Kesiapan Herbal Indonesia Menghadapi Herbal China???

March 19, 2010

Belakangan ini obat tradisional/herbal semakin nge-trend penggunaannya di masyarakat, terutama sebagai alternatif pengobatan penyakit kronis…mengingat semakin beragamnya penyakit akibat modernisasi & globalisasi.

Hal ini juga menyebabkan ‘menjamurnya’ industri obat tradisional berskala kecil. Sayangnya, produk yang dihasilkan cenderung sama sehingga yang terjadi adalah ‘pertempuran’ harga yang kurang sehat…kemungkinan besar yang dilihat oleh para “pemain” herbal tersebut adalah bisnis semata-mata yang kurang berpikir ke depan.

Produk-produk herbal yang diproduksi oleh para “pemain” Indonesia kebanyakan “me too” dari sisi formula, miskin dari sisi teknologi proses pembuatan…yang kelihatan hanya perang kemasan dan label. Sementara itu, riset dan pengembangan terhadap kualitas produk secara umum sangat minim dilakukan…hasilnya perlahan-lahan produk herbal kita “dikikis” oleh produk impor buatan China.

Produk herbal kita dari sisi khasiat, kebanyakan bersifat promotif dan preventif terhadap suatu penyakit. Sedangkan produk herbal China sudah banyak yang ditujukan untuk penyembuhan suatu penyakit yang benar-benar kronis (kuratif).

Produk herbal China sudah bisa kita dapatkan pada publikasi beberapa jurnal berbahasa Inggris…yang menunjukkan betapa produk herbal tersebut sudah disertai dengan riset ilmiah.

Kalau produk herbal Indonesia kondisinya masih seperti sekarang, kira-kira bagaimanakah nasib industri kecil obat tradisional (IKOT) ke depan…tentunya ketika ACFTA sudah mulai diberlakukan??? Mengingat pada era itu, pasar herbal Indonesia kemungkinan besar dibanjiri dengan produk herbal China…

Advertisements

Direktur UKM Center FEUI: Saatnya UKM Jangan Menjadi ‘Warga Kelas Dua’

March 17, 2009

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kini masih dianggap sebagai ‘warga kelas dua’. Dianggap kurang bergengsi dan masih dipandang sebelah mata oleh perbankan. Padahal di tangah UKM inilah perekonomian Indonesia bisa tahan banting menghadapi krisis.

Bagaimana sebenarnya perkembangan UKM di Indonesia dan prospeknya ke depan? Apa saja yang harus dilakukan oleh para pengusaha UKM?

Berikut wawancara detikFinance dengan Nining Soesilo, Direktur UKM Center FEUI di kediamannya, kawasan Panglima Polim, Jakarta, Senin (16/3/2009). Nining merupakan kakak dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang kini menjadi salah satu kandidat Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Bisa ceritakan sedikit soal UKM Center FEUI?

UKM center UI ini umurnya paling muda di FEUI, yang paling tua kan LPEM. LPEM berdiri 1953 didirikan pak Soemitro Djojohadikusumo. Itu tempat berkumpulnya dosen-dosen ilmu ekonomi. Yang nomor dua tertua itu lembaga manajemen, kemudian nomor tiga lembaga demografi. UKM Center yang paling muda usianya baru 4 tahun, baru berdiri 2005.

Atas usulan siapa?

Dari usulan dekan. Sejarahnya UI kan fakultasnya duluan sebelum universitasnya. Dulu pertama kan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi, kalau Fakultas Teknik-nya kan di Bandung sekarang sudah jadi ITB, Fakultas Pertanian jadi IPB. Kemudian UI menjadi universitas, sejarah ini cukup membebani karena ada kesan multi fakultas bukan universitas.

