Memilih Pemutih Kulit yang Baik

June 30, 2010

Salah satu tanda kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa adalah diciptakan-Nya manusia dengan keanekaragaman warna kulitnya. Yang membedakan warna kulit manusia yang satu dengan yang lain, selain faktor genetik, juga dipengaruhi faktor lain, seperti iklim dan cuaca.

Kulit yang putih dan bersih menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi orang-orang yang kurang percaya diri dengan warna kulit mereka. Orang-orang ini pun melakukan beberapa upaya untuk membuat kulitnya menjadi putih bersih dan menarik.

Istilah skin whitening, skin lightening, dan skin bleaching mencakup berbagai metode kosmetika yang digunakan sebagai usaha untuk memutihkan atau mencerahkan kulit.

Pencerahan atau pemutihan kulit merupakan bahasan yang kontroversial karena terkait erat dengan efek yang merusak pada kesehatan, identitas, citra diri, supremasi rasial dan mentalitas colonial (Malangu, 2004). Terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa beberapa jenis produk pemutih kulit menggunakan bahan aktif (seperti merkuri klorida) yang berbahaya. Namun demikian, juga terdapat formula pemutih kulit yang tidak mengandung bahan kimia berbahaya bagi kulit dan aman untuk digunakan (Allen, 2003).

Saat ini, produk pemutih kulit tersedia dalam bentuk krim, pil, sabun, atau lotion. Mekanisme pemutihan permanen biasanya oleh pemecahan melanin oleh enzim, sebagaimana kerja reduktor seperti hydroquinone.

Hydroquinone adalah inhibitor yang kuat terhadap produksi melanin, yang berarti mencegah kulit untuk membuat senyawa yang bertanggung jawab terhadap warna kulit (Yoshimura et al., 2001). Hydroquinone tidak memutihkan kulit tapi mencerahkan, dan hanya dapat mengganggu sintesis dan produksi hiperpigmentasi melanin. Hidrokuinon telah dilarang di beberapa negara (misalnya Perancis) karena kekhawatiran terhadap risiko kanker.

Kebanyakan krim pemutih juga mengandung suatu blok UV untuk mencegah kerusakan akibat sinar matahari pada kulit (Nakano, 2009). Perkembangan produk pemutih kulit semakin bertambah banyak seiring berkembangnya zaman.

Bahaya produk pemutih kulit yang ditemukan di pasaran

Krim pemutih kulit yang ditemukan di pasaran kebanyakan berisikan senyawa turunan merkuri, hidroquinon dan steroid topikal. Tabel di bawah menunjukkan beberapa efek yang merugikan akibat penggunaan produk pemutih kulit yang mengandung senyawa-senyawa tersebut.

Tabel 1. Efek membahayakan senyawa-senyawa pemutih kulit

Turunan merkuri Seperti masalah neurotoksik ataksia, ucapan dan gangguan pendengaran; masalah mental seperti mudah tersinggung, fearfulness, dan depresi; masalah ginjal seperti merkuri-induced nephropathy; dan immunotoksisitas
Sediaan hidrokuinon Ochronosis, sebuah perubahan warna biru-hitam yang disebabkan oleh endapan pigmen berwarna oker. Hyperchromia, kehadiran sel darah merah dengan peningkatan secara abnormal jumlah sel hemoglobin. Hypochromia, suatu kandungan sel hemoglobin yang rendah secara abnormal. Neuropathy, penyakit sistem saraf.
Produk topical steroid Kontak eksim, infeksi bakteri dan jamur, Cushing’s syndrome, jerawat, atrofi kulit dan gangguan pigmentasi.

Tergantung pada produk-produk yang digunakan, jangka waktu, dan cara penggunaan, pemutih kulit menghasilkan beberapa efek yang berbahaya seperti yang ditunjukkan di atas. Beberapa efek ini tidak muncul dengan cepat, dan beberapa dikenal meniru pola penyakit. Telah dilaporkan bahwa sampai 69% dari mereka yang memutihkan kulit menderita setidaknya satu komplikasi (Malangu, 2004).

