Membayangkan Status Dosen seperti Pemain Bola

July 7, 2017

Beberapa waktu lalu, diriku kaget ketika salah seorang sahabat bilang akan pindah ke kampus negara lain, sahabat ini baik banget dan sangat kekeluargaan. Seorang sahabat yang sering ketemu di masjid, seorang sahabat yang menjadikan kami dekat karena posisi minoritas di negeri ini. Seorang sahabat yang keluarganya pun menjadi dekat dengan keluarga kami karena didekatkan oleh persamaan akidah. Seorang sahabat ini juga seorang Associate Professor di University of Twente, posisi yang satu strip lagi akan menjadi full Professor. Sahabat ini akan pindah ke salah satu universitas ternama di Arab Saudi dengan status yang sama, Associate Professor.
Sebelumnya, salah seorang Associate Professor di departemenku juga pindah ke lain departemen di universitas yang sama.
Dua penggalan kisah ini, yang kebetulan terjadi sangat dekat di sekitarku, menggambarkan bagaimana pergerakan mobilitas dosen sangat dinamis. Dinamisnya fenomena hijrah dosen dari satu universitas ke universitas yang lain merupakan sesuatu yang lazim di beberapa negara. Dosen ibarat pemain bola, yang dapat hijrah sewaktu-waktu tergantung kesepakatan pemain dan antara kedua klub (yang baru dan yang lama).
Saya membayangkan, seandainya perpindahan dosen di NKRI seperti di negara lain, seperti pemain bola di liga, mungkin akan membuat iklim perdosenan dan perguruan tinggi akan menghangat, rame, dan harapannya akan membuat kualitas universitas-universitas di Indonesia juga menjadi lebih baik. Ibarat klub bola, klub tersebut akan berlomba-lomba menghimpun pemain-pemain yang berkualitas dengan tujuan klubnya menjadi nomer satu, menjadi yang terbaik sehingga akan dilirik oleh para sponsor dan selalu dipenuhi penonton ketika klub tersebut bertanding. Ketika semakin banyak klub baik yang bertanding, pertandingan pun akan semakin menarik, kualitas liga di negara tersebut akan ikut meningkat kualitasnya, dan kualitas tim nasional negara tersebut juga baik. Dapat dilihat, betapa negara-negara Eropa mendominasi persepakbolaan dunia, salah satu faktornya adalah kualitas liga di negara-negaranya yang yahud.
Kembali ke bayanganku tentang status dosen di negaraku tercinta, ketika dosen diibaratkan pemain bola, maka dosen-dosen akan berlomba-lomba menunjukkan performa terbaiknya supaya dilirik oleh kampus-kampus terbaik di negeri ini. Universitas tinggal mencari dan menarik dosen-dosen bertalenta yang produktif menghasilkan publikasi, karya ilmiah, paten, dan lain-lain dengan harapan kampusnya semakin bereputasi secara nasional dan internasional.
Ketika dosen seperti pemain bola, kesejahteraan dosen pun linier dengan prestasinya. Semakin baik prestasinya, kompensasi finansial yang akan diterima pun juga akan semakin baik. Tatkala dosen yang berprestasi dengan kompensasi yang mumpuni semakin banyak jumlahnya, dunia perguruan tinggi di Indonesia pun akan semakin bereputasi. Mengingat faktor SDM (dosen) merupakan salah satu faktor utama kualitas suatu universitas.


Saatnya Kampus-kampus di Indonesia Berbenah

September 19, 2016

Pada periode akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an, dosen-dosen ITB, UGM, dan UI banyak diperbantukan mengajar di kampus-kampus di Malaysia, yang kebetulan waktu itu Malaysia sedang membangun dunia perguruan tingginya. Mereka mendatangkan dosen-dosen dari Indonesia dan menyekolahkan putra-putri terbaiknya untuk studi lanjut (S2 dan S3, bahkan postdoctoral) di Inggris. Namun kini, kurang lebih satu dekade ke belakang ini, perguruan tinggi Malaysia sudah tidak lagi melirik perguruan tinggi Indonesia, mereka melesat meninggalkan kita. Berdasarkan data Scimago Journal and Country Rank (2015), Indonesia berada di peringkat 57 sedangkan Malaysia di berada di peringkat 35. Peringkat Malaysia ada kemungkinan akan naik lagi mengingat dosen-dosennya sangat produktif dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi.

Produktivitas dosen dalam menghasilkan publikasi di jurnal internasional bereputasi ini menurut penulis tidak semata-mata karena faktor internal dari diri dosen itu sendiri. Indonesia telah memiliki banyak dosen lulusan luar negeri yang tidak kalah pandai jika dibandingkan dengan dosen-dosen Malaysia. Sebaran negara tempat dosen-dosen Indonesia menimba ilmu pun cukup merata di hampir seluruh penjuru dunia, berbeda dengan Malaysia yang cenderung banyak di negara-negara persemakmuran Inggris. Dosen-dosen Indonesia yang lulusan luar negeri pun sudah cukup familiar dengan publikasi di jurnal internasional bereputasi, mengingat hal itu menjadi syarat utama mereka dalam meraih derajat kelulusan studinya.