Makanya dalam pemilihan dekan ini rektor kelihatannya ingin ada kesan universitas bukan multifakultas. Ini pasti ada gesekan karena mengubah sejarah yang sekian lama. Ini juga yang bikin pemilihan dekan agak berbeda. Sekarang jadi ada pasang iklan supaya dari luar ada yang mendaftar tidak hanya dari dalam FEUI saja. Mungkin Rektor pengen FEUI lebih transparan. Hari ini kandidat masukan formulir, nanti jumat ada prakualifikasi dan sabtu ada presentasi

Sudah ditentukan berapa calon?

Hari ini yang masuk 8 orang. Nanti akan dipilih 3 terbaik. Dipilih oleh 11 orang, terdiri dari 9 internal FEUI.

Ada perubahan yang diharapkan di FEUI?

Ya tentu saja, salah satunya mengenai kewirausahaan. Kalau kita lihat, selama ini kewirausahaan di FEUI kebanyakan teorinya dan dianggap sebegai residual. Tidak dianggap dari awal hanya menjadi faktor pengikut. Itu cara pandang di jurusan ekonomi. Karena banyak orang bilang kalau mau jadi pengusaha tidak usah sekolah juga bisa. Padahal negara kita mengalami kendala karena struktur usahanya enggak bagus. Apalagi di saat krisis, banyak orang PHK. Sudah bisa menjadi solusi kalau penduduk Indonesia bisa berwirausaha.

Tugas pemerintah sudah berat untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Seharusnya seperti di negara maju, peran Pemerintah tidak besar, komponen investasi swasta yang lebih banyak. Kalau di Indonesia komponen perekonomian nasional itu 60 persen dari konsumsi, bukan suatu tanda yang baik.

Seharusnya wirausaha yang tinggi?

Ya karena itu kan konsumsinya itu pasti akan tergerus komponen investasi yang tinggi, dan investasi yang tinggi itu digerakan oleh kewirausahaan. Kan biasanya rumus pertumbuhan ekonomi dari konsumsi ditambahin investasi ditambah pengeluaran pemerintah ditambah ekspor dikurangi impor. Memang negara kita senangnya mengkonsumsi, kurang mau berusaha. Karena capek dan repot. Kita enggak suka sebagai supplier tapi lebih sebagai intermediatornya karena cepat dan gampang. Kita memang bukan negara produsen.

Kalau emang mau nyalahin penjajah, dulu orang pribumi dipetakan jadi dua yaitu pegawai negeri dan petani. Sebagai penggerak ekonomi disimpan bangsa Tionghoa, karena memang mereka lebih pintar disitu. Jadi kalau orang Indonesia masuk ke dalam lingkaran orang Tionghoa itu merasa enggak nyaman, ibaratnya kolam dia akan akan merasa asing karena bukan di dalam kolamnya. Itu masih dianggap kelas dua oleh bangsa kita. Kita baru bisa bangga jika sudah bekerja di orang lain. Ini diharapkan bisa berubah dari bangsa kita, kalau tidak sekarang kapan lagi. Makanya kami di UKM center melakukan bedah UKM setiap bulan dan beberapa lomba UKM.

Bagaimana kondisi UKM saat ini di Indonesia?

UKM itu yang bertahan yang memasok kebutuhan primer, yaitu makanan, minuman dan pakaian. Consumer goods. Kedua, dia yang tidak terlalu terekspose dalam kegiatan international. UKM kan lokalitasnya tinggi, jadi sebetulnya tidak terlalu terpengaruh krisis. Dari krisis tahun lalu pun tidak terlalu terpengaruh. Dia bakal terpengaruh kalau memiliki komponen impor yang cukup tinggi, misalnya tahu dan tempe kan komponen kedelainya masih impor. Dia bisa bertahan kalau banyak menggunakan komponen lokal.

Jadi yang bisa bertahan contohnya UKM sektor mana?

