Ramadhan Pertama di Enschede

June 21, 2016

Ramadhan 1437 H merupakan Ramadhan pertama kami di negeri rantau, di salah satu negeri di benua Eropa yang memiliki 4 musim dan cuacanya dikenal cukup fluktuatif. Di negeri van Oranje ini pula kami merasakan betapa bumi Allah memang bundar dan betapa Allah sangat luar biasa dalam menciptakan makhluk-makhluknya.

Suasana Ramadhan di sini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana Ramadhan di tanah air tercinta, Indonesia. Tidak ada suara-suara orang-orang yang membangunkan jamaah tatkala waktu sahur, tidak ada gelombang manusia yang mendatangi masjid, mushola, langgar, dan surau untuk melaksanakan sholat tarawih, tidak ada kumpulan jamaah di masjid yang dengan sabar menunggu datangnya waktu berbuka. Tidak ada pasar kaget yang sering muncul menjelang berbuka.

Di kota ini hanya ada dua masjid, itu pun yang satu tidak terlalu besar dan orang sering menyebutnya sebagai Masjid komunitas Turki. Yang satunya lagi masjidnya lumayan besar, orang menyebutnya Masjid komunitas Maroko. Suasana Ramadhan agak bisa kita jumpai di Masjid komunitas Maroko ini, yang paling khas bagi orang Indonesia dengan suasana Ramadhan di masjid ini adalah ketika berbuka puasa (ifthar jama’i). Suasana ifthar jama’i di sini sangat terbuka bagi siapa saja jamaah yang berminat, terdiri dari kakek-nenek, bapak-bapak, ibu-ibu, mahasiswa, mahasiswi, dan anak-anak. Jamaahnya sangat multinasional, ada yang berasal dari Maroko, Libanon, Indonesia, Pakistan, Somalia, Ethiopia, Suriah, dan lain-lain. Menu berbukanya juga sangat khas buat orang Indonesia, terutama masakan dan makanannya yang sangat kental suasana Arab-nya, yang terkadang rasanya agak terasa asing buat lidah orang Indonesia.

1 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan tanggal 6 Juni 2016, yang masuk dalam musim panas, musim di mana di negeri ini memiliki waktu siang lebih panjang dibandingkan waktu malamnya. Konsekuensinya waktu untuk menjalani ibadah puasa akan lebih dari 12 jam, jam normal jika 24 jam dibagi dua, siang dan malam. Untuk daerah kami, Enschede, yang terletak di bagian timur Belanda waktu maghrib selama bulan Ramadhan 1437 H ini pada kisaran jam 21.50 hingga 22.00 dan waktu shubuh pada kisaran jam 03.15 hingga 03.25. Durasi total puasa sekitar 19 jam ini merupakan tantangan tersendiri buat kami. Selain harus mampu menahan lapar dan dahaga di siang hari, pada malam harinya kami harus pintar membagi waktu antara berbuka, sholat maghrib, sholat isya, sholat tarawih, sahur, dan sholat shubuh. Bagaimanapun kami tidak ingin momentum dan keberkahan bulan Ramadhan tahun ini berlalu begitu saja.

Selama hari kerja, Senin-Jumat jam 9.00 – 17.00 kami tetap beraktivitas seperti biasa di kampus, sepulang dari kampus, biasanya setelah sholat ashar kami sempatkan untuk tidur terlebih dahulu hingga menjelang berbuka. Setelah berbuka, kami lanjutkan dengan sholat maghrib, sambil menunggu waktu isya (jam 23.30) kami istirahat sejenak. Setelah sholat isya kami tidur dulu sampai sekitar jam 01.45, kami lanjutkan sholat tarawih, sahur, dan sholat shubuh pada jam 03.30. Sesudah menjalankan sholat shubuh dan tilawah kami lanjutkan dengan tidur hingga jam 7.00 supaya kami tetap bugar beraktivitas pada siang hari.

Selain lamanya waktu berpuasa, tantangan lain kami menjalankan ibadah puasa di Enschede (Belanda) pada tahun ini adalah kondisi cuaca yang relatif sangat fluktuatif. Dalam satu hari, kita bisa mengalami pergantian cuaca selama 4 kali, yaitu panas, hujan, sejuk, dan dingin. Terkadang dalam satu hari memiliki rentang suhu sangat lebar, yaitu antara 7 hingga 27°C. Alhamdulillah hingga tulisan ini dibuat, suhu belum pernah mencapai lebih dari 30°C.

