Pendidikan Farmasi di Belanda

March 24, 2016

Terdapat dua sekolah farmasi di Belanda, yang satu di Utrecht (University of Utrecht), yang terletak di bagian selatan Amsterdam, dan satunya di Groningen (University of Groningen), di bagian utara negeri ini.

Sistem pendidikan farmasi di Belanda dibagi menjadi dua bagian utama. Empat tahun pertama, sangat ditekankan pada ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu kefarmasian. Dua tahun terakhir, ditekankan pada skill praktek kefarmasian. Setelah empat tahun pertama, mahasiswa bisa mengambil suatu ujian sementara (interim), setelah sukses melalui tahap ini dapat mengambil program master, meskipun level master juga dapat diperoleh setelah tahun keenam. Selain itu, mahasiswa pada akhir tahun keempat dapat memutuskan untuk tidak melengkapi program farmasinya dan memilih program riset. Namun, mahasiswa kebanyakan menyelesaikan program enam tahunnya dan menjadi farmasis, mendapatkan gelar diploma, yang mirip seperti kualifikasi PharmD di Amerika Serikat.

Yang dapat diterima menjadi mahasiswa program pendidikan farmasi adalah lulusan-lulusan SMA yang harus sudah mengambil ilmu-ilmu kimia, fisika, biologi, matematika, dan Bahasa Inggris (diharapkan). Pada akhir SMA, siswa-siswi mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh sekolah dan negara, dan mereka harus lulus untuk mendapatkan ijazah yang akan mengizinkan mereka untuk masuk universitas. Untuk sekolah farmasi, tidak ada persyaratan tertentu yang diperlukan, walaupun hal ini tidak berlaku untuk kuliah seperti kedokteran dan kedokteran gigi.

Jumlah mahasiswa farmasi semakin ke sini semakin meningkat. Farmasi adalah profesi yang terkenal karena memiliki gaji yang cukup bagus dan lapangan pekerjaannya cukup luas. Proporsi mahasiswa farmasi biasanya lebih banyak yang perempuan daripada yang laki-laki (55% dari total mahasiswa farmasi). Sekolah farmasi di Belanda memiliki hubungan yang dekat dengan sekolah kedokteran dan sekolah kedokteran gigi.

Pendidikan farmasi dibagi menjadi pembelajaran blok yang berlainan, yang terdapat sekitar 15 blok dalam satu tahun akademik. Tidak ada term dan tidak ada semester. Tahun akademik terdiri dari 42 pekan kuliah dengan liburan dua pekan pada Natal, liburan delapan pekan pada musim panas (summer). Liburan bank juga ditambahkan pada liburan ini. Pada akhir setiap blok kuliah, yang pada dua hingga tiga pekan terakhir, mahasiswa melakukan suatu ujian. Salah satu yang menjadi masalah dalam pendekatan ini adalah selama blok kuliah, mahasiswa fokus pada hanya satu subyek, mahasiswa dapat lebih mudah mempelajari dan lulus ujian, namun integrasi dan aplikasi pembelajaran ini sangat sulit dan mahasiswa sering berjuang dengan cara ini.

Enam bulan pengalaman praktek dalam tahun keenam harus dibagi antara 3 farmasi, dua farmasi komunitas dan satu farmasi rumah sakit. Meskipun mahasiswa memenuhi kualifikasi sebagai farmasis/apoteker pada akhir periode ini, mereka dapat menjadi penanggung jawab farmasi setelah beberapa tahun lagi. Untuk menjadi penanggung jawab farmasi rumah sakit, farmasi harus secara formal mengikuti on-the-job training selama 3 tahun setelah lulus menjadi PharmD. Untuk menjadi penanggung jawab di farmasis komunitas dapat secara legal setelah kualifikasi, namun ini masih relatif lemah dan menjadi penuh setelah dua tahun menjadi asisten farmasis/apoteker.

Sekolah farmasi, asosiasi farmasi, dan industri berkolaborasi dalam memberikan pendidikan berkelanjutan dan lifelong learning untuk para farmasis.