Yang pasti yang lokalitasnya tinggi. Sektor industri kreatif, sangat menjanjikan. Potensinya sangat luar biasa karena orang Indonesia tergolong kreatif. Cuma masih main di perencanaan dan ide, begitu masuk ke detail kita masih harus banyak belajar karena kan memang kewirausahaan itu menuntut sesuatu yang terus-menerus. Kita masih banyak manja di saat terjungkal tidak mau bangkit kembali. Padahal itu bisa membuat makin pintar.

Sektor UKM yang rentan terhadap krisis?

Selain tahu dan tempe tadi mungkin yang menggunakan bahan dasar terigu, seperti roti, karena terigu masih impor dan harga gandum sangat terpengaruh nilai tukar. Ada yang mulai beralih menggunakan tepung singkong pengganti terigu, salah satunya yang ikut lomba kami. Memang rasanya enak sekali, tapi dia tidak bisa bermain di skala yang lebih besar, karena komponen lain seperti mentega dan coklat masih impor juga. Kalau ada alternatif mungkin minyak kelapa atau minyak bunga matahari untuk mengganti mentega dia bisa menghemat. Saat ini saat yang paling baik untuk kita mencintai produk kita sendiri. Jangan terlalu melihat semua yang dari luar itu lebih bagus.

Tapi di Indonesia rata-rata pola pikirnya seperti itu?

Ya itu karena kita mental dijajahnya masih ada. Belanda sudah enggak ada, tapi di hati kita, mental dijajah itu masih ada. Contohnya, bintang film Indonesia saja banyak yang berbau bule kalau mau dibilang cantik kan.

Apa yang harus dilakukan sektor UKM di tengah krisis seperti sekarang ini?

Kalau UKM harus mengembangkan dengan tekun apa yang ada di bumi Indonesia. Karena banyak negara lain mengalami guncangan karena resource-nya enggak banyak. Sebenarnya kita masih disayang sama Tuhan dengan banyaknya sumber daya alam, tanpa melakukan ekspor pun sebenarnya perdagangan domestik bisa tetap jalan. Kondisi negara kita secara finansial masih belum berkembang, kita juga beruntung disitu karena masih mengandalkan sektor riil. Dan UKM sebenarnya tidak perlu risau, karena PHK banyaknya di pabrik besar. Karena UKM sifatnya kecil jadi bisa bertahan. Yang menarik di negara kita, UKM masih mengandalkan bank untuk pinjaman modal.

Tapi kalau tidak ada bank, suntikannya darimana?

Di negara kita ini masih belum begitu mengenal dengan konsep modal ventura. Ini kan bukan UKM meminjam, tapi dapat dari sebuah lembaga ventura yang seperti memiliki modal di UKM itu atau kepemilikan saham. Jadi mereka tumbuh bersama. Seperti Starbucks kan itu UKM dari Venture Capital, Microsoft juga meminjam uang bukan dari bank. Nah di Indonesia memang ada lembaga ventura tapi prakteknya masih seperti bank memberi pinjaman bukan penyertaan modal.

Itu dirasa lebih menguntungkan UKM?

Iya, karena selain berbagi hasil juga berbagi risiko. Tapi memang orang yang akan menyertakan modal pasti pilih-pilih. Kira-kira UKM ini akan mati atau hidup terus. Memang dibutuhkan monitoring yang ketat dan transparansi. Kembali ke kejujuran UKM tersebut dan harus ada penempatan orang ventura di dalamnya. Tapi juga lembaga ventura di Indonesia itu kekurangan orang karena saking banyaknya UKM yang diurus.

Kebijakan pemerintah untuk sektor UKM saat ini bagaimana?

Kami sedang melakukan penelitian untuk KUR, mungkin tanggal 9 April sudah ada kesimpulannya. Kesimpulan sementaranya, KUR ini konsepnya kredit dengan penjaminan. Ini berbeda dengan kredit usaha tani yang dulu. Kredit dengan penjaminan ini dinilai lebih baik secara konsep karena dibarengi oleh kehati-hatian bank. Kalau KUR kan keputusan di bank, kalau kredit usaha tani di kementerian, jadi ada moral hazzard. Kalau bank kan lebih hati-hati, secara konsep sudah bagus.

