IAI Banyumas Layak Menjadi Percontohan di Indonesia

March 19, 2016

11204474_10208949120309711_815703642069734112_nKemarin, saya dikirimi beberapa foto dan video singkat oleh seorang kolega, foto dan video singkat tersebut berisi tentang pelepasan istriku oleh pengurus Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) cabang Banyumas. Sehari sebelumnya, istri sempat memberitahu bahwa setelah sholat Jumat akan makan-makan dalam rangka pamitan.

Yang membuat saya terharu ketika melihat beberapa foto dan video singkat tersebut adalah sambutan dan apresiasi yang sangat hangat dari para pengurus IAI cabang Banyumas. Hampir seluruh pengurus hadir dalam acara pelepasan istri tersebut, segenap tokoh-tokoh Apoteker Banyumas hadir di dalam acara tersebut.

Sejak sekitar tahun 2010, istri menjadi salah satu pengurus di IAI Banyumas, aktivitas yang penuh pengabdian, karena tidak ada istilah gaji dalam kepengurusan IAI Banyumas. Tetapi istri terlihat enjoy, karena istri dan teman-teman pengurus IAI Banyumas memiliki visi yang sama, yaitu ingin menciptakan dan menghadirkan Apoteker yang mampu memberikan pelayanan kefarmasian/kesehatan yang paripurna kepada masyarakat. Istri dan teman-teman pengurus IAI Banyumas menempatkan komunitas mereka ibarat keluarga kedua bagi mereka.

Sebelum berinteraksi dengan IAI Banyumas, saya pernah berinteraksi dengan IAI Bandung dan IAI Jakarta, yang menurut saya IAI Banyumas yang paling berbeda. IAI Banyumas sangat mendukung upaya apoteker-apoteker yang ingin memiliki apotek sendiri, sehingga “beban” modal untuk apotek agak terkikis. IAI Banyumas sangat memegang prinsip dan implementasi bahwa apotek itu adalah lahan praktek dan usaha bagi apoteker, sehingga tidak heran jika sampai saat ini jumlah apotek yang pemiliknya adalah juga apoteker lebih dari 75%.

Pengurus IAI Banyumas juga mengadakan pertemuan rutin anggota, yang agak jarang ditemukan di pengurus IAI-IAI lain yang ada di Indonesia. Pertemuan ini diadakan sambil makan siang bersama. Pertemuan rutin seluruh anggota IAI Banyumas diadakan minimal setiap 3 bulan sekali. Pertemuan rutin seluruh anggota korwil (koordinator wilayah) diadakan setiap sebulan sekali, yang biasanya dibuat dalam model arisan anggota. Hal ini yang membuat ikatan apoteker yang tergabung dalam IAI Banyumas ini cukup kuat. Pertemuan internal pengurus frekuensinya tidak tentu, setiap butuh koordinasi, para pengurus akan mengadakan pertemuan. Dalam sebulan minimal sekali ada satu kali pertemuan internal pengurus.

Seiring bertambah banyaknya jumlah apoteker di Banyumas, pengurus IAI Banyumas berinisiatif membuat apotek bersama, yaitu apotek yang modalnya dari para apoteker yang bersedia berinvestasi (dalam bentuk saham) dan pengelolanya dari apoteker-apoteker muda yang senang dengan tantangan. Jadi apotek bersama ini dari, oleh, dan untuk apoteker-apoteker yang ada di Banyumas. Sampai sekarang jumlah apotek seperti ini ada dua di Banyumas, yang kemudian dalam pengelolaan usahanya, para apoteker yang di bawah naungan IAI Banyumas tersebut menghimpun diri dalam suatu koperasi.

Semoga IAI Banyumas istiqomah dengan nilai-nilainya (komitmen, integritas, kekeluargaan, dll) sehingga mimpi menghadirkan apoteker yang kompeten, berintegritas, dan paripurna segera menjadi kenyataan.

Advertisements

Kisah Apoteker di Apotek (1)

May 4, 2010

Seperti biasa, setiap akhir pekan mendapat giliran menjaga dan melayani konsumen di apotek. Pekerjaan yang menjadi ajang indikator sejauh mana profesi Apoteker dikenal dan dihargai di masyarakat. Hampir selalu didapati cerita-cerita riil yang tidak dapat ditemukan di dunia teori/perkuliahan.