 

Referensi:

Pamela Mason. Pharmacy education in the Netherlands. The Pharmaceutical Journal vol 265 no. 7118, p. 566-567, Oktober 14, 2000.

 


Kisah Apoteker di Apotek (1)

May 4, 2010

Seperti biasa, setiap akhir pekan mendapat giliran menjaga dan melayani konsumen di apotek. Pekerjaan yang menjadi ajang indikator sejauh mana profesi Apoteker dikenal dan dihargai di masyarakat. Hampir selalu didapati cerita-cerita riil yang tidak dapat ditemukan di dunia teori/perkuliahan.

Akhir pekan kemarin terdapat seorang bapak datang ke apotek mau beli asam mefenamat, dengan mantapnya saya ambilkan asam mefenamat yang ada di etalase (stok yang ada produksi I**of*r*a). Ketika saya sodorkan asam mefenamat tersebut, si Bapak langsung bertanya…biasanya bukan yang ini, tapi yang bentuknya kayak kapsul (si Bapak menjelaskan salah satu produk asam mefenamat yang mengarah pada produksi B**no*a**a)…

Terjadilah dialog…setelah dijelaskan bahwa yang berbeda hanya pabrik pembuatnya, tapi isi dan nama obatnya sama, si Bapak bertanya lagi, apakah ini asam mefenamat yang digunakan untuk mengobati sakit persendian? Saya mencoba menjelaskan bahwa indikasi utama asam mefenamat adalah antiperadangan, untuk mengilangkan rasa sakit, dan rasa ngilu. Eh si Bapak masih ngotot bertanya apakah asam mefenamat ini yang bisa digunakan untuk mengobati sakit sendi…saya jawab bisa Pak, tapi sebenarnya untuk sakit sendi ada obat lain yang lebih tepat…dan si Bapak pun memutuskan untuk pergi dari apotek tanpa membeli asam mefenamat yang saya sodorkan.

Cerita Bapak (calon pembeli) dengan asam mefenamat ini mengingatkan saya terhadap pernyataan salah satu dosen saya, seorang Prof. Dr lulusan Prancis yang mengatakan bahwa orang Indonesia tergolong “sakti-sakti”…karena menderita sakit tertentu diobati dengan obat yang kurang tepat indikasi, eh hasilnya tetap sembuh sehingga terjadi justifikasi-justifikasi yang kurang tepat dalam hal penggunaan obat.

Namun demikian, terlepas “sakti-saktinya” orang Indonesia, salah satu point besar yang patut menjadi perhatian dunia kesehatan kita adalah tentang edukasi penggunaan obat…dalam hal ini dituntut kontribusi dan peranan Apoteker yang maksimal. Kontribusi dan peran apoteker ini dapat dimulai dengan kehadiran apoteker yang intensif di apotek sehingga paradigma apoteker hanya numpang nama di apotek dapat tereliminasi…sehingga pelayanan apotek dapat “terstandarisasi” dengan pelayanan langsung oleh apoteker.

Menurut hasil benchmarking pendidikan farmasi di UK, di bidang farmasi masyarakat, apoteker bertanggung jawab pada penyediaan/pemenuhan resep obat, memberi penyuluhan kepada pasien dan memberi tanggapan terhadap gejala-gejala penyakit mereka, peningkatan kesehatan, dan pemeriksaan obat. Mereka memberikan pelayanan kefarmasian pada pemukiman dan rumah-rumah perawatan/jompo, dan mereka terlibat dalam upaya mengurangi bahaya penyalahgunaan obat dengan cara berpartisipasi dalam program pertukaran jarum dan pengawasan penggunaan obat. Pemakaian sistem komputer dalam peracikan menjamin agar interaksi obat, overdosis dan ketidaksesuaian dapat segera dideteksi sehingga memberi waktu lebih banyak bagi apoteker untuk memberi arahan kepada pasien serta petugas pelayanan kesehatan. Banyak apoteker yang langsung terlibatdalam memastikan supaya pasien memperolah resep yang paling tepat, dan supaya pasien termotivasi serta mengetahui cara menggunakan obat.

Referensi:
Anonim, Pharmacy Benchmarking, http://aptfi.or.id


Obat Sakit Gigi Menyebabkan Kantuk???