Untuk dapat menikmati dan mendapatkan suasana Ramadhan seperti di tanah air, kami yang menghimpun diri dalam IMEA (Indonesian Moslem Enschede Association) mengadakan kegiatan buka bersama setiap pekan satu kali, biasanya diadakan pada hari Sabtu. Pada acara ini, diisi dengan pembacaan Al-Quran, ceramah singkat, buka bersama, dan sholat maghrib berjamaah.

Mesikpun demikian, Allah tidak akan membebani makhluk-Nya di luar batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah ayat 286) dan setiap perintah Allah pasti bermanfaat dan memiliki banyak kebaikan buat hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah ayat 183). Kita sebagai umat Islam harus dan selalu bersyukur disediakan satu bulan khusus buat kita (Ramadhan) untuk mengasah dan memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita, supaya kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa, karena sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa (QS. Al-Hujurat ayat 13).

DSC08801

Buka bersama IMEA

IMG_20160610_222739

Buka bersama di Masjid Maroko


Sedikit Sharing tentang Etika Bisnis Islam (2)

April 21, 2010

Lanjutan dari tulisan sebelumnya, berikut adalah penggalan tulisan Etika Bisnis Islam (yang disarikan dari beberapa tulisan di internet)…subhanalloh, ternyata yang namanya pemasaran juga ada etikanya dalam Islam.

Etika Pemasaran

Dalam konteks etika pemasaran yang bernuansa Islami, dapat dicari pertimbangan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan dua persyaratan dalam proses bisnis yakni persyaratan horizontal (kemanusiaan) dan persyaratan vertikal (spritual). Surat Al-Baqarah menyebutkan ”Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada yang diragukan didalamnya. Menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Ayat ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam etika marketing:

a)  Allah memberi jaminan terhadap kebenaran Al-Qur’an, sebagai reability product guarantee.

b)  Allah menjelaskan manfaat Al-Qur’an sebagai produk karyaNya, yakni menjadi hudan (petunjuk).

c)  Allah menjelaskan objek, sasaran, customer, sekaligus target penggunaan kitab suci tersebut, yakni orang-orang yang bertakwa.

Isyarat diatas sangat relevan dipedomani dalam melakukan proses marketing, sebab marketing merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi mesin suatu perusahaan.

Mengambil petunjuk dari kalimat ”jaminan” yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, maka dalam rangka penjualan itupun kita harus dapat memberikan jaminan bagi produk yang kita miliki. Jaminan tersebut mencakup dua aspek:

  • Aspek material, yakni mutu bahan, mutu pengobatan, dan mutu penyajian.
  • Aspek non material, mencakup; ke-Halalan, ke-Thaharahan (Higienis), dan ke-Islaman dalam penyajian.

Bahwa jaminan terhadap kebaikan makanan itu baru sebagian dari jaminan yang perlu diberikan, disamping ke-Islaman sebagai proses pengolahan dan penyajian, serta ke-Halalan, ke-Thaharahan. Jadi totalitas dari keseluruhan pekerjaan dan semua bidang kerja yang ditangani di dalam dan di luar perusahaan merupakan integritas dari ”jaminan”.

Urutan kedua yang dijelaskan Allah adalah manfaat dari apa yang dipasarkan. Jika ini dijadikan dasar dalam upaya marketing, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan penjelasan mengenai manfaat produk (ingridients) atau manfaat proses produksi dijalankan. Adapun metode yang dapat digunakan petunjuk Allah: ”Beritahukanlah kepadaku (berdasarkan pengetahuan) jika kamu memang orang-orang yang benar”(QS:Al-An’am;143). Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk meyakinkan seseorang terhadap kebaikan yang kita jelaskan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan, data dan fakta. Jadi dalam menjelaskan manfaat produk, nampaknya peranan data dan fakta sangat penting, bahkan seringkali data dan fakta jauh lebih berpengaruh dibanding penjelasan. Sebagaimana orang yang sedang dalam program diet sering kali memperhatikan komposisi informasi gizi yang terkandung dalam kemasan makanan yang akan dibelinya.

Ketiga adalah penjelasan mengenai sasaran atau customer dari produk yang kita miliki. Dalam hal ini kita dapat menjelaskan bahwa makanan yang halal dan baik (halalan thoyyiban), yang akan menjadi darah dan daging manusia, akan membuat kita menjadi taat kepada Allah, sebab konsumsi yang dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan harus memenuhi tiga unsur :

  • Materi yang halal
  • Proses pengolahan yang bersih (Higienis)
  • Penyajian yang Islami

Dalam proses pemasaran promosi merupakan bagian penting, promosi adalah upaya menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana seseorang sebaiknya mempromosikan barang dagangannya? Selain sebagai Nabi Rasulullah memberikan teknik sales promotion yang jitu kepada seorang pedagang. Dalam suatu kesempatan beliau mendapati seseorang sedang menawarkan barang dagangannya. Dilihatnya ada yang janggal pada diri orang tersebut. Beliau kemudian memberikan advis kepadanya: ”Rasulullah lewat di depan sesorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang tersebut jangkung sedang baju yang ditawarkan pendek. Kemudian Rasululllah berkata: ”Duduklah! Sesungguhnya kamu menawarkan dengan duduk itu lebih mudah mendatangkan rezeki.” (Hadits).