Akhir pekan kemarin terdapat seorang bapak datang ke apotek mau beli asam mefenamat, dengan mantapnya saya ambilkan asam mefenamat yang ada di etalase (stok yang ada produksi I**of*r*a). Ketika saya sodorkan asam mefenamat tersebut, si Bapak langsung bertanya…biasanya bukan yang ini, tapi yang bentuknya kayak kapsul (si Bapak menjelaskan salah satu produk asam mefenamat yang mengarah pada produksi B**no*a**a)…

Terjadilah dialog…setelah dijelaskan bahwa yang berbeda hanya pabrik pembuatnya, tapi isi dan nama obatnya sama, si Bapak bertanya lagi, apakah ini asam mefenamat yang digunakan untuk mengobati sakit persendian? Saya mencoba menjelaskan bahwa indikasi utama asam mefenamat adalah antiperadangan, untuk mengilangkan rasa sakit, dan rasa ngilu. Eh si Bapak masih ngotot bertanya apakah asam mefenamat ini yang bisa digunakan untuk mengobati sakit sendi…saya jawab bisa Pak, tapi sebenarnya untuk sakit sendi ada obat lain yang lebih tepat…dan si Bapak pun memutuskan untuk pergi dari apotek tanpa membeli asam mefenamat yang saya sodorkan.

Cerita Bapak (calon pembeli) dengan asam mefenamat ini mengingatkan saya terhadap pernyataan salah satu dosen saya, seorang Prof. Dr lulusan Prancis yang mengatakan bahwa orang Indonesia tergolong “sakti-sakti”…karena menderita sakit tertentu diobati dengan obat yang kurang tepat indikasi, eh hasilnya tetap sembuh sehingga terjadi justifikasi-justifikasi yang kurang tepat dalam hal penggunaan obat.

Namun demikian, terlepas “sakti-saktinya” orang Indonesia, salah satu point besar yang patut menjadi perhatian dunia kesehatan kita adalah tentang edukasi penggunaan obat…dalam hal ini dituntut kontribusi dan peranan Apoteker yang maksimal. Kontribusi dan peran apoteker ini dapat dimulai dengan kehadiran apoteker yang intensif di apotek sehingga paradigma apoteker hanya numpang nama di apotek dapat tereliminasi…sehingga pelayanan apotek dapat “terstandarisasi” dengan pelayanan langsung oleh apoteker.

Menurut hasil benchmarking pendidikan farmasi di UK, di bidang farmasi masyarakat, apoteker bertanggung jawab pada penyediaan/pemenuhan resep obat, memberi penyuluhan kepada pasien dan memberi tanggapan terhadap gejala-gejala penyakit mereka, peningkatan kesehatan, dan pemeriksaan obat. Mereka memberikan pelayanan kefarmasian pada pemukiman dan rumah-rumah perawatan/jompo, dan mereka terlibat dalam upaya mengurangi bahaya penyalahgunaan obat dengan cara berpartisipasi dalam program pertukaran jarum dan pengawasan penggunaan obat. Pemakaian sistem komputer dalam peracikan menjamin agar interaksi obat, overdosis dan ketidaksesuaian dapat segera dideteksi sehingga memberi waktu lebih banyak bagi apoteker untuk memberi arahan kepada pasien serta petugas pelayanan kesehatan. Banyak apoteker yang langsung terlibatdalam memastikan supaya pasien memperolah resep yang paling tepat, dan supaya pasien termotivasi serta mengetahui cara menggunakan obat.

Referensi:
Anonim, Pharmacy Benchmarking, http://aptfi.or.id


Obat Sakit Gigi Menyebabkan Kantuk???

March 5, 2010

Sudah lama tidak meng-up load tulisan tentang serba-serbi apotek/apoteker, jadi pengen sharing lagi…seperti biasa, serba-serbi apotek/apoteker yang menarik diceritakan adalah bagaimana sampe sekarang pemahaman masyarakat tentang obat yang masih terkategorikan sangat rendah…

Cerita bermula ketika ada pembeli yang datang ke Apotek Samara dengan niatan mau membeli obat sakit gigi, berikut ini cuplikan percakapan yang terjadi:

Pembeli: “Bu, minta obat sakit giginya ya…tapi jangan yang menyebabkan kantuk…”
Apoteker: “Maksudnya gimana Pak..?”
Pembeli: “Kalo antalgin kan bisa menyebabkan kantuk? jadi minta yang bukan antalgin…”
Apoteker: “Pak, Antalgin tidak menyebabkan kantuk…Bla..bla….”
Akhirnya Bapak ini mendapatkan obat sakit gigi tanpa kuatir terserang kantuk…

Sang pembeli entah dapat info dari mana sehingga menyatakan kalau Antalgin dapat menyebabkan kantuk…seperti diketahui, efek samping Antalgin antara lain:

Infeksi lambung, hiperhidrosis; Retensi cairan dan garam; Reaksi alergi yang cukup sering terjadi: reaksi kulit dan edema angioneurotik; Efek samping yang berat: agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.

