk dalam kawasan Parahyangan.

Advertisements

Farmasi dan Linieritas Keilmuannya

February 20, 2016

Beberapa waktu lalu, chatting dengan salah seorang teman dosen via FB.. Teman yang juga seorang dosen itu bertanya kepada saya, “Ngambil bidang apa S3-nya?”, saya jawab “Targeted Therapeutics”. Teman tersebut nanya lagi, “emang di University of Twente ada farmasinya?”

Akhirnya terjadilah diskusi lumayan menarik dalam chatting tersebut. Teman dosen tersebut juga “galau” dengan adanya aturan linieritas dalam kenaikan pangkat dosen di Indonesia. Saya pun bercerita bahwa di University of Twente memang tidak ada program studi farmasi atau jurusan farmasi atau bahkan fakultas farmasi, tetapi di kampus ini memiliki satu grup riset yang bernama Targeted Therapeutics. Grup riset Targeted Therapeutics ini berada di bawah Departemen Biomaterial and Science Technology dan Faculty of Science and Technology.

Orang-orang yang tergabung di dalam grup riset Targeted Therapeutics ini sangat heterogen, ada yang berbackground farmasi, biologist, chemist, biochemist, biopharmaceutical science, dll.  Di bidang ini memang bisa dikaji melalui pendekatan biologi molekuler, farmakologi molekuler, biokimia, biofarmasetika, farmasetika, material science, dll.

Iya.. seiring perkembangan zaman melalui globalisasi keilmuan, saat ini dan ke depan memang diperlukan kajian yang komprehensif dan integratif terkait suatu bidang ilmu. Sekarang ini bukan lagi zaman ego dengan bidang ilmunya masing-masing.

Farmasi pun demikian.. sejak dari awal perkembangannya, farmasi merupakan bidang ilmu yang merupakan irisan dari beberapa bidang kajian, sehingga semakin ke sini, program studi-program studi farmasi di Indonesia hampir semuanya juga berbentuk fakultas. Karena farmasi memang bukan MIPA murni dan bagian dari ilmu kesehatan yang jelas-jelas kajiannya adalah tentang obat mulai dari A sampai Z.

Secara garis besar, Farmasi terbagi dalam 4 kelompok kajian, yaitu Kimia Farmasi, Biologi Farmasi, Farmasetika, dan Farmakologi-Farmasi Klinik. Dilihat dari namanya terbaca bahwa kajian-kajian tersebut merupakan irisan ilmu-ilmu terkait. Namun demikian, dosen yang mengajar seharusnya juga lulusan farmasi supaya mengetahui batasan keilmuannya. Dosen farmasi pula yang seharusnya mengetahui arah dan perkembangan keilmuan farmasi.

Nah, beberapa waktu lalu sempat marak wacana tentang linieritas keilmuan terkait dengan jenjang jabatan akademik dosen di Indonesia. Salah satu yang sedikit mengalami “kegalauan” adalah beberapa teman dosen farmasi, sehingga sebagian dari mereka pun memilih meneruskan studinya yang “aman-aman” saja yang penting bernaung di bawah program studi farmasi atau jurusan farmasi atau fakultas farmasi. Padahal studi S3 itu menuntut kedalaman ilmu dan komprehensifitas keilmuan.

Tapi sebenarnya, sepanjang yang saya ketahui, wacana linieritas keilmuan sudah dianggap selesai oleh beberapa petinggi Kemenristekdikti.. yaitu dilihat pendidikan terakhirnya, yaitu S3-nya di bidang apa, yang penting setelah jadi doktor atau Ph.D tri dharma pendidikan tingginya (pengajaran/pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) sesuai dengan bidang yang dikaji selama S3.

Nah ini harus segera dicermati dan diantisipasi oleh teman-teman farmasi (dosen dan mahasiswa), karena jika kita masih disibukkan dengan urusan yang kayak beginian, farmasi akan menjadi katak dalam tempurung. Saat ini kajian-kajian tentang drug discovery, drug development, drug delivery, dll yang mempelajari dan mendalami tidak hanya orang-orang farmasi. Jangan sampai brand farmasi sebagai “tukang obat” tinggal nama, karena orang-orang farmasi sendiri tidak mau membuka diri dan berkolaborasi dengan kolega-kolega terkaitnya. Mengutip pernyataan seorang teman farmasi yang sekarang lebih intens di bidang bisnis farmasi, pada zaman seperti sekarang ini yang bisa bertahan dan eksis adalah orang-orang yang lincah dan dapat bergerak cepat.