Jumlah dosen Indonesia lulusan luar negeri semakin banyak seiring dana beasiswa pendidikan Indonesia (BPI) yang digulirkan oleh LPDP. Dengan memiliki dosen lulusan luar negeri yang banyak seharusnya jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional bereputasi pun banyak, namun kenyataannya belum seperti yang diharapkan. Hal ini mengindikasikan harus ada yang diperbaiki dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Perlu dipikirkan dan dirancang sistem dan program sedemikian rupa supaya produktivitas publikasi dosen-dosen Indonesia di jurnal internasional bereputasi semakin tinggi, peringkat kampus-kampus Indonesia semakin bagus, iklim riset dan inovasi di Indonesia semakin baik sehingga nama Indonesia diperhitungkan oleh negara lain di dunia.

Strategi dan program ini seyogyanya dibuat dan dirancang secara matang dan dibuat secara berkesinambungan. Beberapa waktu lalu sempat ramai di media massa tentang wacana mendatangkan “rektor asing” ke Indonesia sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan reputasi dan memperbaiki kinerja kampus di Indonesia. Hal ini menurut penulis agak ironi jika melihat banyaknya jumlah dosen Indonesia lulusan luar negeri dan banyaknya putra-putri terbaik bangsa yang “terpaksa” mengabdikan dirinya di kampus negara lain.

Indonesia memiliki banyak putra-putri terbaik bangsa yang brilian dan kepakarannya mendunia, sudah selayaknya orang-orang ini diberdayakan dan diberi kesempatan mengabdikan dan mendarma baktikan kemampuannya untuk kemajuan bangsa ini tercinta. Seperti halnya Malaysia yang saat ini menggunakan sumber daya lokal mereka untuk mengembangkan dan memajukan dunia pendidikan tingginya.

Yang perlu dipertimbangkan juga adalah bagaimana caranya supaya kampus-kampus di Indonesia dapat memperbaiki diri dan mengembangkan kampusnya hingga benar-benar layak disebut bertaraf internasional. Penulis sepakat dengan kebijakan LPDP yang memperbesar kuota BPI menjadi 60% untuk  studi lanjut di kampus dalam negeri, dengan harapan kampus-kampus di dalam negeri dapat berbenah. Pembenahan kampus ini dapat dilakukan antara lain dengan peningkatan fasilitas laboratorium penelitian di kampus, peningkatan akses ke jurnal internasional, peningkatan dana riset terutama untuk kolaborasi riset internasional, peningkatan dana perkuliahan sehingga memungkinkan kampus di Indonesia bertukar pengalaman belajar dan mengajar dengan kampus lain di luar negeri, dan lain-lain.

Menurut penulis pengalihan dana beasiswa luar negeri ke pembenahan kampus di dalam negeri sangat perlu dilakukan supaya secara lembaga, dunia kampus kita ikut membesar dan menjadi lebih baik. Dengan model beasiswa studi lanjut ke luar negeri, Indonesia relatif inferior terhadap negara tempat studi lanjut dan biayanya juga relatif besar. Agak sedikit berbeda ketika dana tersebut sedikit dialihkan untuk peningkatan riset kolaborasi internasional, dosen kita dapat melakukan penelitiannya selama sekian bulan di kampus di luar negeri yang sifatnya relatif sejajar sehingga nama kampus dan nama negara Indonesia tidak terlalu inferior. Sesekali dosen Indonesia magang di kampus lain di luar negeri sehingga dosen Indonesia yang dapat merasakan atmosfer akademik di luar negeri semakin banyak, harapannya dapat dikembangkan di kampusnya setelah program magang selesai.

Yang paling utama dan menjadi pijakan untuk pengembangan dunia riset dan inovasi di kampus-kampus di Indonesia adalah peningkatan fasilitas penelitian. Saat ini alat-alat dan laboratorium penelitian yang ada di kampus-kampus di Indonesia relatif sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain (termasuk Malaysia), padahal untuk dapat menghasilkan penelitian-penelitian yang bagus dan bereputasi sangat tergantung terhadap alat dan laboratorium yang digunakan. Banyak dosen-dosen yang baru lulus dari luar negeri gagap ketika tiba di Indonesia melihat kondisi laboratorium penelitiannya.

Dengan berbenahnya kampus-kampus di Indonesia, kita berharap dunia perguruan tinggi Indonesia menjadi lebih baik dan disegani di tataran dunia. Ketika kampus-kampus Indonesia benar-benar bertaraf internasional, kita akan cukup percaya diri bersaing dengan kampus-kampus dari negara lain sehingga orang-orang Indonesia tidak perlu jauh-jauh berkuliah di negeri orang bahkan kita dapat mendatangkan warga negara asing untuk berlomba-lomba kuliah di Indonesia. Dosen-dosen Indonesia dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dengan program-program kursus/pelatihan singkat di luar negeri, kolaborasi riset dengan kampus lain di luar negeri, dan mengikuti program postdoctoral di luar negeri. Kalaupun ada dosen/orang Indonesia yang studi lanjut (S2 atau S3) ke luar negeri memang semata-mata karena tidak ada kampus di Indonesia yang mampu memfasilitasi terkait studi lanjutnya tersebut.