Berdasarkan percakapan di atas, menunjukkan untuk kesekian kalinya, betapa fungsi keberadaan Apoteker di apotek sungguh dibutuhkan masyarakat…supaya pemahaman masyarakat tentang obat semakin baik, supaya masyarakat semakin cerdas dalam melakukan pengobatan, supaya “kesalahan-kesalahan” informasi tentang obat di masayarakat bisa diluruskan, dan lain-lain.

Apoteker harus segera mengambil peran ini, peran yang sesuai dengan keilmuannya…bukankah selama 4 tahun kuliah sarjana dan 1 tahun kuliah profesi, Apoteker selalu di-suap-in dengan materi-materi terkait obat-obatan…akan sangat sayang kalau masa 5 tahun pembelajaran tersebut dibiarkan menguap begitu saja…


Tablet Effervescent Paracetamol

February 11, 2010

Beberapa waktu lalu, kawan berkebangsaan Wales datang ke apotek. Dia mau mencarikan obat untuk istrinya yang sedang kurang enak badan…sang kawan menyebut Paracetamol sebagai “titipan” istrinya.

Ketika saya ambilkan tablet paracetamol, dia bertanya apakah tidak ada yang berbentuk effervescent? Dia bercerita bahwa istrinya kurang bisa menelan tablet/kaplet/kapsul…dia juga bercerita bahwa di UK paracetamol ada yang berbentuk effervescent.

Saya bilang, kayaknya di Indonesia belum ditemukan sediaan komersial paracetamol berbentuk effervescent. Terjadilah komunikasi beberapa saat, terus saya sodorkan beberapa produk paracetamol…akhirnya sang kawan memilih sirup paracetamol merk tertentu untuk istrinya tercinta.

Belum ditemukannya produk komersial tablet effervescent paracetamol di Indonesia sangat besar disebabkan oleh faktor ekonomi. Seperti diketahui biaya pembuatan tablet effervescent lebih mahal dibandingkan dengan biaya pembuatan tablet biasa. Tingginya biaya pembuatan tablet effervescent karena secara komposisi yang relatif lebih kompleks dan proses pembuatan yang relatif lebih panjang dibandingkan dengan tablet biasa.

Sesuai definisinya, tablet effervescen adalah tablet yang dimaksudkan untuk melarut atau terdispersi di dalam air sebelum diberikan kepada pasien. Hal ini biasanya selain mengandung bahan aktif, juga mengandung campuran asam/garam asam (sitrat, tartarat, asam malat atau asam lain yang cocok atau asam anhidrida) dan karbonat hidrogen karbonat (natrium, kalium atau logam alkali karbonat yang cocok lainnya atau hidrogen karbonat ) yang melepaskan karbondioksida ketika dicampur dengan air.

Untuk kasus tablet effervescent paracetamol, selain faktor effervescent-nya sendiri, faktor paracetamol juga menjadi catatan khusus. Berdasarkan karakteristiknya, paracetamol sebagai zat aktif memiliki kelarutan yang relatif kecil di dalam air…hal ini memerlukan penanganan khusus dalam formulasinya.

Mudah-mudah ke depan, bisa ditemukan tablet effervescent paracetamol dengan harga terjangkau di Indonesia.