March 5, 2010

Sudah lama tidak meng-up load tulisan tentang serba-serbi apotek/apoteker, jadi pengen sharing lagi…seperti biasa, serba-serbi apotek/apoteker yang menarik diceritakan adalah bagaimana sampe sekarang pemahaman masyarakat tentang obat yang masih terkategorikan sangat rendah…

Cerita bermula ketika ada pembeli yang datang ke Apotek Samara dengan niatan mau membeli obat sakit gigi, berikut ini cuplikan percakapan yang terjadi:

Pembeli: “Bu, minta obat sakit giginya ya…tapi jangan yang menyebabkan kantuk…”
Apoteker: “Maksudnya gimana Pak..?”
Pembeli: “Kalo antalgin kan bisa menyebabkan kantuk? jadi minta yang bukan antalgin…”
Apoteker: “Pak, Antalgin tidak menyebabkan kantuk…Bla..bla….”
Akhirnya Bapak ini mendapatkan obat sakit gigi tanpa kuatir terserang kantuk…

Sang pembeli entah dapat info dari mana sehingga menyatakan kalau Antalgin dapat menyebabkan kantuk…seperti diketahui, efek samping Antalgin antara lain:

Infeksi lambung, hiperhidrosis; Retensi cairan dan garam; Reaksi alergi yang cukup sering terjadi: reaksi kulit dan edema angioneurotik; Efek samping yang berat: agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.

Berdasarkan percakapan di atas, menunjukkan untuk kesekian kalinya, betapa fungsi keberadaan Apoteker di apotek sungguh dibutuhkan masyarakat…supaya pemahaman masyarakat tentang obat semakin baik, supaya masyarakat semakin cerdas dalam melakukan pengobatan, supaya “kesalahan-kesalahan” informasi tentang obat di masayarakat bisa diluruskan, dan lain-lain.

Apoteker harus segera mengambil peran ini, peran yang sesuai dengan keilmuannya…bukankah selama 4 tahun kuliah sarjana dan 1 tahun kuliah profesi, Apoteker selalu di-suap-in dengan materi-materi terkait obat-obatan…akan sangat sayang kalau masa 5 tahun pembelajaran tersebut dibiarkan menguap begitu saja…


Biofarmasi, Salah Satu Jembatan Profesi Dokter dan Apoteker

June 7, 2009

Pada umumnya obat diberikan dalam bentuk sediaan seperti tablet, kapsul , suspensi dan lain-lain. Suatu bentuk sediaan obat terdiri dari bahan obat dan bahan-bahan pembantu yang tersusun dalam formula dan diikuti dengan petunjuk cara proses pembuatan. Kita mengetahui bahwa sangat banyak sediaan farmasi dengan obat, dosis dan bentuk sediaan yang sama, diproduksi oleh industri-industri farmasi dengan nama-nama yang berbeda.

Dengan berbagai alasan dari industri-industri, maka umumnya formula sediaan tersebut berbeda. Apakah perbedaan formula suatu sediaan obat dapat mempengaruhi kemanjuran obat dari sediaan tersebut?.

Pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an
bermunculan laporan, publikasi dan diskusi yang mengemukakan bahwa banyak obat-obat dengan kandungan, dosis dan bentuk sediaan yang sama dan dikeluarkan oleh industri farmasi yang berbeda memberikan
kemanjuran yang berbeda. Laporan-laporan dan publikasi-publikasi tersebut menyebabkan munculnya ilmu baru dalam bidang farmasi yaitu biofarmasi.

Riegelman, John Wagner dan Geihard Levy dikenal sebagai pelopor biofarmasi. Pada tahun 1961 dalam suatu artikel review di Journal of Pharmaceutical Sciences dikemukakan definisi biofarmasi sebagai berikut: “Biofarmasi adalah cabang ilmu farmasi yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisiko kimia dari bahan baku obat dan bentuk
sediaan dengan efek terapi sesudah pemberian obat tersebut kepada pasien”.
Perbedaan sifat fisiko kimia dari sediaan ditentukan oleh bentuk sediaan, formula dan cara pembuatan, sedangkan perbedaan sifat fisiko kimia bahan baku obat dapat berasal dari bentuk bahan baku (ester, garam, kompleks atau polimorfisme), dan ukuran partikel.

