Buku kedua…

July 8, 2010

Buku ini merupakan kumpulan materi mata kuliah Pelayanan Informasi Obat yang diajarkan kepada mahasiswa Jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Ketika bertemu dengan Pak Lutfi Chabib yang merupakan salah satu praktisi Pusat Informasi Obat (PIO) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, terbersit ide untuk mengkompilasikan materi untuk menjadi satu dokumen. Maka terwujudlah dokumen buku ini.

Buku ini diambilkan dari beberapa pustaka yang menampilkan tentang pelayanan informasi obat yang semestinya ada di rumah sakit, di kampus-kampus farmasi, dan lain-lain tempat pelayanan kefarmasian.

Dengan hadirnya buku ini, diharapkan semua elemen kefarmasian (Apoteker dan mahasiswa farmasi) dapat melakukan pelayanan informasi obat dengan sumber daya yang dimilikinya. Di dalam buku ini dituntun tentang bagaimana pelayanan informasi obat dapat diberikan dengan kondisis sumber daya (fasilitas) yang terbatas.

Pada akhir bagian buku ditambahkan lampiran tentang pengantar evidence based medicine, sehingga apoteker dan mahasiswa farmasi semakin paham tentang bagaimana memberikan pelayanan kefarmasian secara paripurna.

Buku ini sangat jauh dari kesempurnaan, masih perlu banyak sekali perbaikan, namun demikian mudah-mudahan dengan hadirnya buku ini dapat menambah referensi tentang pentingnya pelayanan informasi obat yang merupakan bagian penting dari pelayanan kefarmasian secara paripurna.


Obat Oplosan

March 29, 2010

Seorang pembeli datang ke apotek dengan keluhan sakit gigi dan berniat membeli obat. Kami menawarkan untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Pembeli menolak dengan alasan berniat membeli obat oplosan yang isinya 3 macam. Saya sudah mengira kalau obat oplosan ini terdiri dari antibiotic, penghilang rasa sakit dan antiinflamasi. Padahal yang dirasakan hanya sakit gigi tanpa gigi berlubang atau bengkak.

Dalam Standar Pengobatan, penggunaan obat untuk sakit gigi adalah sebagai berikut:

1. Analgetik atau penghilang rasa sakit, misal asam mefenamat, parasetamol atau antalgin

2. Antibiotik, diberikan apabila terjadi infeksi pada gigi, biasanya dalam kondisi gigi berlubang

3. Antiinflamasi, diberikan untuk mengurangi adanya inflamasi atau bengkak

Tetapi penggunaan obat di atas harus disesuaikan dengan kondisi penderita. Kalau hanya mengeluh sakit gigi tanpa ada infeksi tidak perlu menggunakan antibiotic dalam pengobatannya.

Kembali ke tema awal, obat oplosan. Ternyata masih ada yang menjual obat dalam bentuk oplosan, biasanya berupa bungkusan (plastik) kecil yang berisi beberapa butir tablet/kaplet atau kapsul yang tidak jelas identitasnya. Yang sering ditemui adalah obat sakit gigi dan pegal linu. Peracik mengemas kembali dengan merek baru atau tanpa merk (lepasan). Harganya juga sangat murah, berkisar antara Rp. 300,00 sampai Rp. 1000,00.

Masyarakat awam tidak mengetahui atau bahkan tidak peduli bahwa obat oplosan bisa membahayakan. Mengapa? Ada beberapa alasan, antara lain:

1. Obat oplosan tidak diketahui identitas masing-masing obatnya karena obat sudah dilepas dari kemasannya.

2. Obat oplosan tidak diketahui tanggal kadaluarsanya.

3. Obat oplosan sangat rentan terhadap kerusakan baik secara fisika maupun kimia karena kontak dengan udara langsung

4. Obat oplosan berisiko terkontaminasi yang bersumber dari udara, tangan pengemas atau dari obat lain.

Pernah seseorang bercerita, ketika membeli obat oplosan, obat yang dibeli sudah dalam kondisi lembek. Maka dari itu kita harus berhati-hati dalam memilih obat, usahakan membeli dan mengkonsumsi obat yang diperoleh dari tempat yang resmi (Apotek atau toko obat berijin), yang kemasannya masih utuh dan tanggal kadaluarsanya terlihat dengan jelas.


Etika Obat Syrup Tanpa Label????

April 7, 2009

Beberapa waktu lalu, pas giliran jaga apotek saya kedatangan konsumen ingin membeli obat masuk angin. Seperti biasanya, saya tidak langsung mengambilkan obat yang konsumen inginkan –karena sang konsumen tidak menyebutkan merk obat tertentu–, saya bertanya dulu kepada konsumen tentang keluhan yang sedang dialami.

Kebetulan yang sedang menderita sakit adalah putri sang bapak –konsumen tersebut–, berumur 9 tahun. Sambil mendengarkan sang bapak bercerita, analisis saya mengarah bahwa putrinya tidak sedang mengalami masuk angin biasa.

Sang bapak bercerita, bahwa putrinya sudah mengalami keluhan tersebut –mual, BAB-nya agak encer, sedikit demam dengan interval waktu agak beraturan– selama lebih dari 2 hari. Sang bapak juga bercerita bahwa putrinya sudah dibawa ke praktek dokter terdekat (tentunya dispensing), dan sudah diberi obat, tapi selama 2 hari tersebut keluhannya belum hilang.