Polemik Puyer: Maju Terus RCTI

February 24, 2009

Beberapa waktu lalu ketika RCTI awal-awal menanyangkan liputan khususnya yang bertajuk POLEMIK PUYER, saya agak sedikit geregetan…karena dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber, belum sekalipun ditampilkan sosok apoteker sebagai salah satu profesi kesehatan yang katanya paling tahu tentang obat.
Tetapi, beberapa hari ini hati saya berubah menjadi simpatik dan malah sekarang punya harapan baru terhadap RCTI. Ya, beberapa hari ini POLEMIK PUYER mengarah kepada posisi dan peran Apoteker di apotek…saya mendukung sekali langkah RCTI ini.
Selama ini ISFI sebagai satu-satunya organisasi profesi apoteker di Indonesia sudah menyuarakan dan meng-harus-kan anggotanya (apoteker) untuk melakukan pelayanan kefarmasian yang tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP)…tapi pelaksanaannya????:)
Semoga dengan tayangan RCTI beberapa hari ini dan ke depan dapat menggugah hati para rekan sejawat apoteker dan juga pengambil kebiijakan terkait masalah pelayanan apoteker di apotek.
Semoga dengan tayangan RCTI ini juga dapat meluruskan duduk masalah pelayanan kesehatan di Indonesia yang terurai bagai benang kusut, yang ruwet dan sulit diluruskan…semua profesi kesehatan punya alibi pembenaran praktek profesinya, padahal UU sudah dibuat sedemikian rupa.
Mudah-mudahan dengan tayangan RCTI ini, segenap profsesi kesehatan menjadi terbuka dan berbenah diri…terutama hubungan dokter dan apoteker…sehingga dokter dan apoteker dapat benar-benar menjadi mitra yang sejajar dalam memberikan pelayanannya kepada pasien/konsumen.
Mudah-mudah dengan tayangan RCTI ini masyarakat semakin cerdas dan terbuka bahwa dalam urusan kesehatan melibatkan beberapa komponen terkait, tidak hanya dokter…sehingga masyarakat bisa semakin sadar bahwa ada profesi apoteker yang banyak mendalami tentang obat-obatan, juga ada perawat yang jago dalam merawat pasien, dan lain-lain.
Buat teman-teman apotekerku tercinta, ayo berbenah diri…


Siaran “Gerbang Desa” di RRI Purwokerto

November 22, 2008

Sabtu, 15 November pada pukul 18.00 – 19.00 WIB yang lalu saya siaran dalam acara yang bertajuk “Gerbang Desa” di RRI Purwokerto. Acara ini terselenggara berkat kerja sama antara Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Unsoed dengan RRI Purwokerto.

Pada acara ini saya membawakan tema Cara Pembuatan Granul Efervesen dari Ekstrak Rimpang Temulawak. Selain bersama penyiar RRI, saya didampingi oleh Pak Toto (salah satu dosen perwakilan dari LPM Unsoed).

Siaran ini adalah yang pertama kali sejak lebaran 1429 H yang lalu, tetapi diskusinya sudah termasuk lumayan rame. Terbukti jumlah penanya yang ikut nimbrung pada diskusi ini, baik yang melalui telepon atau SMS berjumlah lebih dari 10 orang. Dan yang menarik adalah kebanyakan penanya bukan bertanya tentang inti tema yang saya angkat yaitu tentang pembuatan granul efervesen. Mayoritas penanya bertanya tentang keamanan meminum jamu, kandungan jamu yang sebenarnya, bahaya jamu, dan lain-lain bahkan sampai ada yang menanyakan tentang terapi herbal pada suatu penyakit.

Pada akhir sesi, pihak LPM mengucapkan senang karena acara siaran perdana pascaLebaran ini berjalan sukses dan rame. Bahkan pihak LPM menawarkan kepada saya untuk sewaktu-waktu bersedia untuk siaran lagi.


Apoteker di Indonesia memang tidak bisa disamakan dengan di Luar Negeri

October 14, 2008

Sesuai dengan namanya, apotek merupakan tempat pelayanan kefarmasian utama bagi apotker. Kebijakan tak ada layanan tanpa apoteker bagi apoteker merupakan kebijakan strategis yang harus didukung oleh semua anggota Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Kebijakan ini hanya dapat dipenuhi apabila apoteker-apoteker yang baru dihasilkan sudah kompeten dalam menjalankan tugas layanan profesional kefarmasian di apotek dan mempunyai motivasi yang memadai.

Transformasi apoteker yang sudah senior yang secara sosial sudah mapan tidak akan banyak dampaknya. Untuk menghasilkan apoteker baru kompeten, diperlukan transformasi sistem pendidikan profesi apoteker terutama untuk mendukung pelayanan profesi apoteker di apotek. Transformasi harus didasarkan pada tuntutan kompetensi dan sumber daya pendukung. Hanya dengan sumberdaya pendukung yang memadai proses pendidikan akan mampu menghasilkan luaran sesuai dengan tuntutan kompetensi yang dirumuskan.

Sebagai tenaga profesional, apoteker harus mampu mendemonstrasikan kompetensinya di apotek. Kompetensi ini hanya dapat diperoleh melalui pengalaman menangani pekerjaan di lapangan. Dalam skema ini lulusan sarjana farmasi harus bekerja dalam bidang yang relevan selama periode tertentu dan setelah itu diikuti dengan ujian sertifikasi yang dilaksanakan oleh penyelenggara pendidikan profesi yang telah disertifikasi. Hanya peserta yang lulus ujian sertifikasi ini yang berhak menyandang gelar apoteker dan dapat bekerja di apotek. Sebagai penyelenggara dapat berupa perguruan tinggi yang melibatkan penguji apoteker. Skema ini dikembangkan berdasarkan kajian pendidikan program profesi di berbagai negara.

