Saatnya Kampus-kampus di Indonesia Berbenah

September 19, 2016

Pada periode akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an, dosen-dosen ITB, UGM, dan UI banyak diperbantukan mengajar di kampus-kampus di Malaysia, yang kebetulan waktu itu Malaysia sedang membangun dunia perguruan tingginya. Mereka mendatangkan dosen-dosen dari Indonesia dan menyekolahkan putra-putri terbaiknya untuk studi lanjut (S2 dan S3, bahkan postdoctoral) di Inggris. Namun kini, kurang lebih satu dekade ke belakang ini, perguruan tinggi Malaysia sudah tidak lagi melirik perguruan tinggi Indonesia, mereka melesat meninggalkan kita. Berdasarkan data Scimago Journal and Country Rank (2015), Indonesia berada di peringkat 57 sedangkan Malaysia di berada di peringkat 35. Peringkat Malaysia ada kemungkinan akan naik lagi mengingat dosen-dosennya sangat produktif dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi.

Produktivitas dosen dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi ini menurut penulis tidak semata-mata karena faktor internal dari diri dosen itu sendiri. Indonesia telah memiliki banyak dosen lulusan luar negeri yang tidak kalah pandai jika dibandingkan dengan dosen-dosen Malaysia. Sebaran negara tempat dosen-dosen Indonesia menimba ilmu pun cukup merata di hampir seluruh penjuru dunia, berbeda dengan Malaysia yang cenderung banyak di negara-negara persemakmuran Inggris. Dosen-dosen Indonesia yang lulusan luar negeri pun sudah cukup familiar dengan publikasi di jurnal internasional bereputasi, mengingat hal itu menjadi syarat utama mereka dalam meraih derajat kelulusan studinya.

Jumlah dosen Indonesia lulusan luar negeri semakin banyak seiring dana beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) yang digulirkan oleh LPDP. Dengan memiliki dosen lulusan luar negeri yang banyak seharusnya jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional bereputasi pun banyak, namun kenyataannya belum seperti yang diharapkan. Hal ini mengindikasikan harus ada yang diperbaiki dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Perlu dipikirkan dan dirancang sistem dan program sedemikian rupa supaya produktivitas publikasi dosen-dosen Indonesia di jurnal internasional bereputasi semakin tinggi, peringkat kampus-kampus Indonesia semakin bagus, iklim riset dan inovasi di Indonesia semakin baik sehingga nama Indonesia diperhitungkan oleh negara lain di dunia.

Strategi dan program ini seyogyanya dibuat dan dirancang secara matang dan dibuat secara berkesinambungan. Beberapa waktu lalu sempat ramai di media massa tentang wacana mendatangkan “rektor asing” ke Indonesia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan reputasi dan memperbaiki kinerja kampus di Indonesia. Hal ini menurut penulis agak ironi jika melihat banyaknya jumlah dosen Indonesia lulusan luar negeri dan banyaknya putra-putri terbaik bangsa yang “terpaksa” mengabdikan dirinya di kampus negara lain.

Indonesia memiliki banyak putra-putri terbaik bangsa yang brilian dan kepakarannya mendunia, sudah selayaknya orang-orang ini diberdayakan dan diberi kesempatan mengabdikan dan mendarma baktikan kemampuannya untuk kemajuan bangsa ini tercinta. Seperti halnya Malaysia yang saat ini menggunakan sumber daya lokal mereka untuk mengembangkan dan memajukan dunia pendidikan tingginya.

Yang perlu dipertimbangkan juga adalah bagaimana caranya supaya kampus-kampus di Indonesia dapat memperbaiki diri dan mengembangkan kampusnya hingga benar-benar layak disebut bertaraf internasional. Penulis sepakat dengan kebijakan LPDP yang memperbesar kuota BPI menjadi 60% untuk  studi lanjut di kampus dalam negeri, dengan harapan kampus-kampus di dalam negeri dapat berbenah. Pembenahan kampus ini dapat dilakukan antara lain dengan peningkatan fasilitas laboratorium penelitian di kampus, peningkatan akses ke jurnal internasional, peningkatan dana riset terutama untuk kolaborasi riset internasional, peningkatan dana perkuliahan sehingga memungkinkan kampus di Indonesia bertukar pengalaman belajar dan mengajar dengan kampus lain di luar negeri, dan lain-lain.