 


Menyoal Pengelolaan Beasiswa Studi Lanjut di Indonesia

February 19, 2016

Beberapa hari belakangan ini, di beberapa media sosial ramai dibahas tentang pengelolaan beasiswa studi lanjut (S2 dan S3), terutama setelah dilakukannya rapat dengar pendapat antara menristekdikti dengan komisi X DPR RI. Wacana penarikan pengelolaan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Kemenkeu ke Kemenristekdikti memicu para awardee (penerima) beasiswa LPDP untuk bersuara melalui berbagai jaringan media sosial yang ada.

Para awardee yang jumlahnya sudah sekitar 5000 orang berteriak dengan lantang bahwa tidak ada masalah dengan pengelolaan beasiswa LPDP selama ini. Mereka cukup puas dengan profesionalitas pelayanan dari pihak LPDP, bahkan menurut sebagian besar dari mereka mengatakan pengelolaan beasiswa LPDP yang merupakan salah satu unit BLU di Kemenkeu adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Pelayanan dan pengelolaan beasiswa LPDP selama ini dikenal rapi, sistematis, dan pencairan dananya tidak bermasalah. Komunikasi antara awardee dengan pengelola beasiswa LPDP sangat bagus baik secara lisan maupun tulisan (online via email, FB, grup WA, dan lain-lain).

Hal ini kontras dengan pengelolaan beasiswa yang dilakukan oleh kemenristekdikti, kementerian baru yang merupakan hasil merger antara kemenristek dan dirjen dikti. Berdasarkan curhat-an para penerima beasiswa dikti, pengelolaan beasiswanya masih perlu banyak perbaikan, diantaranya: kemudahan komunikasi, transparansi, sosialisasi, keterlambatan pencairan dana, dan lain-lain. Beban perbaikan pengelolaan beasiswa tersebut saat ini ditambah dengan proses mergerisasi kemenristekdikti yang hingga saat ini belum tuntas 100%.

Sebenarnya wacana penarikan pengelolaan beasiswa LPDP dari Kemenkeu ke Kemenristekdikti tidak perlu muncul seandainya kita melihat substansi dari tujuan pemberian beasiswa tersebut. Beasiswa LPDP yang mulai digulirkan pada tahun akademik 2012/2013 terinspirasi untuk mencetak para pemimpin bangsa yang berkualitas dan berkarakter. Salah satu inisiator lahirnya beasiswa LPDP adalah Ibu Sri Mulyani (Menkeu pada era Presiden SBY), yang waktu itu berfikiran alokasi anggaran dana pendidikan sebesar 20% harus ada yang disisihkan untuk pembentukan dan pengembangan SDM Indonesia. Visi beasiswa LPDP adalah generasi emas tahun 2045, dengan nilai-nilai yang ingin diciptakan adalah membentuk pemimpin-pemimpin bangsa yang berintegritas, profesional, selalu bersinergi dengan berbagai pihak, selalu melayani dengan sepenuh hati, dan sempurna dalam melaksanakan pekerjaan/tugas.

Tujuan dan nilai-nilai yang ingin dicapai dan sedang/akan dikembangkan oleh beasiswa LPDP ini terimplementasikan dalam target dan sasaran penerima beasiswanya. Beasiswa LPDP diberikan dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan LPDP menyediakan skema khusus untuk masyarakat Indonesia yang berprestasi dan tinggal di daerah 3T dalam bentuk beasiswa afirmasi. Dalam proses seleksi penerimaan beasiswa LPDP, sangat terlihat bahwa tidak hanya faktor akademik yang diperhatikan, karena seorang pemimpin yang hebat tidak cukup hanya dengan mengandalkan nilai akademik yang bagus.