Pemutih kulit yang menggunakan bahan baku dari alam

Menyadari bahaya yang diakibatkan oleh senyawa-senyawa kimia untuk pemutih kulit sebagaimana yang tertulis dalam tabel di atas, maka sekarang juga dikembangkan produk pemutih kulit yang menggunakan bahan baku dari alam. Hipotesis yang digunakan adalah bahan alam relative memiliki efek samping yang jauh lebih sedikit dibandingkan senyawa kimia sintetis. Bahan alam yang banyak digunakan sebagai pemutih kulit antara lain: buah bengkoang, jeruk nipis, madu, minyak almond, oatmeal, jus tomat, susu, daun mint, dan lain-lain.

Bahan alam-bahan alam tersebut sebagai pemutih kulit dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi. Namun demikian, penggunaan bahan alam sebagai pemutih ini masih terbatas, karena produknya yang dibuat secara fabrikasi masih sedikit sehingga kebanyakan masih digunakan secara tradisional/konvensional yang cenderung kurang praktis.

Kesimpulan

Oleh karena itu, dalam memilih pemutih kulit yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut: peringkat konsumen, keamanan produk, kualitas bahan, reputasi perusahaan, reorder rates, dan pelayanan pelanggan.

Referensi:

Ntambwe, Malangu, 2004, Why is skin lightening practiced?, Science in Africa magazine, National School of Public Health at the Medical University of South Africa.

Counter, S. Allen, 2003, Whitening skin can be deadly, Boston Globe, 16 Dec 2003.

Glenn, Evelyn Nakano, 2009, Shades of Difference: Why Skin Color Matters. Stanford University Press., pp. 177–188.

Yoshimura K., Tsukamoto K., Okazaki M., Virador V.M., Lei T.-C., Suzuki Y., Uchida G., Kitano Y., Harii K., 2001, Effects of all-trans retinoic acid on melanogenesis in pigmented skin equivalents and monolayer culture of melanocytes, Journal of Dermatological Science, Volume 27, Supplement 1, August, pp. 68-75(8).

Advertisements

Owner Apotek SAMARA Siaran di RRI

September 3, 2008

Insya Allah besok, Kamis 4 September 2008 pukul 10.00 – 11.00 WIB Owner Apotek Samara (Yudyawati, Apt.) akan melakukan siaran udara di RRI Purwokerto.

Pada siaran ini, Ibu Iyut –panggilan sehari-hari owner Apotek Samara ini– akan mengangkat tema pengobatan keluarga secara mandiri. Tema sederhana, tapi kita semua sangat memerlukannya.

Sang Owner yang Apoteker ini sejak kuliahnya dikenal sebagai mahasiswa yang antusias dengan masalah-masalah aktual kesehatan. Sewaktu kuliah –di Farmasi ITB– beliau juga sering terlibat dalam penggodokan materi Pharmacy on Air yang siaran setiap pekan di Radio Ganesha Bandung.


Carut Marut Dunia Kesehatan Indonesia

August 8, 2008

Belum lama ini dua tokoh di negara ini yaitu Dr Syahrir anggota Dewan Pertimbangan Kepresidenan dan Bapak Rachmad Halim pemilik pabrik rokok Gudang Garam meninggal dunia. Perlu diperhatikan di sini adalah kedua tokoh nasional itu meninggal di rumah sakit yang sama. Mount ELizabeth Hospital Singapura. Bukan di rumah sakit dalam negeri.