Menurut penulis pengalihan dana beasiswa luar negeri ke pembenahan kampus di dalam negeri sangat perlu dilakukan supaya secara lembaga, dunia kampus kita ikut membesar dan menjadi lebih baik. Dengan model beasiswa studi lanjut ke luar negeri, Indonesia relatif inferior terhadap negara tempat studi lanjut dan biayanya juga relatif besar. Agak sedikit berbeda ketika dana tersebut sedikit dialihkan untuk peningkatan riset kolaborasi internasional, dosen kita dapat melakukan penelitiannya selama sekian bulan di kampus di luar negeri yang sifatnya relatif sejajar sehingga nama kampus dan nama negara Indonesia tidak terlalu inferior. Sesekali dosen Indonesia magang di kampus lain di luar negeri sehingga dosen Indonesia yang dapat merasakan atmosfer akademik di luar negeri semakin banyak, harapannya dapat dikembangkan di kampusnya setelah program magang selesai.

Yang paling utama dan menjadi pijakan untuk pengembangan dunia riset dan inovasi di kampus-kampus di Indonesia adalah peningkatan fasilitas penelitian. Saat ini alat-alat dan laboratorium penelitian yang ada di kampus-kampus di Indonesia relatif sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain (termasuk Malaysia), padahal untuk dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang bagus dan bereputasi sangat tergantung terhadap alat dan laboratorium yang digunakan. Banyak dosen-dosen yang baru lulus dari luar negeri gagap ketika tiba di Indonesia melihat kondisi laboratorium penelitiannya.

Dengan berbenahnya kampus-kampus di Indonesia, kita berharap dunia perguruan tinggi Indonesia menjadi lebih baik dan disegani di tataran dunia. Ketika kampus-kampus Indonesia benar-benar bertaraf internasional, kita akan cukup percaya diri bersaing dengan kampus-kampus dari negara lain sehingga orang-orang Indonesia tidak perlu jauh-jauh berkuliah di negeri orang bahkan kita dapat mendatangkan warga negara asing untuk berlomba-lomba kuliah di Indonesia. Dosen-dosen Indonesia dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dengan program-program kursus/pelatihan singkat di luar negeri, kolaborasi riset dengan kampus lain di luar negeri, dan mengikuti program postdoctoral di luar negeri. Kalaupun ada dosen/orang Indonesia yang studi lanjut (S2 atau S3) ke luar negeri memang semata-mata karena tidak ada kampus di Indonesia yang mampu memfasilitasi terkait studi lanjutnya tersebut.


PLGA (Poly lactic-co-glycolic acid) sebagai Penghantar Obat Terkendali yang Biodegradable

September 19, 2016

Sejumlah penelitian telah dilakukan pada penghantaran obat dengan polimer-polimer biodegradable sejak pengenalan mereka sebagai perangkat bedah yang bioresorsible sekitar tiga decade lalu. Diantara semua biomaterial, aplikasi polimer biodegradable poly lactic-co-glycolic acid (PLGA) menunjukkan potensi yang besar sekali sebagai suatu pembawa penghantaran obat dan sebagai kerangka untuk rekayasa jaringan. PLGA adalah suatu golongan polimer biodegradable yang sudah disetujui oleh FDA (FDA-approved) yang secara fisik kuat dan sangat biocompatible dan telah dikaji secara ekstensif sebagai perangkat penghantaran untuk obat, protein, dan berbagai macam makromolekul seperti DNA, RNA, dan peptide. PLGA paling popular di antara sekian polimer biodegradable yang ada karena pengalaman kliniknya yang panjang, memiliki karakteristik degradasi yang menyenangkan, dan kemungkinan untuk penghantaran obat yang berkelanjutan. Literature terkini menunjukkan bahwa degradasi PLGA dapat diterapkan untuk pelepasan obat berkelanjutan pada dosis yang diinginkan dengan implantasi tanpa prosedur pembedahan. Bahkan, sangat dimungkinkan untuk menyesuaikan sifat fisik secara keseluruhan matriks polimer-obat dengan mengendalikan parameter-parameter yang relevan sepeti berat molekul polimer, rasio lactide terhadap glycolide dan konsentrasi obat untuk mencapai dosis yang dikehendaki dan interval pelepasan bergantung pada jenis obat. Meskipun demikian, potensi toksisitas dari dosis yang berlebih (dose dumping), pelepasan yang inkonsisten dan interaksi obat-polimer memerlukan evaluasi yang detail.