Menyadari akan perkembangan biofarmasi ini maka American College of Pharmacy Assosiation pada tahun 1968 memutuskan bahwa semua College/School of Pharmacy yang terakreditasi di Amerika harus mengadakan kuliah biofarmasi dan farmakokinetika dalam kurikulumnya.
Selanjutnya perkembangan ilmu biofarmasi, melihat bentuk
sediaan sebagai suatu “drug delivery system” yang menyangkut pelepasan obat berkhasiat dari sediaannya, absorpsi dari obat berkhasiat yang sudah dilepaskan, distribusi obat yang sudah diabsorpsi oleh cairan tubuh,
metabolisme obat dalam tubuh serta eliminasi obat dari tubuh. Proses yang disebutkan di atas dapat dilihat dari skema pemberian obat secara oral (misal tablet) berikut ini:

Kecepatan pelepasan obat dipengaruhi oleh bentuk sediaan, formula dan cara pembuatan sehingga bisa terjadi sebagian obat dilepas di saluran cerna dan sebagian lagi masih belum dilepas sehingga belum sempat diabsorpsi sudah keluar dari saluran cerna. Malah sekarang ini pelepasan obat dari sediaan bisa diatur atau dikontrol sehingga absorpsi bisa terjadi lama di saluran cerna, maka timbulah sediaan farmasi yang semula dipakai tiga kali sehari menjadi satu kali sehari. Umumnya obat yang sudah terlarut dalam cairan saluran cerna bisa diabsorpsi oleh dinding saluran cerna, tetapi di lain pihak obat yang sudah terlarut itu bisa terurai tergantung dari sifatnya, sehingga sudah berkurang obat yang diabsorpsi. Menyadari kenyataan ini maka munculah produk sediaan yang melalui kulit untuk tujuan pemakaian sistemik seperti untuk obat jantung, hormon, obat antimabuk, dan lain-lain. Tidak mungkin menempelkan obat di kulit berbulan-bulan,
apalagi bertahun-tahun, sehingga muncullah obat diimplantasi di bawah kulit seperti obat untuk keluarga berencana yang bisa bertahan sampai tiga tahun.

Sesudah obat didistribusikan dalam tubuh maka
konsentrasinya akan ditentukan oleh parameter farmakokinetikanya.Walaupun kita kontrol atau perlambat pelepasannya dari sediaan tetapi
kalau tidak memperhatikan parameter farmakokinetikanya bisa terjadi kadar obat di bawah MEC sehingga tidak memberikan kemanjuran. Biofarmasi dan farmakokinetika menjadi dasar utama dalam pekerjaan pengembangan
produk baru.

Suatu produk baru yang akan dikeluarkan oleh suatu industri haruslah diyakini kemanjurannya, sehingga perlu dilakukan uji kemanjuran. Ada beberapa uji produk yang dianggap memberikan gambaran terhadap kemanjuran sediaan tersebut yaitu uji secara in vitro, in situ dan in vivo
seperti ditunjukkan oleh bagan berikut ini:

Compendia seperti Farmakope hanya mensyaratkan uji in vitro terhadap produk obat seperti waktu hancur dan atau uji kecepatan disolusi obat dari sediaan untuk tablet/kapsul. Test in vitro ini tidak memberikan
jaminan terhadap kemanjuran produk tersebut. Uji farmakokinetika yang betul-betul memberikan jaminan. Tetapi untuk melakukan uji farmakokinetika suatu produk baru dari obat lama adalah terlalu lama, terlalu mahal dan hasilnya masih diperdebatkan. Cara yang terbaik adalah
melakukan uji bioavailabilitas yang merupakan ukuran kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi oleh tubuh. Uji bioavailabilitas ini haruslah uji bioavailabilitas komparatif terhadap produk innovator, yaitu suatu produk
yang sudah lama digunakan dan mendapat pengakuan pengalaman klinis dari para dokter.