Tulisan di atas adalah abstrak dari tulisan Pak Krasno (salah seorang dosen saya di Farmasi ITB) yang dipublikasikan pada Kongres Ilmiah ISFI tahun 2007.

Pada lanjutan tulisannya, beliau memaparkan:

Pendidikan profesi di Amerika dikenal dengan program Doktor Farmasi (PharmD.). Sebelum mengikuti program ini peserta harus sudah lulus program pra-farmasi yang berlangsung selama 2 tahun atau menyelesaikan program bachelor dalam bidang farmasi. Program doktor farmasi berlangsung selama 4 tahun yang terdiri dari perkuliahan dan kerja praktek. Pada tahun pertama hingga tahun ke tiga berisi kuliah sedangkan tahun ke empatnya diisi sepenuhnya dengan kerja praktek lanjut yang dibagi dalam tiga semester (gugur, semi dan panas) dengan beban 36 Sks. Setelah selesai masih harus mengikuti ujian sertifikasi [7,8].
Lama pendidikan apoteker di Inggris adalah empat tahun ditambah dengan program preregistrasi yang berlangsung selama satu tahun. Untuk menjalankan layanan kefarmasian apoteker harus mendapatkan lisensi dari the Royal Pharmaceutical Society [9].
Di Australia lulusan program sarjana farmasi yang memerlukan waktu empat tahun wajib mengikuti kerja praktek yang disupervisi di rumah sakit atau apotek selama 2000 jam atau satu tahun. Setelah selesai kerja praktek mereka harus mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh APEC (Australian Pharmaceutical Examination Council). Materi ujian terdiri dari ujian tertulis pilihan berganda sebanyak 100 soal, 8 soal urain yang harus diselesaikan dalam 3 jam dan wawancara. Peserta ujian yang lulus mendapat sertifikat dan
dapat bekerja di apotek atau rumah sakit sebagai apoteker. Sedangkan yang gagal dapat mengikuti
ujian lagi pada periode berikutnya. Ketentuan ini berlaku sejak 1 Januari 2006, sedangkan sebelumnya peserta harus mengikuti kerja praktek lagi selama periode tertentu.
Pendidikan profesi apoteker di Belanda berlangsung selama tiga tahun yang terdiri dari 180 sks Eropa (1 sks= 0,7 minggu). Kegiatannya terdiri dari perkuliahan, pembekalan praktis, projek kecil dan penulisan tesis, dan magang di apotek dan di rumah sakit masing-masing 2,5 bulan. Selama magang di rumah sakit ada kegiatan bersama dengan mahasiswa kedokteran. Lulusan program profesi apoteker di Belanda ini adalah Magister Farmasi yang setara dengan PharmD di Amerika.
Mulai tahun 1957, pendidikan farmasi di Thailand berlangsung selama 5 tahun dan lulusannya menjadi BSc.Pharm. Sertifikat profesional diberikan langsung ketika sarjana farmasi tersebut mengajukan permohonan. Keseluruhan program terdiri dari 188 sks dengan ketentuan 1 sks sama dengan 15 x 1 jam kegiatan akademik, ditambah dengan 500 jam kegiatan magang profesional. Subspesialisasi terdiri dari
farmasi rumahsakit dan klinik, farmasi komunitas dan administrasi, farmasi kesehatan masyarakat,
teknologi farmasi, dan farmasi risert dan pengembangan. Kecenderungan sekarang mengikuti sistem pendidikan profesi farmasi di Amerika, yaitu farmasi klinik dan dokter farmasi {Doctor of Pharmacy (Pharm.D)}. Adapun lama pendidikannya adalah 6 tahun.
Pendidikan profesi di Malaysia tidak ada. Sarjana farmasi wajib bekerja selama tiga tahun di pemerintah kerajaan baru dapat mengajukan ijin untuk membuka praktek layanan kefarmasian secara mandiri.

Dari tulisan tersebut, sangat naif kalo Apoteker di Indonesia minta disejajarkan dengan dokter…karena dari lama studi saja sudah berbeda…kalo di luar negeri Apoteker emang layak disandingkan dengan dokter, karena “perjuangan” mereka dalam meraih ‘toga’ hampir sama beratnya…:)