Pertanyaannya ada apa dengan rumah sakit di negeri ini?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa semakin banyak orang kaya Indonesia yang lebih memilih untuk berobat di luar negeri. Terutama di Singapura. Meski secara hitungan memakan biaya yang jauh lebih besar. Meski secara hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan harapan. Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Hak memilih rumah sakit memang ada di tangan pasien karena sudah menyangkut hidup dan mati seseorang. Tidak ada pemerintah suatu negara di dunia ini yang bisa mengharuskan warganya untuk memilih rumah sakit dalam negeri. Untuk itu pemerintah, khususnya Menteri Kesehatan, harus mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

Evaluasi harus dilakukan mulai dari proses pendidikan tenaga medis. Baik itu pendidikan dokter, perawat, analis, dan lain-lainnya. Semua orang sudah mengetahui bahwa dibandingkan tenaga medis yang lainnya modal yang harus dikeluarkan untuk menempuh pendidikan kedokteran jauh lebih mahal.

Mulai dari sini terbentuklah penggolongan. Para calon dokter adalah kaum elitis. Anggapan saya ini bisa saja dibantah. Tapi, lihat saja kenyataan di lapangan. Banyak sekali mahasiswa kedokteran yang  naik mobil bagus saat kuliah dengan jas putih (sengaja dipajang) di jok mobilnya.

Dengan modal yang besar itu wajar saja bila setelah lulus seorang dokter ingin agar segera balik modal. Dan, ini menjadi sasaran empuk bagi  perusahaan farmasi. Keinginan balik modal itu didukung dengan sikap elitis yang terbentuk selama masa kuliah menimbulkan budaya yang sangat tidak sehat.

Belum lagi bila kita bicara tentang manajemen sebuah rumah sakit. Kaidah orang yang tepat untuk posisi yang tepat sama sekali tidak dijalankan. Banyak di rumah sakit yang saya jumpai direktur keuangan ditempati oleh seorang dokter. Bukan dari orang yang mengerti tentang arus keluar masuknya uang. Manajer IT bukan ditempati oleh seorang yang sudah berpengalaman tentang masalah jaringan komputer. Tetapi, juga oleh seorang dokter.

Untuk mensiasati hal semacam ini ditunjuklah seorang asisten manajer yang mengatur semuanya. Atasan tinggal tanda tangan. Bisa dibayangkan rumitnya birokrasi di sebuah rumah sakit. Belum lagi adanya kemungkinan untuk melakukan tindakan kolusi.

Pernah istri saya harus masuk rumah sakit saat sedang liburan di Jakarta. Waktu itu hari Sabtu, dan saya hanya berencana untuk mendapatkan perawatan selama dua hari karena tiket pesawat saya untuk pulang ke Semarang sudah dijadwalkan hari Minggu sore. Saat saya mengurus administrasi kepulangan tercantum biaya kunjungan dokter sebanyak dua kali kunjungan. Padahal hanya satu kali. Itu pun tiga jam setelah istri saya masuk ruang perawatan.

Waktu itu saya berpikir daripada ribut toh hanya Rp 70,000 untuk sekali visit sehingga saya memilih membayar saja. Di sini timbul kesan kuat bahwa pasien diperlakukan sebagai obyek dan bukan sebagai subyek. Maka tidak mengherankan bila sekarang makin banyak orang Indonesia yang pergi ke Singapura untuk berobat. Karena di sana pasien ditempatkan sebagai subyek.

Hanya sedikit pasien di negeri ini yang menjadi subyek saat dirawat di rumah sakit. Salah satunya Almarhum Bapak Soeharto. Bayangkan saja, dokter-dokter spesialis yang merawat almarhum sampai bersedia mendorong kasur hingga lobby. Termasuk berteriak-teriak pada wartawan supaya tidak menghalangi jalan. Sebuah perlakuan yang tidak akan  mungkin didapatkan oleh rakyat biasa seperti saya.

Masih banyak permasalahan yang ada. Tetapi, tidak mungkin untuk menulis semuanya di sini. Bila ini diterus-teruskan bagaimana kualitas kesehatan bangsa ini?

Didik Sukarno Hadi – suaraPembaca (www.detik.com)