Dosen dan Tugas Belajar di LN

December 22, 2017

Pada jaman now, dosen dituntut untuk berpendidikan doktoral (S3) di Indonesia. Ini perlu saya sebutkan karena di negara maju aturan ini sudah lama diberlakukan. Idealnya memang seorang dosen harus berpendidikan doctor mengingat tugasnya yang cukup berat, mencerdaskan kehidupan bangsa di level pendidikan tinggi.

Namun untuk dapat langsung sekolah hingga ke jenjang doctoral (S3) dengan biaya sendiri sangatlah berat buat ukuran ekonomi saya. Bahkan lanjut ke S2 pun masih berat, dan ini yang menjadi salah satu motivasi saya beralih profesi dari industriawan (kerja di industry farmasi) menjadi akademisi. Dengan menjadi dosen, saya dapat meneruskan studi S2 dan S3 menggunakan dana beasiswa.

Alhamdulillah pendidikan S2 dapat saya selesaikan tepat waktu menggunakan dana beasiswa BPPS (waktu itu namanya demikian) dan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dengan posisi harus bolak-balik Purwokerto-Jogja setiap pekan, tahapan ini dapat saya lewati.

Tantangan berikutnya adalah pendidikan S3, alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa LPDP untuk meneruskan studi doktoral di negeri Belanda. Negeri yang kecil secara geografis tapi kualitas pendidikan, produktifitas dan kemajuan negaranya selalu menduduki peringkat 10 besar dunia. Di sini saya merasakan tantangan yang seolah-olah seperti mimpi. Hidup di lingkungan baru, iklim dan cuaca yang sangat kontras dengan Indonesia, budaya yang berbeda dengan Indonesia, serta bahasa yang berbeda. Sesuatu yang harus ditaklukkan dan dikondisikan untuk membantu lancarnya proses studi yang sedang saya tempuh.

Pendidikan doctoral di Belanda rata-rata mensyaratkan 4 publikasi supaya dapat dinyatakan lulus. Sudah pasti, level jurnalnya adalah Q1 dan ber-impact factor tinggi. Target yang mengharuskan kami untuk terus bekerja dan belajar sepanjang masa studi ini. Bahkan, kebetulan saya mendapatkan supervisor yang sesuai slogan Pak Jokowi, “kerja, kerja, dan kerja”.

Namun demikian, banyak yang mengira bahwa orang-orang yang sedang studi lanjut di luar negeri (LN) itu enak dan indah, “hanya”dengan melihat postingan foto sedang jalan-jalan di media sosial. Saya pun demikian, banyak kolega yang bilang “enak ya, sekolah di Eropa bisa jalan-jalan”dengan enteng saya menjawab “itu pencitraan”, saya sambung lagi “jika saya posting yang susah-susah atau hal-hal yang sedih, nanti malah nggak ada yang mau studi lanjut di LN”.

Sebagai dosen yang sedang menempuh studi lanjut S3, status saya pun menjadi Tugas Belajar (Tubel). Status yang sarat makna, karena misi, beban, dan tanggung jawab dari institusi melekat dalam diri saya, termasuk membawa nama baik tanah air tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan status tersebut, selain belajar dan bekerja secara serius supaya dapat memenuhi standar kelulusan dari supervisor, saya selalu berusaha mengenalkan reputasi institusi dan NKRI. Saya memaknai tugas belajar bagi pengembangan diri saya sendiri dan pengembangan institusi dan negara. Apalah artinya jika diri ini berkembang tetapi tidak dapat memberikan kontribusi signifikan bagi institusi dan negara.

Di University of Twente saya masuk dalam grup riset Targeted Therapeutics yang orang-orangnya berisikan dari berbagai negara. Promotor utama dari Belanda, co-promotor dari India, teman seruangan semuanya dari Jerman. Selama berinteraksi dengan mereka, saya selalu berusaha mengenalkan institusi dan NKRI. Alhamdulillah, 4 November 2017 kemarin Promotor berkenan mengisi kuliah umum di kampus tercinta, Unsoed Purwokerto. Selama dan setelah pulang dari Purwokerto, beliau menangkap kesan bahwa “Indonesia bukan negara miskin, tapi kesenjangan sosialnya sangat lebar antara si kaya dan si miskin”. Beliau sangat antusias dengan NKRI, bahkan beliau tertarik untuk memperbanyak PhD student dari NKRI. Beliau juga antusias jika ke depan terjalin kolaborasi dalam hal riset dan pendidikan antara Unsoed dan University of Twente/University of Utrecht.

Kepada teman-teman seruangan yang semuanya berasal dari Jerman, saya panasi mereka supaya memasukkan Indonesia ke dalam daftar destinasi liburan mereka. Mereka pun setuju, “oke suatu saat nanti aku pasti akan ke Indonesia, tentunya akan lebih asyik jika kamu (saya) sudah tinggal di Indonesia”. Akhirnya kita pun sepakat, suatu saat nanti, kita akan hiking bareng keluarga di Puncak Semeru. Dan saat tulisan ini saya buat, salah satu master student di grup riset kami yang juga berasal dari Jerman sedang berlibur di Bali. Dia ingin membuktikan apakah benar Indonesia seindah promosinya di CNN international. Upaya-upaya promosi semacam ini perlu dilakukan supaya kolega-kolega internasional dapat mengetahui sendiri bahwa NKRI tidak seburuk yang sering diberitakan di beberapa media internasional.

Itu sekelumit cerita tentang diriku sebagai dosen yang saat ini sedang menjalani tugas belajar studi S3 di negeri Belanda. Tugas yang oleh beberapa orang dianggap seperti melakukan studi lanjut di dalam negeri, padahal kenyataannya tidak demikian. Ibarat sepak bola, antara liga-liga di dunia ini sejatinya kompetisi dan levelnya tidak sama.

 

 

 

 

 

Advertisements