Dalam pelaksanaannya kan dilibatkan enam bank, BRI, Mandiri, Mandiri Syariah, Bukopin, BNI dan BTN. Nah, dari enam itu yang memiliki armada terdepan dengan UKM hanya BRI. Disitulah kita melihat ada kendala, karena bank lain selain BRI ini kekurangan orang atau human resources di sektor UMK. Memang dana pihak ketiga besar, dan dipaksa pemerintah untuk menyalurkan ke UKM. Budaya lima bank itu juga belum terlalu kuat di retail, terutama Mandiri yang kuat di korporat. Ini kasihan juga ke UKM-nya, karena bank itu pasti menyalurkan lewat usaha kredit mikro seperti koperasi. Dengan begitu suku bunganya jadi lebih tinggi. Jadi rantai kegiatannya cukup panjang.

Juga undang-undang UKM yang baru keluar kemarin itu belum jelas. Sampai hari ini derivasi dari undang-undang itu belum ada karena belum bisa, peraturan pemerintahnya belum ada. Antara UU yang lama dan yang baru berbeda jauh sekali, mungkin karena memperhitungkan inflasi dan lain sebagainya sehingga komponen di UU No 5 sebelumnya itu tidak cocok dengan yang baru. Jadi ada kebingungan.

Kira-kira dalam 5 tahun ke depan UKM Indonesia akan seperti apa?

Saya kira akan lebih maju ya. Pertama, sekarang keberpihakan pemerintah kepada UKM melalui kebijakan-kebijakannya di kredit usaha seperti cluster satu dan cluster dua. Cluster satu kan bantuan langsung tunai itu ya, cluster dua itu pemerintah sudah mulai mengharapkan monitoring pemakaian dana. Diharapkan penyaluran dana ke UKM lebih transparan jadi yang dapat dana itu benar-benar UKM. Sudah banyak kebijakan pro UKM dari pemerintah, juga menumpukkan harapannya kepada UKM. CSR perusahaan juga itu sekarang banyak ke UKM.

Ada tips untuk yang mau memulai UKM?

Yang jelas dari para pemenang lomba kami dan pengalaman saya sendiri, tips-nya itu ya jalani saja. Jadi artinya ada sesuatu yang sifatnya just do it. Jalani, begitu jatuh bangkit lagi. Justru kalau orang kebanyakan teori malah justru takut duluan. Terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah enggak mulai melangkah.

Itu pertama, yang kedua adalah begitu kita terjun semakin dalam maka semakin banyak risiko. Dengan banyaknya risiko, pendidikan itu menjadi semakin perlu. Kalau kita lihat orang bisa sukses tanpa pendidikan berarti orang itu jenius dalm hal itu. Nah, orang jenius di dunia kan cuma beberapa, sisanya orang rata-rata. Orang rata-rata inilah yang memerlukan pendidikan. Bagaimanapun juga kita membutuhkan logika berpikir.

Kemudian, perlu juga komunitas untuk sharing. Saya menganjurkan sekali bagi mereka yang berwirausaha untuk membentuk komunitas, karena begini, kami sering menerima UKM yang kena musibah, apa itu ketipu lah atau bangkrut lah. Mereka itu sangat menderita sekali, ketika bertemu dengan kita jadi bisa sharing dan mengetahui letak kesalahannya. Komunitas ini bisa memberikan semacam advise kepadanya sehingga dia yang tadinya enggak kepikiran jadi bisa dilakukan. Dan dalam komunitas itu mereka bisa belajar dari mereka yang berhasil. Komunitas itu juga bisa berupa asosiasi sehingga menjadikan UKM lebih kuat. Selama ini ada beberapa UKM yang hancur, seperti baru bisa ekspor lalu ditipu negara lain, itu bisa ditanggulangi dengan adanya asosiasi. Asosiasi juga bisa berkomunikasi dengan Departemen Perdagangan, atau bahkan Departemen Luar Negeri supaya mendapat lebih banyak informasi.