Dengan demikian promosi harus dilakukan dengan cara yang tepat, sehingga menarik minat calon pembeli. Faktor tempat dan cara penyajian serta teknik untuk menawarkan produk dilakukan dengan cara yang menarik. Faktor tempat meliputi desain interior yang serasi yang serasi, letak barang yang mudah dilihat, teratur, rapi dan sebagainya.

Memperhatikan hadits Rasulullah diatas sikap seorang penjual juga merupakan faktor yang harus diperhatikan bagi keberhasilan penjualan. Selain faktor tempat, desain interior, letak barang dan lain-lain.

Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam Islam posisi pebisnis pada dasarnya adalah profesi yang terpuji dan mendapat posisi yang tinggi sepanjang ia mengikuti koridor syari’ah. Muamalah dalam bentuk apapun diperbolehkan sepanjang ia tidak melanggar dalil syar’i. Islam melarang seorang Muslim melakukan hal yang merugikan dan mengakibatkan kerusakan bagi orang lain sebagaimana disebutkan dalam haditsnya. Rasululllah bersabda: ”La dlaraara wala dliraara” (HR. Ibnu Abbas).


Sedikit Sharing tentang Etika Bisnis Islam (1)

April 21, 2010

Tulisan ini saya sarikan dari beberapa tulisan di internet, mengingat saya seorang farmasis yang juga senang ber-enterpreneurship. Yang saya up-load di sini sebenarnya penggalan, tulisan lengkapnya lumayan banyak…diperuntukkan memenuhi “tugas”…

Islam Sumber Nilai dan Etika

Islam merupakan sumber nilai dan etika dalam segala aspek kehidupan manusia secara menyeluruh, termasuk wacana bisnis. Islam memiliki wawasan yang komprehensif tentang etika bisnis. Mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok kerusakan dalam perdagangan, faktor-faktor produksi, tenaga kerja, modal organisasi, distribusi kekayaan, masalah upah, barang dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada etika sosio ekonomik menyangkut hak milik dan hubungan sosial.

Aktivitas bisnis merupakan bagian integral dari wacana ekonomi. Sistem ekonomi Islam berangkat dari kesadaran tentang etika, sedangkan sistem ekonomi lain, seperti kapitalisme dan sosialisme, cenderung mengabaikan etika sehingga aspek nilai tidak begitu tampak dalam bangunan kedua sistem ekonomi tersebut. Keringnya kedua sistem itu dari wacana moralitas, karena keduanya memang tidak berangkat dari etika, tetapi dari kepentingan (interest). Kapitalisme berangkat dari kepentingan individu sedangkan sosialisme berangkat dari kepentingan kolektif. Namun, kini mulai muncul era baru etika bisnis di pusat-pusat kapitalisme.

Suatu perkembangan baru yang menggembirakan. Al-Qur’an sangat banyak mendorong manusia untuk melakukan bisnis. (Qs. 62:10,). Al-Qur’an memberi pentunjuk agar dalam bisnis tercipta hubungan yang harmonis, saling ridho, tidak ada unsur eksploitasi (QS. 4:29) dan bebas dari kecurigaan atau penipuan, seperti keharusan membuat administrasi transaksi kredit (QS. 2: 282).

Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang bereputasi international yang mendasarkan bangunan bisnisnya kepada nilai-nilai ilahi (transenden). Dengan dasar itu Nabi membangun sistem ekonomi Islam yang tercerahkan. Prinsip-prinsip bisnis yang ideal ternyata pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Realitas ini menjadi bukti bagi banyak orang, bahwa tata ekonomi yang berkeadilan, sebenarnya pernah terjadi, meski dalam lingkup nasional, Negara Madinah. Nilai, spirit dan ajaran yang dibawa Nabi itu, berguna untuk membangun tata ekonomi baru, yang akhirnya terwujud dalam tata ekonomi dunia yang berkeadilan.

Syed Nawab Haidar Naqvi, dalam buku “Etika dan Ilmu Ekonomi: Suatu Sistesis Islami”, memaparkan empat aksioma etika ekonomi, yaitu tauhid, keseimbangan (keadilan), kebebasan, dan tanggung jawab.