Sementara itu, beasiswa yang difasilitasi oleh kemeristekdikti jelas sekali tujuannya adalah menciptakan akademisi-akademisi handal yang memiliki kualifikasi akademik sesuai tuntutan dan kebutuhan zaman. Mengingat saat ini, seorang dosen minimal harus berpendidikan S2. Dengan tujuan ini, yang dapat mengakses beasiswa dikti ini adalah “hanya” dosen dan calon dosen.

Berdasarkan tujuannya, jelas sekali tidak dapat dipaksakan penarikan pengelolaan beasiswa LPDP dari Kemenkeu ke Kemenristekdikti. Apalagi di hampir setiap kementerian di Indonesia juga menganggarkan dana peningkatan mutu SDM-nya dalam bentuk studi lanjut, bahkan kabar terkini, Menteri Kelautan dan Perikanan menyediakan dana yang cukup besar terhadap peneliti dan staf di jajaran kementeriannya untuk studi lanjut.

Jika yang menjadi masalah kemenristekdikti terkait beasiswa studi lanjut dosen-dosennya adalah database, maka upaya solutifnya adalah melalui perapian sistem pelaporan dan database secara online. Perlu diketahui, para dosen tidak hanya menggunakan beasiswa dari dana pemerintah RI dalam melaksanakan studi lanjutnya (S2/S3). Terdapat sebagian dosen yang studi lanjut di luar negeri menggunakan beasiswa dari sumber dana dari luar (Monbusho, DAAD, ADB, Stuned, dan lain-lain).

Jika dipaksakan pengelolaan beasiswa LPDP di bawah kemenristekdikti, maka peningkatan mutu SDM Indonesia akan berjalan relatif lambat, karena tidak semua penerima beasiswa tersebut akan ditampung menjadi dosen semua. Beberapa waktu lalu, dikti sempat membuat skema beasiswa unggulan untuk calon dosen, yang pada akhirnya dihentikan karena tidak semua kampus bersedia menerima calon-calon dosen tersebut.

Semangat perbaikan SDM yang saat ini sedang tumbuh dan bergelora di kalangan anak muda Indonesia seiring antusiasme terhadap beasiswa yang ditawarkan oleh LPDP hendaknya tidak dibungkam dan diredam dengan wacana-wacana yang membuat mereka galau. Saat ini awardee LPDP yang tersebar di hampir seluruh dunia sedang menyelesaikan studinya. Sudah saatnya kementerian-kementerian dan lembaga-lembaga tinggi negara yang ada di negeri ini bersinergi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan menundukkan ego masing-masing untuk kemajuan dan peningkatan derajat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional.

*) Tulisan ini pernah dimuat di Koran Sindo edisi cetak, terbit tanggal 6 Desember 2015. Oleh pihak surat kabar, judulnya diganti menjadi “LPDP, Antara Kemenkeu dan Kemenristekdikti”


Berusaha Semaksimal Mungkin, ALLAH Pasti Memberikan yang Terbaik

February 15, 2016

Salah satu hal yang memotivasi saya untuk memilih pekerjaan menjadi dosen adalah dapat terus sekolah. Bagi saya, melanjutkan sekolah ke tingkat S2 dan S3 dengan biaya sendiri merupakan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Melalui BPPS Dikti, pada tahun 2009 – 2011 saya melanjutkan studi S2 di Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta, alhamdulillah pada sekitar bulan Oktober tahun 2011 sudah dinyatakan sah menyandang gelar M.Sc.

Sebenarnya sebelum memutuskan meneruskan studi S2 di UGM, terlintas pikiran ingin studi S2 di luar negeri. Dengan berbagai pertimbangan waktu itu, saya memutuskan melanjutkan studi S2 di UGM. Namun demikian, keinginan untuk belajar ilmu farmasi di negeri orang masih ada dan terus menyala. Dengan belajar ilmu farmasi di luar negeri, saya berharap dapat memperoleh ilmu yang baru, suasana akademik yang berbeda, mitra yang baru, mendapatkan pengalaman internasional, dan lain-lain.