Bisa ceritakan sedikit background pendidikan?

Saya tamat ITB tahun 1982, arsitektur. Masuknya tahun 1976. Tahun 1982 langsung masuk University of Iowa, kebetulan menikah dengan suami saya dia langsung sekolah ke Amerika jadi saya ikut. Beasiswanya saya dapat disana karena kebetulan nilai saya bagus di awal. Dulu saya ambil jurusan Urban Regional Planning. Disana saya punya anak pertama, di tengah jalan anak saya baru 1 tahun saya sudah hamil lagi, jadi saya pikir enggak bakal selesai cepat. Disitulah saya pindah major ke geografi, saya selesai tahun 1986.

Tahun berikutnya kembali ke Indonesia dan gabung dengan LPEM FEUI. Saya mulai mengajar di FEUI secara enggak sengaja. Saya kan bekerja sebagai peneliti disana dan penelitian saya dilirik oleh ketua jurusan sehingga akhirnya dipaksa untuk mengajar, padahal saya tidak punya background ekonomi. Lalu saya mulai belajar sendiri, baca buku dan segala macam, sampai akhirnya malah bikin buku sendiri. Bisa dibilang mulai aktif mengajar sekitar tahun 1994 sampai sekarang.

Mulai jadi Direktur UKM Center FEUI sejak kapan?

Sejak berdiri tahun 2005. Jabatan lain saya juga komisaris BPUI dari Desember tahun lalu. Kemudian saya juga jadi komisaris BPR Bakti Sejahtera, ini sejak tahun lalu tapi lebih awal. Saya juga wakil ketua di Pusat Inovasi UMKM. Saya juga aktif di Komite Nasional Pemberdayaan Usaha Mikro, dan Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan.(ang/qom)

disalin dari http://www.detikfinance.com


Kewirausahaan Digalakkan di PTN-PTS

November 11, 2008

Sebagai Solusi Banyaknya Lulusan PT yang Menganggur

Selasa, 11 November 2008 | 00:51 WIB

Jakarta, Kompas – Pendidikan kewirausahaan atau entrepreneurship akan
semakin digalakkan di perguruan tinggi negeri atau PTN dan perguruan
tinggi swasta
agar lulusan perguruan tinggi mampu mandiri. Pada tahun
2009, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 37 miliar untuk
menjalankan pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa.

Hendarman, Direktur Kelembagaan Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan Nasional di Jakarta, Senin (10/11), menjelaskan, pendidikan
kewirausahaan di perguruan tinggi ini diharapkan bisa menyiapkan
mahasiswa untuk berani mandiri, tidak lagi terfokus menjadi pencari kerja.

“Apalagi data pengangguran terdidik di Indonesia menunjukkan, semakin
tinggi pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan semangat
kewirausahaannya, ” kata Hendarman.

Data dari Badan Pusat Statistik soal jumlah penganggur menurut jenjang
pendidikan tinggi selama kurun 2004-2007 menunjukkan, pengangguran
sarjana mencapai lebih dari 50 persen jika dibandingkan dengan
pengangguran lulusan diploma I/II dan akademi/diploma III. Lebih dari
80 persen sarjana memilih bekerja sebagai buruh atau karyawan, dan
hanya sekitar 6 persen yang bekerja sendiri.

Menurut Hendarman, sekitar 1.500 dosen dari PTN dan PTS akan menjalani
pendidikan kewirausahaan tahun depan. “Para dosen ini perlu diperkaya
wawasan dan pengalamannya dalam bidang kewirausahaan karena mereka
akan menjadi fasilitator mahasiswa dalam menjalankan pendidikan
kewirausahaan di kampus,” ujanya.