Material biodegradable adalah material yang berasal dari alam atau sintetis dan terdegradasi in vivo, baik secara enzimatis atau non-enzimatis atau keduanya, menghasilkan biocompatible, aman secara toksikologi by-products yang selanjutnya dieliminasi oleh jalur metabolic normal. Jumlah material yang dapat digunakan di dalam atau sebagai tambahan (adjuncts) dalam penghantaran obat terkendali meningkat secara dramatis lebih dari satu decade ke belakang. Kategori dasar biomaterial yang digunakan dalam penghantaran obat dapat diklasifikasikan secara luas sebagai (1) polimer biodegradable sintetis, yang termasuk material-material relative hidrofobik seperti asam α-hidroksi (suatu golongan termasuk poly lactic-co-glycolic acid, PLGA), polianhidrida, dan yang lain, dan (2) polimer yang terjadi secara alami, semacam gula kompleks (hyaluronan, kitosan) dan inorganic (hidroksiapatit). Jumlah material yang digunakan dalam penghantaran obat meningkat akibat beragamnya penyakit, rentang dosis dan kebutuhan khusus yang harus diterapkan. Biokompatibilitas sangat penting, namun biokompatibilitas bukan suatu sifat intrinsic suatu material, tapi tergantung pada lingkungan biologi dan tolerabilitas yang ada sehubungan dengan interaksi jaringan-obat-polimer.

Polyester PLGA adalah kopolimer poly lactic acid (PLA) dan poly glycolic acid (PGA). Poly lactic acid mengandung suatu asimetris α-karbon yang digambarkan sebagai bentuk D atau L dalam stereokimia klasikal dan terkadang sebagai bentuk R dan S, masing-masing. Bentuk enantiomer dari polimer PLA adalah poly D-lactic acid (PDLA) dan poly L-lactic acid (PLLA). PLGA biasanya akronim untuk poly D,L-lactic-co-glycolic acid di mana bentuk D- dan L- asam laktat berada pada rasio yang sama.