Keinginan tersebut saya biarkan terus menyala di dalam diri saya, sehingga di sela-sela kesibukan saya beraktivitas sebagai dosen di Jurusan Farmasi Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) Purwokerto saya harus menyempatkan belajar bahasa Inggris supaya dapat mencapai skor TOEFL yang menjadi persyaratan utama para pemberi dana beasiswa studi ke luar negeri. Ditambah lagi, sejak Oktober 2013 saya dipercaya menjadi Ketua Jurusan Farmasi Unsoed, menjadikan belajar bahasa Inggris jika tidak disempatkan akan terlantar.

Memasuki Januari 2015, bersama beberapa teman yang berencana akan meneruskan studi S3, saya ikut kursus persiapan tes TOEFL di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris di Purwokerto. Pada akhir Maret 2015 saya mengikuti tes TOEFL ITP yang diselenggarakan di lembaga kursus bahasa Inggris tersebut. Alhamdulillah dari tes tersebut menghasilkan skor TOEFL ITP saya masuk rentang persyaratan kebanyakan para pemberi dana beasiswa studi ke luar negeri, meskipun pada batas bawah.

Setelah mempunyai sertifikat TOEFL ITP, perjuangan berikutnya adalah mencari calon profesor yang sesuai dengan bidang yang saya kaji di Farmasi Unsoed. Bidang kajian saya di Farmasi Unsoed adalah teknologi farmasi, yang merupakan bagian dari farmasetika yang arahnya adalah hilirisasi produk farmasi. Teknologi farmasi tidak terpisahkan dengan kajian sistem penghantaran obat, oleh karena itu, dalam mencari calon profesor saya mencari dalam bidang teknologi farmasi dan/atau sistem penghantaran obat.

Saya menelisik satu per satu profesor dari kampus-kampus yang terdatabase di buku panduan BPPLN Dikti dan buku panduan LPDP, dengan prioritas yang berasal dari negara-negara di kawasan Eropa terlebih dahulu. Negara-negara di kawasan Eropa hampir semuanya sudah cukup maju pendidikan dan penelitiannya di bidang farmasi. Publikasi dan karya mereka berkompetisi dengan Amerika Serikat. Selain itu, dengan berlakunya Uni Eropa, saya berharap dapat mengunjungi negara-negara di kawasan tersebut tanpa repot mengurus visa sehingga saya dapat belajar sedikit tentang budaya dan kultur negara-negara yang saya kunjungi tersebut.

Proses korespondensi dengan calon profesor tidaklah sesederhana yang kita bayangkan, meski saat ini hal tersebut dipermudah dengan fasilitas email. Ada yang merespon dan ada yang tidak merespon sama sekali. Korespondensi dengan calon profesor relatif akan lebih ditanggapi oleh calon profesor yang kita kontak, jika kita mengenal seseorang yang kenal dengan calon profesor tersebut.

Waktu terus berjalan, batas akhir pendaftaran beasiswa S3 ke luar negeri pun semakin mendekat, baik itu melalui BPPLN Dikti maupun LPDP. Saya memang memprioritaskan menggunakan dua sumber pemberi dana beasiswa tersebut, mengingat usia yang tidak lagi tergolong muda. Setelah melakukan korespondensi dengan salah satu universitas di Belanda, saya pun segera mendaftarkan diri secara online sebagai calon penerima beasiswa program doktoral luar negeri melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP.

Setelah seluruh persyaratan administrasi untuk pendaftaran online sudah siap, termasuk dua esai tentang “Kontribusiku buat Indonesia” dan “Apa yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan”, saya pun memfinalisasi pendaftaran secara online BPI LPDP tersebut. Seingat saya, tanggal 26 April 2015, proses finalisasi tersebut saya lakukan, satu hari sebelum batas akhir yang ditetapkan oleh LPDP.

Tanggal 10 Mei 2015, pengumuman dari LPDP menyatakan bahwa saya lulus seleksi administrasi dan harus segera mempersiapkan diri untuk pelaksanaan seleksi wawancara dan LGD (Leaderless Group Discussion) di Yogyakarta, sesuai kota yang saya pilih dalam form pendaftaran online. Saya pun mencari-cari info dan membaca diskusi-diskusi tentang seleksi wawancara dan LGD melalui diskusi-diskusi yang ada di internet.