Tauhid, merupakan wacana teologis yang mendasari segala aktivitas manusia, termasuk kegiatan bisnis. Tauhid menyadarkan manusia sebagai makhluk ilahiyah, sosok makhluk yang bertuhan. Dengan demikian, kegiatan bisnis manusia tidak terlepas dari pengawasan Tuhan, dan dalam rangka melaksanakan titah Tuhan. (QS. 62:10).

Keseimbangan dan keadilan, berarti bahwa perilaku bisnis harus seimbang dan adil. Keseimbangan berarti tidak berlebihan (ekstrim) dalam mengejar keuntungan ekonomi (QS.7:31). Kepemilikan individu yang tak terbatas, sebagaimana dalam sistem kapitalis, tidak dibenarkan. Dalam Islam, Harta mempunyai fungsi sosial yang kental (QS. 51:19).

Kebebasan, berarti, bahwa manusia sebagai individu dan kolektivitas, punya kebebasan penuh untuk melakukan aktivitas bisnis. Dalam ekonomi, manusia bebas mengimplementasikan kaedah-kaedah Islam. Karena masalah ekonomi, termasuk kepada aspek mu’amalah, bukan ibadah, maka berlaku padanya kaedah umum, “Semua boleh kecuali yang dilarang”. Yang tidak boleh dalam Islam adalah ketidakadilan dan riba. Dalam tataran ini kebebasan manusia sesungguhnya tidak mutlak, tetapi merupakan kebebasan yang bertanggung jawab dan berkeadilan.

Pertanggungjawaban, berarti, bahwa manusia sebagai pelaku bisnis, mempunyai tanggung jawab moral kepada Tuhan atas perilaku bisnis. Harta sebagai komoditas bisnis dalam Islam, adalah amanah Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Etika Bisnis Islami

Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980-an dan menjadi fenomena global di tahun 1990-an jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat, akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolak kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya.

Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Qur’an terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) “Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. Dawam Rahardjo justru mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai tanggungjawab manusia terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam.

Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak.

Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran (QS: Al Ahzab;70-71). Sebagian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha senantiasa terbuka dan transparan dalam jual belinya ”Tetapkanlah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga” (Hadits). Akhlak yang lain adalah amanah, Islam menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsure yang melampaui batas atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ”Tidak ada iman bagi orang yang tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji”, ”pedagang yang jujur dan amanah (tempatnya di surga) bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada”(Hadits). Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan, mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ”Allah mengasihi orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang” (Hadits).

Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu ”Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” (QS: Al- Maidah;1), ”Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah ”Tanda-tanda munafik itu tiga perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia khianat” (Hadits).


Tabligh Akbar Ust. Arifin Ilham di Masjid Nurul Ulum

July 24, 2008

Rabu malam, 23 Juli 2008 bertempat di Masjid Kampus Nurul Ulum Unsoed Purwokerto diselenggarakan acara Tabligh Akbar Ustadz Arifin Ilham.

Acara dimulai ba’da maghrib diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an diteruskan dengan beberapa sambutan.

Ustadz yang selalu mengenakan peci putih, baju koko putih, dan sarung bermotif putih dalam setiap pengajian beliau memulai acara ba’da sholat Isya’ pas.

Taujih ustadz kharismatik ini menurut saya agak berbeda jika dibandingkan dengan beberapa acara beliau yang saya ikuti. Atau mungkin ini karena label acaranya…selama ini saya selalu mengikuti acara beliau dengan label dzikir akbar, dzikir nasional, dan dzikir-dzikir yang lain. Pada acara di Masjid Kampus Nurul Ulum ini beliau lebih banyak memberikan taujih daripada dzikirnya. Hal ini bisa jadi karena acara ini berlabel Tabligh Akbar atau bisa jadi juga karena kebanyakan pesertanya adalah mahasiswa dan siswa SMA/SMK, yang nota bene lebih seneng mendengarkan taujih/cerita dibandingkan dengan kalo diajak dzikir berjamaah.

Acara berjalan lancar, sukses, dengan disertai beberapa joke dari Sang Ustadz. Penampilan dan taujih Ustadz Arifin Ilham begitu membius para peserta sehingga terlihat begitu tenang, tidakada suara ribut (bicara sendiri), tidak ada yang terburu-buru ingin pulang.

Sekitar jam 21.15 Ustadz Arifin menyudahi taujihnya dan menutupnya dengan do’a.

Semoga ini tidak kunjungan beliau yang pertama dan terakhir di Purwokerto…semoga beliau berkenan memberikan taujih dan berdzikir bareng dengan warga Purwokerto kembali kelak di kemudian hari.