Saya bertanya kepada sang bapak, kira2 rumahnya jauh nggak dari apotek…beliau menjawab dekat kok…saya melanjutkan pertanyaan kepada sang bapak…kalo bapak tidak keberatan, boleh nggak saya tahu obat yang sudah diberikan oleh dokter…alhamdulillah sang bapak tidak keberatan.

Saya menanyakan obat yang sudah diberikan oleh dokter maksudnya adalah supaya tidak terjadi duplikasi obat dan bisa menentukan kira2 selanjutnya obat yang dapat diberikan kepada putri berusia 9 tahun tersebut tepat.

Tidak lama kemudian, sang bapak kembali ke apotek sambil membawa 2 botol syrup yang sudah tidak ada identitasnya, yang ada hanya label praktek dokter yang bersangkutan.

Akhirnya, saya hanya bisa mengidentifikasi dan berasumsi nama obat tersebut berdasarkan organoleptis aja…terus dikaitkan dengan keluhan dari konsumen. Kemudian saya putuskan nama obat yang bisa dibeli oleh sang bapak…tentunya saya berikan alternatif pilihan kepada sang bapak untuk memilih…Alhamdulillah, terjadi kesepakatan transaksi.

Yang menjadi pertanyaan besar saya adalah…sudah adakah aturan yang mengatur tentang pelepasan label resmi dari pabrik pembuat yang menempel pada botol syrup. Sebenarnya sudah sering saya menemukan kasus seperti ini di apotek saya…????

Bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat tentang kesehatan, kalo profesi kesehatan malah menyembunyikan jati diri obat yang akan diberikan kepada pasien/konsumen…?????


Bentuk sediaan farmasi di masyarakat

July 1, 2008

Melihat perilaku/pengetahuan masyarakat tentang obat-obatan sangat menarik dan kadang-kadang “menyedihkan”…terutama yang berkaitan dengan keberadaan Apoteker sebagai seseorang yang dianggap paling tahu tentang obat…sesuai apa yang dipelajarinya selama kuliah 5 tahun (sarjana + profesi)

Masih banyak masyarakat pengguna obat yang menggunakan obat berdasarkan sugesti dari info-info yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Ada yang mau mengkonsumsi obat dengan kemasan tertentu, beda kemasan tidak mau, padahal isi obatnya sama dan reputasi pabrik pembuatnya tidak jauh berbeda.

Sering kejadian di apotek, konsumen tidak jadi membeli obat hanya karena obat yang dimaksud beda bentuk sediaannya…pengen beli paracetamol yang tablet, kebetulan yang ada di apotek tinggal yang kaplet…pengen beli antalgin yang berkemasan strip, kebetulan yang sisa di apotek berkemasan blister…dengan ‘keukeh’nya konsumen tersebut tidak mau membeli…:(


Neuromec

June 26, 2008

Untuk menjawab pertanyaan mahasiswa Keperawatan Unsoed tersebut, berikut ini saya tuliskan monografi NEUROMEC, suatu sediaan kaplet salut selaput produksi Mecosin (bukan bermaksud promosi pabrik, karena tidak punya kepentingan sama sekali). Sebenarnya terdapat banyak sediaan sejenis yang ada di pasaran Indonesia.

 

NEUROMEC

Kaplet salut selaput

 

Komposisi

Tiap kaplet mengandung:

Metampiron                              500 mg

Vitamin B1                                 50 mg

Vitamin B6                                 10 mg

Vitamin B12                               10 mg

 

Cara kerja Obat

NEUROMEC kaplet adalah analgetik-antipiretik yang mengandung vitamin-vitamin yang berguna untuk menghilangkan rasa nyeri dan/atau linu yang neurogenik

 

Indikasi

NEUROMEC diindikasikan untuk menghilangkan:

         sakit kepala

         sakit gigi

         neuralgia

         lumbago

         rheumatisme

         kolik pada ginjal dan kantung empedu

         nyeri pada otot atau persendian

 

Dosis

– Dewasa                                 : sehari 3 – 4 kali, 1 – 2 kaplet

– Anak usia di atas 5 tahun        : sehari 3 – 4 kali, ½ – 1 kaplet

 

Kontraindikasi

         Penderita hipersensitif terhadap metampiron

         Wanita hamil, terutama pada 3 bulan pertama dan 6 minggu terakhir

         Bayi usia 3 bulan pertama atau dengan berat badan di bawah 5 kg

         Penderita dengan tekanan darah kurang dari 100 mmHg

 

Peringatan dan perhatian

         Walaupun jarang menimbulkan agranulositosis, tetapi dapat berakibat fatal, oleh karena itu sebaiknya tidak digunakan terus menerus dalam jangka panjang

         Hati-hati pada penderita yang pernah mengalami gangguan/kelainan pembentukan darah

 

Efek samping

         reaksi hipersensitif

         reaksi pada kulit

         agranulositosis

 


Layanan lain Apotek Samara

January 26, 2008

Apotek SAMARA juga menyediakan layanan informasi obat sederhana buat yang memerlukan