FDA dari Amerika Serikat pada tahun 1975 telah menetapkan bahwa jika ada pabrik yang membuat sediaan yang telah dikeluarkan pertama oleh pabrik lain, maka pabrik yang ikut itu harus menunjukkan minimum sediaannya bioekivalen dengan produk inovatornya.

Fakultas kedokteran memperkenalkan Farmakokinetika lewat kuliah Farmakologi, sedang Biofarmasi belum dianjurkan. Hal ini teramati di industri-industri farmasi, yaitu produk-produk manager yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter, mereka mengakui tidak mengetahui tentang Biofarmasi. Sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan, kalau seorang dokter sudah memeriksa
penyakit seseorang dan menentukan obat berkhasiatnya, Siapa yang tepat untuk memilih produk obat mana yang akan dipakai? Sesuai aturan dan etik, resep dokter adalah
suatu permintaan dokter kepada farmasis untuk memberikan obat yang ditulis dalam resep.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik
Indonesia telah mensyaratkan data bioavailabilitas untuk obat baru yang akan dibuat oleh suatu pabrik farmasi terutama untuk obat jantung. Bioavailabilitas merupakan salah satu bahasan penting dalam bidang biofarmasi. BPOM
akan melaksanakan persyaratan bioavailabilitas ini secara bertahap karena terbatasnya laboratorium uji bioavailabilitas di Indonesia. Usaha BPOM ke arah kesempurnaan perlu didukung, karena pabrik Farmasi di Indonesia umumnya mengeluarkan “me too” produk (produk ikut-ikutan).

(disarikan dari makalah pidato purna tugas Prof.Dr. Fauzi Sjuib, Apt, Guru Besar Farmasi ITB)


Polemik Puyer: Maju Terus RCTI

February 24, 2009

Beberapa waktu lalu ketika RCTI awal-awal menanyangkan liputan khususnya yang bertajuk POLEMIK PUYER, saya agak sedikit geregetan…karena dalam beberapa kali wawancara dengan nara sumber, belum sekalipun ditampilkan sosok apoteker sebagai salah satu profesi kesehatan yang katanya paling tahu tentang obat.
Tetapi, beberapa hari ini hati saya berubah menjadi simpatik dan malah sekarang punya harapan baru terhadap RCTI. Ya, beberapa hari ini POLEMIK PUYER mengarah kepada posisi dan peran Apoteker di apotek…saya mendukung sekali langkah RCTI ini.
Selama ini ISFI sebagai satu-satunya organisasi profesi apoteker di Indonesia sudah menyuarakan dan meng-harus-kan anggotanya (apoteker) untuk melakukan pelayanan kefarmasian yang tiada apoteker tiada pelayanan (TATAP)…tapi pelaksanaannya????:)
Semoga dengan tayangan RCTI beberapa hari ini dan ke depan dapat menggugah hati para rekan sejawat apoteker dan juga pengambil kebiijakan terkait masalah pelayanan apoteker di apotek.
Semoga dengan tayangan RCTI ini juga dapat meluruskan duduk masalah pelayanan kesehatan di Indonesia yang terurai bagai benang kusut, yang ruwet dan sulit diluruskan…semua profesi kesehatan punya alibi pembenaran praktek profesinya, padahal UU sudah dibuat sedemikian rupa.
Mudah-mudahan dengan tayangan RCTI ini, segenap profsesi kesehatan menjadi terbuka dan berbenah diri…terutama hubungan dokter dan apoteker…sehingga dokter dan apoteker dapat benar-benar menjadi mitra yang sejajar dalam memberikan pelayanannya kepada pasien/konsumen.
Mudah-mudah dengan tayangan RCTI ini masyarakat semakin cerdas dan terbuka bahwa dalam urusan kesehatan melibatkan beberapa komponen terkait, tidak hanya dokter…sehingga masyarakat bisa semakin sadar bahwa ada profesi apoteker yang banyak mendalami tentang obat-obatan, juga ada perawat yang jago dalam merawat pasien, dan lain-lain.
Buat teman-teman apotekerku tercinta, ayo berbenah diri…