Ke Indonesia Ku Kan Kembali

March 3, 2016

2016-02-03 12.09.33

 Tuntutan menjadi seorang dosen saat ini adalah harus berpendidikan S3 (doktoral), jika tidak ingin tergerus oleh zaman. Saya pun berkeinginan ingin merasakan pendidikan di luar negeri dalam salah satu jenjang pendidikan saya. Alhamdulillah keinginan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT sebagai penguasa dan pemilik alam ini. Saat ini saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa Ph.D (S3) di salah satu kampus di Belanda, University of Twente, kampus yang juga meluluskan Hadi Susanto, salah satu orang Indonesia yang bersinar di luar negeri. Hadi Susanto (saat ini menjadi Associate Profesor di University of Essex UK), penulis buku “Tuhan Pasti Ahli Matematika” pendidikan S2 dan S3 ditempuh di kampus yang terletak di kota Enschede, salah satu kota di ujung timur negeri kincir angin.

Di kampus ini, saya ditempatkan satu ruangan dengan 3 mahasiswa yang berasal dari Ukraina, Turki, dan Polandia. Mereka terlihat lebih muda daripada saya, karena memang mereka jauh lebih muda daripada saya.. hehehe. Orang-orang Eropa tidak harus menjadi dosen terlebih dahulu jika ingin sekolah S3, dan 3 teman seruangan saya pun demikian, tergolong “free player”, belum terikat dengan instansi manapun.

Etos kerja mereka (seperti kebanyak orang-orang Eropa) sangat efektif dan efisien. Jika waktunya istirahat ya istirahat, jika waktunya bekerja ya bekerja, jika tidak ingin diganggu mereka akan menggunakan headphone-nya. Jika di ruangan tidak mengenakan headphone berarti mereka sedang tidak serius, dan biasanya bisa diajak bicara/diskusi.

Dari beberapa kali diskusi dengan mereka, ada yang menarik ketika sampai pada pembahasan setelah lulus S3, rencana mereka bagaimana. Jawaban dari rekan yang berasal dari Turki dan Ukraina sama, yang Polandia belum sempat mengutarakan rencananya, karena yang dari Polandia ini relatif jarang terlihat di kampus. Teman seruangan yang dari Ukraina dan Turki ternyata sama-sama tidak berkeinginan kembali ke negara asalnya. Mereka cukup kaget ketika saya menjawab dengan mantap bahwa saya pasti akan kembali ke negara asal saya, Indonesia tercinta.

Saya ceritakan kepada mereka bahwa Indonesia itu ibarat surga dunia, banyak daerah yang memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan, sumber daya alamnya luar biasa, perubahan iklimnya tidak seekstrim Eropa, keanekaragaman hayati dan mineralnya sangat melimpah, dan lain-lain. Dengan mantap saya katakan kepada mereka “I will back to Indonesia and I have to develop my country”. Mereka bertanya, “bagaimana Anda akan membangun negara Anda?” saya jawab, “saya dosen, saya akan berusaha menyampaikan dan mentransformasikan ide-ide saya kepada mahasiswa dan berkarya lewat penelitian-penelitian dan pengabdian masyarakat yang bermanfaat bagi bangsa ini”. Mereka bertanya lagi, “bagaimana anda akan mengubah orang-orang tersebut?” saya menjawab, “yang penting saya berusaha menyampaikan dan mempersuasi, apakah orang tersebut berubah atau nggak itu adalah urusan orang tersebut”.

Iya, tanah air tercinta Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan kekayaan alam dan heterogenitas budaya dan sumber daya manusianya sangat layak menjadi negara besar yang disegani di dunia, tentunya ketika masing-masing sumber daya tersebut (alam dan manusia) dikelola dan dimanage dengan baik. Ke Indonesia Ku Kan Kembali…


Bahan Baku Obat di Indonesia Mayoritas Masih Impor

December 2, 2014

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati nomer 1 di dunia, tetapi sampai saat ini masih banyak mengimpor bahan baku obat. Ini menjadi ironi, karena yang diimpor tidak hanya bahan aktif, tetapi juga bahan pembantu (eksipien).
Padahal secara kemampuan, bangsa ini mampu untuk memproduksi bahan-bahan baku obat tersebut secara mandiri. Banyak sekali bahan hasil pertanian yang ketika diolah akan mampu menjadi bahan baku obat yang prospektif. Hasil laut dan perikanan pun demikian. Secara sumber daya manusia, saat ini kita sudah memiliki banyak sekali pakar-pakar farmasi yang mampu memproduksi bahan-bahan baku obat tersebut.
Apabila hal ini dikelola dengan baik dan didukung oleh kebijakan penuh pemerintah, maka sangat terbuka peluang negara Indonesia ini menjadi negara yang benar-benar disegani di dunia.