Sifat fisikokimia optis aktif PDLA dan PLLA hamper sama. Umumnya, polimer PLA dapat dibuat dalam bentuk yang sangat kristalin (PLLA) atau benar-benar amorf dikarenakan rantai polimer teratur. PGA batal dari setiap gugus sisi metil dan menunjukkan struktur yang sangat kristalin berbeda dengan PLA seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 1. PLGA dapat diproses menjadi hampir semua bentuk dan ukuran, dan dapat mengenkapsulasi molekul hampir setiap ukuran. PLGA larut dalam pelarut pada umumnya termasuk pelarut terklorinasi, tetrahidrofuran, aseton atau etil asetat. Di dalam air, PLGA terbiodegradasi oleh hidrolisis ikatan esternya (Gambar 2). Kehadiran gugus sisi metil dalam PLA membuatnya lebih hidrofobik daripada PGA sehingga kopolimer PLGA kaya lactide kurang hidrofilik, kurang menyerap air dan terdegradasi lebih pelan. Disebabkan oleh hidrolisis PLGA, parameter yang biasanya dianggap sebagai deskripsi invarian dari suatu formulasi solid dapat berubah dengan waktu, seperti temperature transisi kaca/glass (Tg), kandungan lembang dan berat molekul. Efek sifat-sifat polimer ini pada laju pelepasan obat dari matriks polimer biodegradable telah dikaji secara luas. Perubahan sifat PLGA selama biodegradasi polimer mempengaruhi laju pelepasan dan degradasi molekul obat yang diinkorporasikan. Sifat fisik PLGA bergantung pada beberapa factor, termasuk berat molekul awal, rasio lactide terhadap glycolide, ukuran perangkat, terpapar terhadap air (bentuk permukaan) dan temperature penyimpanan. Kekuatan mekanik PLGA dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik seperti berat molekul dan indeks polidispersitas. Sifat-sifat ini juga mempengaruhi kemampuan diformulasi menjadi perangkat penghantaran obat dan dapat mengendalikan laju degradasi perangkat dan hidrolisis. Studi terkini menunjukkan bahwa jenis obat juga berperan dalam laju pelepasan. Kekuatan mekanik, sifat mengembang, kapasitas mengalami hidrolisis dan selanjutnya laju biodegradasi polimer secara langsung dipengaruhi oleh derajat kristalinitas PLGA, yang selanjutnya bergantung pada jenis dan rasio molar komponen monomer individu dalam rantai kopolimer. PGA kristalin, ketika mengalami ko-polimer dengan PLA, mengurangi derajat kristalinitas PLGA dan sebagai hasilnya meningkatkan laju hidrasi dan hidrolisis. Lazimnya, kandungan PGA yang lebih tinggi mengarah ke laju degradasi yang lebih cepat dengan suatu pengecualian rasio 50:50 PLA/PGA, yang menunjukkan degradasi tercepat. Derajat kristalinitas dan titik leleh polimer secara langsung terkait dengan berat molekul polimer. Tg (glass transition temperature) dari kopolimer PLGA dilaporkan di atas temperatur fisiologis 37°C sehingga seperti kaca secala alami, lalu menunjukkan struktur rantai yang cukup kaku/rigid. Sudah dilaporkan juga bahwa Tg PLGA menurun seiring berkurangnya kandungan lactide di dalam komposisi kopolimer dan dengan penurunan berat molekul. Polimer PLGA yang tersedia secara komersial biasanya dikarakterisasi dalam term viskositas intrinsik, yang terkait langsung dengan berat molekul mereka.

Perangkat khusus penghantaran obat, yaitu PLGA, harus dapat menghantarkan obatnya dengan durasi, biodistribusi, dan konsentrasi yang sesuai untuk efek terapi yang dikehendaki. Oleh karena itu, pentingnya desain, termasuk material, geometri dan lokasi harus menginkorporasikan mekanisme degradasi dan klirens perangkat sebaik obatnya (API/active pharmaceutical ingredients). Biodistribusi dan farmakokinetik PLGA mengikuti suatu profil non-linier dan bergantung dosis (dose-dependent). Lebih jauh, kajian sebelumnya menyarankan bahwa klirens darah dan uptake oleh mononuclear phagocyte system (MPS) mungkin tergantung pada dosis dan komposisi sistem pembawa PLGA. Bahkan, autobiography seluruh tubuh dan eksperimen distribusi kuantitatif mengindikasikan bahwa beberapa formulasi PLGA, seperti nanopartikel, terakumulasi cukup cepat di dalam liver, sumsum tulang, kelenjar getah bening, limpa dan makrofag peritoneal. Degradasi pembawa PLGA cukup cepat pada tahap awal (sekitar 30%) dan nantinya lambat dibersihkan oleh respirasi di paru-paru. Untuk mengatasi keterbatasan ini, beberapa studi telah dilakukan untuk mengkaji peran modifikasi permukaan, menyarankan bahwa inkorporasi surfaktan dapat meningkatkan waktu paruh sirkulasi darah secara signifikan.

 

Referensi:

Hirenkumar K. Makadia dan Steven J. Siegel. Poly Lactic-co-Glycolic Acid (PLGA) as Biodegradable Controlled Drug Delivery Carrier. Polymers (Basel). 2011 September 1; 3(3): 1377-1397.