Saya mempersiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi seleksi wawancara dan LGD. Datang lebih awal dan menggunakan pakaian yang membuat saya cukup percaya diri. Ketika tiba di lokasi seleksi, bertemu dan diskusi dengan beberapa kenalan yang juga menjadi peserta seleksi, lumayan sebagai kawan bicara menunggu jadwal wawancara dan LGD. Saya mendapat jadwal seleksi wawancara dan LGD dalam waktu satu hari sekaligus sehingga malam itu juga saya langsung pulang ke Purwokerto. Menjelang LGD, dikumpulkanlah kami bersepuluh sebelum masuk ruang, sembilan orang di luar saya langsung mendaulat saya sebagai tetua di kelompok tersebut, karena memang terlihat paling senior. Saya pun bilang ke sembilan teman-teman saya itu, bahwa saya akan berusaha memainkan peran maksimal dalam pelaksanaan LGD tentunya saya harus dapat membawa forum diskusi supaya tidak ada yang terlalu dominan dan tidak ada yang terlalu inferior.

Tanggal 10 Juni 2015 merupakan waktu yang ditetapkan oleh LPDP untuk mengumumkan hasil seleksi wawancara dan LGD. Saya tunggu sampai siang, pengumuman itu belum ada juga. Sekitar jam 15.00 WIB ketika saya selesai menguji skripsi salah satu mahasiswi Kedokteran Gigi Unsoed, salah satu asisten Prof. Dr. Bambang Sunendar dari Teknik Fisika ITB (salah satu pembimbing mahasiswi yang saya uji skripsinya) menghampiri saya dan mengucapkan selamat bahwa saya dinyatakan lulus seleksi wawancara dan LGD, sambil menunjukkan file pdf pengumuman tersebut dari smartphone-nya. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah, karena saya yakin semuanya atas kehendak dan skenario Allah. Di dalam hati kecil saya pun bergumam, alhamdulillah insyaa Allah jadi juga nih kuliah S3 di luar negeri.

Perjuangan belum berhenti di pengumuman LPDP, saya harus segera mendapatkan LoA unconditional sebagai persyaratan cairnya beasiswa tersebut. Saya pun segera mengkonfirmasi dan memastikan calon profesor yang bersedia menerima saya sebagai mahasiswa S3-nya tanpa syarat. Sekitar bulan Juni 2015, Prof. Dr. Gert Storm (salah satu profesor di bidang sistem penghantaran obat dari Belanda) datang ke Indonesia. Prof. Gert Storm memiliki dua home base universitas di Belanda, yaitu di University of Utrecht dan University of Twente. Saya memberanikan diri menemui beliau di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (UP) Jakarta. Di sana saya berdiskusi berdua dengan beliau tentang rencana studi S3 saya. Waktu itu beliau mengatakan mempunyai formasi mahasiswa Ph.D di University of Twente, saya bilang tidak ada masalah bagi saya. Alhamdulillah beliau merespon cukup baik dan meminta segera menindaklanjuti pembicaraan di kampus UP tersebut melalui email.

Dua pekan setelah ketemu di UP, saya mengirim email ke Prof. Gert Storm, langsung diteruskan ke calon ko-supervisor saya. Berlanjutlah diskusi via email dan skype dengan pihak University of Twente. Diskusi ini diresmikan dengan diterbitkannya LoA unconditional dari University of Twente dan LoA dari Prof. Gert Storm yang menyatakan saya diterima sebagai mahasiswa Ph.D di laboratorium yang beliau pimpin. Saya diharapkan mulai beraktivitas sebagai mahasiswa Ph.D di bidang Targeted Therapeutics di University of Twente Belanda pada tanggal 1 Februari 2016.

Alhamdulillah, insyaa Allah tanggal 24 Januari 2016 saya bersama beberapa teman yang juga akan studi lanjut (S2 dan S3) di Belanda akan terbang ke Belanda untuk memulai perjuangan menimba ilmu di negeri kincir angin tersebut.