Selain itu, pemerintah mengalokasikan dana untuk pendidikan
kewirausahaan masing-masing Rp 1 miliar untuk 12 kopertis dan
masing-masing Rp 500 juta untuk 26 politeknik negeri. Adapun enam
universitas yang masuk worldclass university, seperti Universitas
Gadjah Mada
, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia,
Universitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas
Diponegoro
, mendapat anggaran masing-masing Rp 2 miliar.

Antonius Tanan, Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center,
mengatakan, pendidikan kewirausahaan untuk mahasiswa harus sampai pada
tahap mereka mengalami sendiri. Oleh karena itu, pendidikan
kewirausahaan ini perlu didampingi dengan orang-orang yang
berpengalaman sebagai wirausaha.

“Pendidikan kewirausahaan di kampus ini tidak lagi berhenti pada
teori-teori, tetapi harus tahu bagaimana cara menjalankan
kewirausahaan, dan mengalami sendiri menjadi wirausahawan, ” kata Antonius.

Hendri Utama, alumnus Fakultas Hukum UGM, mengatakan bahwa pendidikan
kewirausahaan yang diikutinya di kampus setahun lalu memicu keberanian
untuk memulai usaha. Kini usahanya di bidang sportainment dan makanan
berkembang pesat. (ELN)

Sumber : Kompas.com


Pembeli Apotek Samara Gratis Ta’jil Kurma Selama Ramadhan

September 2, 2008

Menyambut bulan suci penuh berkah, Apotek Samara memberikan ta’jil kurma gratis kepada setiap orang yang membeli barang di sana.

Pelayanan ini diberikan selama sebulan penuh Ramadhan ini, sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada para pelanggan Apotek Samara…


Mahasiswa Farmasi Unsoed Magang Kewirausahaan di Apotek

July 25, 2008

Sejak Senin, 21 Juli 2008  terdapat beberapa mahasiswa Farmasi  Unsoed Purwokerto melakukan magang kewirausahaan di Apotek Samara. Magang ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan mengenalkan pembentukan karakter enterpreneurship pada mahasiswa-mahasiswa Farmasi Unsoed.

Pada kegiatan ini, mahasiswa dikenalkan secara langsung bagaimana praktek menghadapi konsumen, mengetahui secara langsung bagaimana pengelolaan apotek dengan mengedepankan pharmaceutical care.

Nilai-nilai kewirausahaan dapat diambil banyak oleh mahasiswa peserta magang…mahasiswa menjadi tahu bagaimana perilaku konsumen, mahasiswa menjadi tahu bagaimana prospek dan peluang usaha perapotekan di masa mendatang…dan yang lebih penting lagi, mahasiswa dapat mempunyai gambaran bahwa seandainya para Farmasis/Apoteker yakin dengan kemampuannya, akan mampu mandiri dalam menghadapi ketatnya lapangan pekerjaan…Farmasis dapat survive dan bertahan bahkan sukses dengan mengelola apotek sendiri.

Kegiataninidinamakan magang Kewirausahaan mengingat aktivitas ini dilakukan ketika mahasiswa tersebut masih tercatat dalam program studi S1, pada program profesi Apoteker kegiatan serupa akan dilakukan kembali…lebih formal dan lebih ke arah keprofesian.


Enterpreneurship dan Farmasis

July 1, 2008

Kalo melihat cashflow quadrant-nya Robert T. Kiyosaki, profesi farmasis merupakan salah satu profesi kesehatan yang dapat menempati ke-4 kuadran tersebut. Tapi, sayangnya kebanyakan dari farmasis tersebut masih banyak yang berada di kuadran kiri (employee & shelf employee).

Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah teori-teori selama kuliah sudah cukup untuk membekali farmasis/calon farmasis untuk berlomba-lomba melompat ke kuadran kanan?

Yang lebih ironi, apotek K-24 yang notabene sebagai apotek franchise pertama di Indonesia yang punya adalah seorang dokter…kemanakah farmasis-farmasis tersebut?